Kamis, 10 September 2015

PURNAMA PREMATUR

Seharusnya aku menulis ini dua hari lalu, tepat hari sabtu malam minggu. Tapi jariku baru mau bergerak saat ini setelah momen itu terlewat. Mungkin taste tulisan ini akan sangat berbeda dengan apa yang aku rasakan pada saat itu.
Sebenarnya tak ada yang spesial malam itu. Hanya malam biasa, seperti biasanya. Malam itu bulan genap berusia 10 hari. Biasa saja. Yang membuatnya berbeda adalah komunikasi yang terjadi di antara kita. Jarang. Sesekali. Tapi itu menyenangkan bagiku. Tak kan cepat bosan. Orang bilang, komunikasi itu penting. Ya, memang. Apalagi kita makhluk sosial yang tak bisa hidup sendiri. Tapi bagiku komunikasi yang terlalu dekat adalah sesuatu yang tidak sehat. Begitu sebaliknya, itu pun tak sehat. Setiap orang akan memerlukan waktu untuk dirinya sendiri, menikmati dunianya. Jadi ku perlukan jarak untuk komunikasi kita.
     Ah, cukup. Aku terlalu banyak bicara. Kenapa? Kau tak suka? Tak apa, tak usah kau lanjutkan baca tulisanku. Lagipula ini hanya media perasaanku. Malam itu kita berkomunikasi dengan baik. aku baru saja menyelesaikan gambarku. Sejenak setelah rehat, aku membuka ponselku. Oh, ada kabar darimu. Aku rasa ini hal yang biasa bagi setiap orang. Bagiku juga. Kita terus mengalir dalam jaringan tanpa kabel. Sang bulan terus mengawasiku dari balik jendela. Mungkin ia juga ingin tahu apa isi pesan kita. Aku hanya menatapnya dengan senyum.
Hingga saat kau bilang bahwa kau menungguku untuk tidur dan ku lontarkan candaan agar kau membacakanku dongeng, aku merasa ada yang berbeda. Bulan yang sedari tadi memperhatikanku tampak lebih terang meski baru berusia 10 hari. Tampak terang sekali, tak kalah dengan sang purnama sempurna. Kalimatmu sangat sederhana, tapi kurasakan lembut tuturmu di dalamnya. Mungkin penuh kasih. Lama kalimat seperti terabaikan oleh telingaku.
“Ingin dibacakan dongeng apa, sayang?”
Aku belum tahu seberapa lembut kalimat itu mengalir. Tapi aku tetaplah wanita biasa yang berharap itu tulus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar