Seharusnya aku menulis ini dua hari lalu,
tepat hari sabtu malam minggu. Tapi jariku baru mau bergerak saat ini setelah
momen itu terlewat. Mungkin taste tulisan ini akan sangat berbeda dengan apa
yang aku rasakan pada saat itu.
Sebenarnya tak ada yang spesial malam itu.
Hanya malam biasa, seperti biasanya. Malam itu bulan genap berusia 10 hari.
Biasa saja. Yang membuatnya berbeda adalah komunikasi yang terjadi di antara
kita. Jarang. Sesekali. Tapi itu menyenangkan bagiku. Tak kan cepat bosan.
Orang bilang, komunikasi itu penting. Ya, memang. Apalagi kita makhluk sosial
yang tak bisa hidup sendiri. Tapi bagiku komunikasi yang terlalu dekat adalah
sesuatu yang tidak sehat. Begitu sebaliknya, itu pun tak sehat. Setiap orang
akan memerlukan waktu untuk dirinya sendiri, menikmati dunianya. Jadi ku
perlukan jarak untuk komunikasi kita.
Ah, cukup. Aku terlalu banyak bicara.
Kenapa? Kau tak suka? Tak apa, tak usah kau lanjutkan baca tulisanku. Lagipula
ini hanya media perasaanku. Malam itu kita berkomunikasi dengan baik. aku baru
saja menyelesaikan gambarku. Sejenak setelah rehat, aku membuka ponselku. Oh,
ada kabar darimu. Aku rasa ini hal yang biasa bagi setiap orang. Bagiku juga.
Kita terus mengalir dalam jaringan tanpa kabel. Sang bulan terus mengawasiku
dari balik jendela. Mungkin ia juga ingin tahu apa isi pesan kita. Aku hanya
menatapnya dengan senyum.
Hingga saat kau bilang bahwa kau
menungguku untuk tidur dan ku lontarkan candaan agar kau membacakanku dongeng,
aku merasa ada yang berbeda. Bulan yang sedari tadi memperhatikanku tampak
lebih terang meski baru berusia 10 hari. Tampak terang sekali, tak kalah dengan
sang purnama sempurna. Kalimatmu sangat sederhana, tapi kurasakan lembut
tuturmu di dalamnya. Mungkin penuh kasih. Lama kalimat seperti terabaikan oleh
telingaku.
“Ingin dibacakan dongeng apa, sayang?”
Aku belum
tahu seberapa lembut kalimat itu mengalir. Tapi aku tetaplah wanita biasa yang
berharap itu tulus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar