Jumat, 30 Januari 2015

INI PENGANTINNYA??

Gimana rasanya kalo kamu dikira pengantin padahal kamu sebenernya saudara si pengantin?
Peristiwa itu terjadi di tahun 2010 yang lalu. Ane lupa bulan, tanggal sama jamnya. Yang jelas, waktu itu ane masih berseragam putih abu-abu. Bulik[1] ane yang hidup sebagai single parent punya hajat nikahin anak tunggalnya. Singkat cerita, semua saudara yang bisa datang ikut ngebantuin terselenggaranya tuh hajatan. Ane bersyukur karena nggak ikut didandanin sebagai dayang si pengantin. Seneng dong ane, nggak ribet. Ane cuma bantu-bantu dikit.
Paska resepsi masih ada acara lagi, kalo orang jawa nyebutnya becekan[2]. Di momen inilah pertanyaan itu muncul. Paska resepsi untuk sementara waktu ane nemenin bulik ane nyambut para tamu di depan. Tamu yang datang pun beragam, baik dari temen-temen bulik ane, temen-temen si besan maupun temen-temen kedua mempelai. Tiba-tiba ada seorang tamu, seorang ibu-ibu seumuran bulik ane. Nggak ada angin, nggak ada badai, baru datang dia udah ceria ala ibu-ibu yang langsung nyamber dan meluk ane.

Jumat, 23 Januari 2015

DESAIN “GRAFIS” BUKAN DESAIN “GRATIS”

Kali ini ane mau curhat. Sepele sih, tapi ini pengalaman ane.
Desain “GRAFIS” bukan desain “GRATIS”. Tentu kalimat ini tak asing di telinga kita. Apalagi bagi orang yang udah jungkir balik sama yang namanya desain grafis. Cerita punya cerita, ane dan temen ane pernah punya pengalaman dengan kalimat ini. Bermodal ‘rasa’ pertemanan, kita pernah sama-sama dimintai tolong buat bikinin desain. Desain yang ane bikin sederhana sih. Bahkan kalo menurut ane itu belum bisa dibilang desain. Malah ane nyebutnya corat-coret.
“Eh bisa minta tolong nggak?”
“Minta tolong apaan?”
“Tolong buatin desain untuk ini (jelasin maksudnya)”.
“Oo, buat kapan? Kalo nggak buru-buru sih kayaknya bisa”.
“Buat akhir minggu ini. Bisa?”.
“Mendadak gitu. Urusannya masih banyak, ane nggak jamin”. Posisinya, waktu itu udah hari kedua dalam sepekan.
“Ayolah, tolongin ya?”
“Gimana ya? Emm, wani piro?”. Ane ngajakin bercanda tapi serius. Namanya mahasiswa, cari ceperan kan udah biasa. Asal ada kesempatan, samber aja. Haha
“Gampang, ntar kalo udah selesai kita itung-itungan. Bisa kan?”
“Emm, ane usahain ya. Tapi konsepnya segera kirim ya?”
“Oke. Makasih ya”.

Kamis, 22 Januari 2015

PESAN “DI BALIK 98” YANG TERTANGKAP DI MATA ORANG AWAM

Saya yakin bahwa beberapa pendapat saya tentang sebuah film sebelum-sebelumnya masih belum bisa dikatakan sebagai resensi yang sesungguhnya. Hanya saja menurut saya itu bisa dikatakan sebagai ‘ulasan’ film versi masyarakat awam. Kali ini saya ingin menuliskan kembali ‘ulasan’ sebuah film di mata masyarakat awam seperti saya: DI BALIK 98.
Siapa yang tak tahu Lukman Sardi? Seorang aktor kenamaan yang memiliki prestasi di bidang seni peran. Setelah menyutradari film Sang Penjahit dan beberapa film pendek lainnya, kali ini ia terjun langsung untuk mendirect sebuah film layar lebar. Tak kurang dari 200 orang yang ikut serta dalam pembuatan film ini.
Seperti yang telah diketahui, film yang tayang sejak 15 Januari 2015 ini menceritakan tentang penggulingan presiden Soeharto dan lahirnya reformasi. Namun sebelum menonton saya telah memiliki pendapat yang muncul dari trailernya yang sering tayang di televisi. Trailer itu cukup menarik bagi saya untuk mau menonton film ini dan mengetahui apa yang terjadi di balik peristiwa penggulingan pemimpin rezim orde baru itu. Hanya saja saya tak menemukan apa yang saya cari di film ini.

