Minggu, 26 Oktober 2014

SEBUAH MISI TELAH DIMULAI: PATROL #3

Jika kemarin ane cerita tentang pengalaman bertemu dengan bintang tamu pertama ane, maka kali ini ane akan cerita tentang host dan lokasi untuk Patrol.
Di awal kita udah nyari bintang tamu dan meminta kesanggupannya untuk mengisi di acara ane. Semua bintang tamu udah siap, tinggal follow up aja. Tugas selanjutnya adalah nyari host. Konsep awal, kita mau pake host cowok karena konsep acara kita malem. Nggak enak dong kalo hostnya cewek. Apalagi bintang tamu dan semua talent yang berperan adalah cowok. Entar dikira cewek apaan lagi.
Lanjut. Di sinilah perburuan host dimulai. Mulai dari mbak-mbak yang kerja di salah satu bank bukan milik negara hingga temennya temen kuliah ane. Itu bermula saat ngebahas host, salah satu temen ane punya kenalan, cewek, yang sering ngisi acara sebagai host. Sebut aja temen ane namanya Wawan. Kita udah tanya-tanya kepo tentang kenalannya itu. Dan dari ceritanya, jam terbangnya udah lumayan. Akhirnya kita mutusin untuk ketemu dulu sama kenalan temen ane ini. Kita mau casting dia. Wah, kelihatannya keren ya, udah pake istilah casting. Padahal kita cuma ngobrol-ngobrol aja. Di sini kita udah mulai sreg dengan si cewek karena pengalaman jam terbangnya. Waktu ngobrol juga enak orangnya. Tapi bukan enak buat dimakan ya!

Senin, 13 Oktober 2014

KOREKSI

Koreksi: Kami tidak miskin tapi kami sederhana, cukup sederhana untuk bisa hidup setiap hari.
Jika kami miskin, kami pun tak akan memelas dan meminta bantuan pada orang yang hanya membantu kami dengan ‘materi’ (baca: tanpa hati). Yang kami butuhkan bukan ‘materi’ tapi ‘hati’.
Hati kalian yang tak akan pernah mencela ketika kami meminta bantuan
Hati kalian yang tak akan pernah mengungkit ketika kami tak bisa membalas (sesuai harapan) kalian
Jika kami ini “miskin”, lebih miskin mana dibandingkan dengan mereka para 'tikus berdasi'?
Kami —tanpa bantuan ‘tangan-tangan’ tak berhati— masih bisa menikmati makan setiap hari meski sangat sederhana.
Bagaimana dengan mereka para 'tikus berdasi' yang duduk nyaman di atas kursi kemegahan? Masih bisakah mereka makan tanpa uluran ‘tangan-tangan tulus’? Masih sangat bisa.
Masih bisakah mereka hidup dengan mewah dan serba tercukupi ketika kami datang “memohon” sedikit bantuan? Lagi-lagi masih sangat bisa.
Lalu masih bisakah para 'tikus berdasi' itu “makan berlebihan” tanpa ada rakyat yang terus menyuapi mereka? Tidak.
Masih bisakah mereka terus menjadi 'tikus berdasi' tanpa adanya rakyat yang “memberi” pakaian mereka? Entahlah..

Sekali lagi, koreksi: KAMI TIDAK MISKIN TAPI KAMI SEDERHANA!

Kamis, 02 Oktober 2014

THE SHADOW

Matahari mulai beranjak dari posisinya, menuju ke tempat peraduan. Meninggalkan siang yang setia bersamanya. Senja pun menyambut malam yang mulai gelap. Aku sendiri tanpa siapa pun. Sepi. Hari itu aku merasa lelah yang lebih dari biasanya. Badanku terasa dingin.
Aku bersandar di dinding teras mushola. Aku berpikir untuk berada di sini sejenak sebelum mengikuti rapat kegiatan di kampus. Sekilas ku lihat sekelebat bayangan yang ku kenal. Aku berdebar. Tak yakin dengan apa yang baru saja aku lihat, aku mencoba mengintip ke dalam mushola dan ternyata benar. Bayangan tadi berasal dari seseorang yang sangat aku kenal. Segera ku tekuk dan ku rangkul lututku  sembari tetap duduk bersandar di tempat itu. Aku menunduk dan ku tutup mataku. Tanganku terasa semakin dingin. Jantungku kian berdebar. Malam yang sepi semakin sesak menghimpitku. Pikiranku melayang, mencari-cari sesuatu yang telah lalu. Tak lama kemudian, aku mendengar suara yang tak asing menyapaku, membuatku semakin sulit bernafas. Sesak.

