Rabu, 31 Desember 2014

RESENSI FILM "SUPERNOVA: KSATRIA, PUTERI, DAN BINTANG JATUH"


Supernova. Ya, siapa yang tak tahu karya ­science-fiction yang fenomenal karya Dee ini. Supernova pertama dari tetralogi bukunya diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama dari bukunya, “Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh”. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 27 November 2014 lalu.
Karya fenomal Dee yang berjudul Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh dalam bentuk novel terbit pertama kali tahun 2001. Saya memang tak banyak mengerti tentang sains, tapi di sini Dee meyajikan novelnya dengan kolaborasi science-fiction. Oleh karenanya saya sulit memahami ketika pertama kali saya membaca novel tersebut. Dilanjutkan dengan saya yang hanya membaca bagian awalnya saja maka saya belum menyelesaikan perjalanan imajinasi saya dalam dunia science-fiction yang telah diciptakan oleh Dee.
Ketika saya mendengar bahwa Supernova pertama milik Dee ini akan dikemas dalam film layar lebar, hal pertama yang terlintas di pikiran saya adalah betapa “beratnya” film ini nanti. Karena setiap karya Dee bukan hanya sekedar karya fiksi yang memberikan referensi hiburan tapi juga memberikan informasi yang mungkin sebagian orang belum tahu.


Selasa, 18 November 2014

DEMOCRACY – DEMOCRAZY – DEMONSTRASI

Beberapa hari lalu ane dengerin radio yang pas waktu siaran berita. Di radio itu diperdengarkan sekelompok mahasiswa suatu universitas nan jaoh di mato ane menyuarakan aspirasinya tentang penolakan kenaikan BBM dengan cara demo.
Mahasiswa oh Mahasiswa..
Demo sana-demo sini.. Mau apa to sebenarnya? Nuntut pemerintah pro-rakyat kecil tanpa menaikkan harga BBM? Tahu apa?? Hanya karena segelontor orang yang memiliki kepentingan pribadi di beberapa bagian? Emang udah yakin? Buktinya apa? Mau ngasih solusi alternatif? Apa?? Pembangunan kilang minyak untuk mengolah hasil bumi? Mau bangun pake apa? Emang bangun-bangun kayak gitu nggak butuh duit? Mau pake duit siapa? Duit rakyat?? Kan lagi-lagi duit rakyat –kecil. Itu tidak sedikit lho. Bisa jadi malah kepentingan bersama ini jadi jalan untuk memenuhi kepentingan pribadi segelontor orang tadi. Piye to, katanya intelektual? Kalau sudah begini mau apa? Demo lagi?? Ada kasus, demo lagi? Lagi-lagi demo. Ndak ada habisnya to nanti.

Minggu, 26 Oktober 2014

SEBUAH MISI TELAH DIMULAI: PATROL #3

Jika kemarin ane cerita tentang pengalaman bertemu dengan bintang tamu pertama ane, maka kali ini ane akan cerita tentang host dan lokasi untuk Patrol.
Di awal kita udah nyari bintang tamu dan meminta kesanggupannya untuk mengisi di acara ane. Semua bintang tamu udah siap, tinggal follow up aja. Tugas selanjutnya adalah nyari host. Konsep awal, kita mau pake host cowok karena konsep acara kita malem. Nggak enak dong kalo hostnya cewek. Apalagi bintang tamu dan semua talent yang berperan adalah cowok. Entar dikira cewek apaan lagi.
Lanjut. Di sinilah perburuan host dimulai. Mulai dari mbak-mbak yang kerja di salah satu bank bukan milik negara hingga temennya temen kuliah ane. Itu bermula saat ngebahas host, salah satu temen ane punya kenalan, cewek, yang sering ngisi acara sebagai host. Sebut aja temen ane namanya Wawan. Kita udah tanya-tanya kepo tentang kenalannya itu. Dan dari ceritanya, jam terbangnya udah lumayan. Akhirnya kita mutusin untuk ketemu dulu sama kenalan temen ane ini. Kita mau casting dia. Wah, kelihatannya keren ya, udah pake istilah casting. Padahal kita cuma ngobrol-ngobrol aja. Di sini kita udah mulai sreg dengan si cewek karena pengalaman jam terbangnya. Waktu ngobrol juga enak orangnya. Tapi bukan enak buat dimakan ya!