Rabu, 21 Januari 2015

SEKILAS TENTANG FILM “MERRY RIANA”

MERRY RIANA. Film ini sukses membuat saya beranggapan bahwa ini adalah salah satu film berat. Mengapa demikian? Setahu saya Merry Riana adalah seorang motivator. Jadi dugaan yang muncul adalah film ini menggambarkan perjalanan Merry mulai dari nol hingga sukses menjadi seorang motivator, cukup membosankan. Hanya gara-gara demi membuktikan dugaan itu saya bertahan untuk menonton hingga akhir film ini. Jawaban akhir dari dugaan saya: SALAH BESAR.
Film ini ternyata mampu memikat emosi saya dan –saya yakin– penonton yang lain juga. Hestu Saputra, sang sutradara, berhasil membuat emosi penonton untuk bersimpati pada tokoh Merry Riana yang diperankan oleh Chelsea Islan ini. FYI, karir Hestu berawal menjadi asisten sutradara Hanung Bramantyo selama 10 tahun. Hestu seringkali ditinggal oleh Hanung sehingga mau tidak mau ia harus mendirect artis sesuai dengan karakter Hanung. Dari situlah sedikit-banyak karya Hestu memiliki karakter atau selera mirip dengan Hanung.

Kamis, 01 Januari 2015

RESENSI FILM “OPERA JAWA”


Opera Jawa, sebuah  film karya Garin Nugroho yang menjadikan kisah Ramayana sebagai referensi cerita. Saat saya mendengar hal ini, hal yang terbayang di benak saya adalah kisah cinta Rama dan Sinta yang terusik oleh raksasa dari negeri Alengka, Rahwana. Rama dan Sinta tinggal di sebuah istana bertiga dengan adik Rama, Lesmana. Mereka hidup damai dan tenang.
Suatu ketika, anak buah Rahwana mengetahui bahwa ada tiga orang yang tinggal di sebuah istana, dua orang laki-laki tampan dan seorang wanita yang sangat cantik. Rahwana pun tertarik dan menyelidikinya langsung. Saat melihat Sinta yang memiliki kecantikan luar biasa, Rahwana pun tertarik dan bermaksud ingin memilikinya. Ia menyusun taktik untuk menculik Sinta. Dengan tipu muslihat yang dilakukannya, Rahwana pun berhasil menculik Sinta. Rama yang biasanya tampak bijak dan tenang menjadi sangat marah. Akhirnya terjadi peperangan antara Rama dan Rahwana.
Karya-karya Garin Nugroho memang terkesan serius. Tapi hal itu yang menjadi ciri khas seorang Garin. Opera Jawa yang kisahnya terinspirasi dari kisah Ramayana ini juga pernah dipentaskan dalam bentuk teater, Trilogi Opera Jawa: Ranjang Wesi, Tusuk Konde Dua dan Selendang Merah. Bahkan teater ini pernah dipentaskan di beberapa negara di Eropa. Film ini mengisahkan tentang cinta segitiga antara orang terpandang dan memiliki kekuasaan dan seorang penari, yaitu Setyo, Siti dan Ludiro.
Film ini pernah memicu konflik antar agama. Hal ini didasarkan pada himbauan World Hindu Youth Organization (WHYO) yang menyatakan bahwa film ini tidak sesuai dengan kisah Ramayana dalam agama Hindu. Pernyataan tersebut dipublikasikan lewat surat, koran dan televisi. Namun Garin memberikan tanggapan yang berbeda. Himbauan yang dilakukan oleh WHYO itu dipublikasikan sebelum Opera Jawa ini diselesaikan. Menurut Garin, himbauan ini terlalu prematur untuk dipublikasikan dan Garin juga meminta pihak WHYO untuk menarik kembali pernyataan tersebut. Informasi yang diperoleh WHYO tersebut tidak diperoleh dari sumber utama, film itu sendiri, dan Garin sebagai sutradara dan penanggungjawab kreatif. Tanggapan dari masyarakat tentang himbauan ini, tanpa mengkaji ulang, menjadikan konflik semakin rumit. Namun hal itu tidak megurangi keberhasilan dan ketertarikan masyarakat untuk menonton film ini.
Hal ini serupa dengan protes terhadap film “Buruan Cium Gue”. Protes ini dilakukan berdasarkan pada prinsip islami dalam konsumsi terhadap budaya populer secara umum. Film ini tidak dilihat sebagai sebuah produk non-islami melainkan sebagai representasi yang keliru atas pemuda muslim di Indonesia.