Rabu, 01 Oktober 2014

MAHASISWA BEASISWA ‘AJA’ atau MAHASISWA BEASISWA ‘KREATIF’?

Siapa yang tak bangga mendapat beasiswa, menjadi mahasiswa penerima beasiswa? Siapa yang tak mau dengan itu? Tak perlu lagi ane jawab, semua sudah tahu jawabnya. Bagi yang sekedar tahu atau ngliat aja sih bakal bilang, “Enak ya, dapat beasiswa”, dan lain sebagainya. Tapi apa selamanya menjadi mahasiswa penerima beasiswa itu enak? Tanyakan pada rumput yang bergoyang.
Sebenarnya emang banyak beasiswa yang memberikan kemudahan kepada penerimanya. Tapi ada juga beasiswa yang juga memberikan syarat tertentu kepada penerimanya. Contoh nyata adalah ane sendiri. Ane dapat beasiswa berkat kesempatan yang diberikan oleh para wakil rakyat yang —alhamdulillah— masih baik hati. Berkat ‘sedikit tabungan usaha’ di bangku sekolah akhirnya ane dapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Entah karena ketentuan dari para wakil rakyat atau kebijakan pihak perguruan tinggi, ada sebuah kontrak yang mengikat dari awal. Saat heregistrasi awal masuk kuliah ada sebuah kontrak yang harus ditandatangani dan dibubuhi materai 6000. Itu berarti mempunyai ‘nilai’ di mata hukum. Salah satu poin kontrak yang masih ane inget sampai sekarang bahwa penerima beasiswa tidak diperbolehkan bekerja alias memiliki penghasilan sendiri. Entah apa maksudnya, ane masih nggak paham. Saat baca itu ane ngerasa belum ada masalah, masih aman-aman aja. Kemudian semua itu berubah sejak negara api menyerang.

Di tengah perjalanan kuliah ane, beasiswa yang ane andalkan dan ane banggakan —karena ane tidak lagi bergantung pada orang tua— beberapa kali ada keterlambatan dan ane bener-bener fakir di bidang keuangan. Dengan perasaan yang berat seberat gajah, ane minta suntikan dana ke kakak ane. Ane masih belum berpikir untuk memutar duit biar nggak habis gitu aja. Lagi-lagi ane inget salah satu poin kontrak tersebut. Masihkah kontrak itu dipertahankan?
Di sisi lain, beberapa temen ane yang juga penerima beasiswa yang sama dengan ane melakukan putar otak agar duitnya nggak ngloyor gitu aja dari dompet. Dia bikin usaha kecil-kecilan, dagang jajanan. Tentunya dengan harga sesuai kantong mahasiswa dan terutama kantong anak kos-kosan. Jika mahasiswa penerima beasiswa yang ‘baik’ maka dia akan menaati kontrak tersebut namun memiliki kendala keuangan jika beasiswa juga terkendala. Opsi lain adalah menjadi mahasiswa beasiswa yang ‘tidak baik’ tapi kreatif. Keuntungannya adalah mereka tetap bisa bertahan secara finansial meskipun beasiswa terkendala.

Sekali lagi, masihkan poin kontrak itu dipertahankan? Apa yang bisa dilakukan para wakil negara —atau minimal pihak perguruan tinggi— jika mahasiswa yang notabene hanya mengandalkan beasiswa tanpa tergantung kantong orang tua? Menerima konsultasi finansial? Memberi ganti sementara? Atau hanya DIAM saja? Kalian sudah tahu jawabannya. Entah dikemanakan, hingga kini ane tak pernah tahu kelanjutan dan kesungguhan kontrak yang telah dibuat.