Selasa, 09 Februari 2016

DIAM (BAIT RINDU TERAKHIR)

Diamku seribu bahasa cinta
Diamku seribu bahasa rindu

Aku tahu tak seharusnya cinta ini mulai tumbuh
Bahkan belum saatnya rindu ini hadir
Aku mengerti jika kau tak mau mengerti ini
Tapi bisakah ku simpan rinduku ini?
Sekedar memendamnya, aku tak lagi kuasa

Jumat, 02 Oktober 2015

BERTEMU DENGANMU.



Aku ingin bertemu denganmu, sekali lagi
Meski dalam diam, tanpa suara
Duduk, menikmati secangkir kopi

Aku ingin bertemu denganmu, sekali lagi
Duduk, diam, berdua

Iya, hanya diam.
Hening dan sepi tapi dalam hiruk pikuk pikiran masing-masing

PERJALANAN PANJANG PERBURUAN KOS-KOSAN



Udah lama ane nggak ngisi blog. Pas dibuka isinya sarang laba-laba, kecoa, dan debu setebal make upnya Syahrini. Banyak cerita yang ane lewatkan untuk ngisi coretan blog ini. Tapi kali ini, ane mau cerita tentang perjalanan terjauh ane naik motor. Semua bermula dari urusan magang.
Kejadian ini bermula satu bulan yang lalu. Awalnya ane mau magang di stasiun TV deket rumah ane, itung-itung sambil liburan karena waktu libur ane tersita untuk program KKN di desa. Seiring informasi yang ane dapat, ternyata di stasiun TV tujuan ane kurang greget. Katanya sih magangnya anak perguruan tinggi disamain dengan magangnya anak SMK. Acaranya juga sedikit. Ane khawatir waktu magang ane ntar kurang berkualitas. Alhasil, setelah cari info sana-sini ane putuskan untuk pindah lokasi magang. Di Yogyakarta alias Jogja. Rencana berjalan mulus kecuali perizinan dari kampus. Kampus minta ini-itu untuk persyaratan surat yang akan dikeluarkan. Ujung-ujungnya, NIHIL. Kampus memang nggak mau ngeluarin surat sampai ada SOP magang yang jelas dari jurusan. Tapi terlepas dari itu semua, keberuntungan masih berpihak pada ane. Ane tetep bisa berangkat magang meskipun tanpa surat. Yeay! 

Kamis, 10 September 2015

PURNAMA PREMATUR

Seharusnya aku menulis ini dua hari lalu, tepat hari sabtu malam minggu. Tapi jariku baru mau bergerak saat ini setelah momen itu terlewat. Mungkin taste tulisan ini akan sangat berbeda dengan apa yang aku rasakan pada saat itu.
Sebenarnya tak ada yang spesial malam itu. Hanya malam biasa, seperti biasanya. Malam itu bulan genap berusia 10 hari. Biasa saja. Yang membuatnya berbeda adalah komunikasi yang terjadi di antara kita. Jarang. Sesekali. Tapi itu menyenangkan bagiku. Tak kan cepat bosan. Orang bilang, komunikasi itu penting. Ya, memang. Apalagi kita makhluk sosial yang tak bisa hidup sendiri. Tapi bagiku komunikasi yang terlalu dekat adalah sesuatu yang tidak sehat. Begitu sebaliknya, itu pun tak sehat. Setiap orang akan memerlukan waktu untuk dirinya sendiri, menikmati dunianya. Jadi ku perlukan jarak untuk komunikasi kita.

Jumat, 30 Januari 2015

INI PENGANTINNYA??

Gimana rasanya kalo kamu dikira pengantin padahal kamu sebenernya saudara si pengantin?
Peristiwa itu terjadi di tahun 2010 yang lalu. Ane lupa bulan, tanggal sama jamnya. Yang jelas, waktu itu ane masih berseragam putih abu-abu. Bulik[1] ane yang hidup sebagai single parent punya hajat nikahin anak tunggalnya. Singkat cerita, semua saudara yang bisa datang ikut ngebantuin terselenggaranya tuh hajatan. Ane bersyukur karena nggak ikut didandanin sebagai dayang si pengantin. Seneng dong ane, nggak ribet. Ane cuma bantu-bantu dikit.
Paska resepsi masih ada acara lagi, kalo orang jawa nyebutnya becekan[2]. Di momen inilah pertanyaan itu muncul. Paska resepsi untuk sementara waktu ane nemenin bulik ane nyambut para tamu di depan. Tamu yang datang pun beragam, baik dari temen-temen bulik ane, temen-temen si besan maupun temen-temen kedua mempelai. Tiba-tiba ada seorang tamu, seorang ibu-ibu seumuran bulik ane. Nggak ada angin, nggak ada badai, baru datang dia udah ceria ala ibu-ibu yang langsung nyamber dan meluk ane.