RESENSI FILM “RECTOVERSO”


Dewi Lestari atau yang lebih dikenal dengan nama pena Dee mengawali karirnya sebagai seorang penyanyi. Penyanyi cantik ini memang berbakat di bidang kepenulisan. Sayangnya tak banyak yang tahu hal itu. Dee mulai menulis sejak masih duduk di bangku SMU. Salah satu cerita pendeknya yang pernah dimuat di media cetak adalah Sikat Gigi yang dimuat di buletin seni Jendela Newsletter –sebuah media berbasis budaya yang independen dan berskala kecil untuk kalangan sendiri. Tulisan lainnya yang juga pernah dibuatnya pada tahun 1993 adalah Ekspresi yang pada saat itu ia kirim ke majalah Gadis yang sedang mengadakan lomba. Tulisannya itu mendapatkan juara pertama. Tiga tahun berselang, ia menulis sebuah cerita bersambung berjudul Rico de Coro. Novel pertamanya berjudul Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. Dee semakin giat menulis dan terbitlah buku-buku selanjutnya seperti Supernova: Akar, Supernova: Petir, Supernova: Partikel –yang merupakan tetralogi novel Supernova, Filosofi Kopi, Perahu Kertas –yang diangkat menjadi film layar lebar besutan sutradara kenamaan Hanung Bramantyo, Madre, dan Rectoverso.
Ya, Rectoverso! Sebuah buku yang bertajuk 11 cerita pendek dan 11 lagu ini merupakan sumber adaptasi sebuah film omnibus yang berjudul sama dengan buku aslinya. Rectoverso sendiri menurut Dee adalah pengistilahan untuk dua citra yang seolah terpisah tapi sesungguhnya satu kesatuan, saling melengkapi –dalam hal ini adalah musik dan buku. Begitu pula cara Dee memandang hidup yang memiliki keberagaman yang sesungguhnya adalah kesatuan hakiki yang tersembunyi. Dee telah mengumpulkan sebelas lagunya dan mengubahnya dalam bentuk prosa selama satu tahun. Ia menyukai angka ini, 11:11. Angka ini dikenal mewakili kehadiran alam spiritual yang bersandingan dengan alam material –seperti dalam buku-buku yang sebelumnya, Dee selalu menyisipkan nilai spiritual dalam karyanya. Dari sebelas cerita, lima diantaranya diangkat menjadi sebuah film layar lebar. Kelima cerita ini mengisahkan tentang perasaan cinta yang tak berbalas, perasaan cinta seorang sahabat yang kemudian tumbuh lebih dari itu, cinta pada pertemuan pertama, hingga perasaan cinta yang muncul dari sebuah klub bahkan dari sebuah pertemanan mail list.