Senin, 13 Oktober 2014

KOREKSI

Koreksi: Kami tidak miskin tapi kami sederhana, cukup sederhana untuk bisa hidup setiap hari.
Jika kami miskin, kami pun tak akan memelas dan meminta bantuan pada orang yang hanya membantu kami dengan ‘materi’ (baca: tanpa hati). Yang kami butuhkan bukan ‘materi’ tapi ‘hati’.
Hati kalian yang tak akan pernah mencela ketika kami meminta bantuan
Hati kalian yang tak akan pernah mengungkit ketika kami tak bisa membalas (sesuai harapan) kalian
Jika kami ini “miskin”, lebih miskin mana dibandingkan dengan mereka para 'tikus berdasi'?
Kami —tanpa bantuan ‘tangan-tangan’ tak berhati— masih bisa menikmati makan setiap hari meski sangat sederhana.
Bagaimana dengan mereka para 'tikus berdasi' yang duduk nyaman di atas kursi kemegahan? Masih bisakah mereka makan tanpa uluran ‘tangan-tangan tulus’? Masih sangat bisa.
Masih bisakah mereka hidup dengan mewah dan serba tercukupi ketika kami datang “memohon” sedikit bantuan? Lagi-lagi masih sangat bisa.
Lalu masih bisakah para 'tikus berdasi' itu “makan berlebihan” tanpa ada rakyat yang terus menyuapi mereka? Tidak.
Masih bisakah mereka terus menjadi 'tikus berdasi' tanpa adanya rakyat yang “memberi” pakaian mereka? Entahlah..

Sekali lagi, koreksi: KAMI TIDAK MISKIN TAPI KAMI SEDERHANA!

Kamis, 02 Oktober 2014

THE SHADOW

Matahari mulai beranjak dari posisinya, menuju ke tempat peraduan. Meninggalkan siang yang setia bersamanya. Senja pun menyambut malam yang mulai gelap. Aku sendiri tanpa siapa pun. Sepi. Hari itu aku merasa lelah yang lebih dari biasanya. Badanku terasa dingin.
Aku bersandar di dinding teras mushola. Aku berpikir untuk berada di sini sejenak sebelum mengikuti rapat kegiatan di kampus. Sekilas ku lihat sekelebat bayangan yang ku kenal. Aku berdebar. Tak yakin dengan apa yang baru saja aku lihat, aku mencoba mengintip ke dalam mushola dan ternyata benar. Bayangan tadi berasal dari seseorang yang sangat aku kenal. Segera ku tekuk dan ku rangkul lututku  sembari tetap duduk bersandar di tempat itu. Aku menunduk dan ku tutup mataku. Tanganku terasa semakin dingin. Jantungku kian berdebar. Malam yang sepi semakin sesak menghimpitku. Pikiranku melayang, mencari-cari sesuatu yang telah lalu. Tak lama kemudian, aku mendengar suara yang tak asing menyapaku, membuatku semakin sulit bernafas. Sesak.

Rabu, 01 Oktober 2014

MAHASISWA BEASISWA ‘AJA’ atau MAHASISWA BEASISWA ‘KREATIF’?

Siapa yang tak bangga mendapat beasiswa, menjadi mahasiswa penerima beasiswa? Siapa yang tak mau dengan itu? Tak perlu lagi ane jawab, semua sudah tahu jawabnya. Bagi yang sekedar tahu atau ngliat aja sih bakal bilang, “Enak ya, dapat beasiswa”, dan lain sebagainya. Tapi apa selamanya menjadi mahasiswa penerima beasiswa itu enak? Tanyakan pada rumput yang bergoyang.
Sebenarnya emang banyak beasiswa yang memberikan kemudahan kepada penerimanya. Tapi ada juga beasiswa yang juga memberikan syarat tertentu kepada penerimanya. Contoh nyata adalah ane sendiri. Ane dapat beasiswa berkat kesempatan yang diberikan oleh para wakil rakyat yang —alhamdulillah— masih baik hati. Berkat ‘sedikit tabungan usaha’ di bangku sekolah akhirnya ane dapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Entah karena ketentuan dari para wakil rakyat atau kebijakan pihak perguruan tinggi, ada sebuah kontrak yang mengikat dari awal. Saat heregistrasi awal masuk kuliah ada sebuah kontrak yang harus ditandatangani dan dibubuhi materai 6000. Itu berarti mempunyai ‘nilai’ di mata hukum. Salah satu poin kontrak yang masih ane inget sampai sekarang bahwa penerima beasiswa tidak diperbolehkan bekerja alias memiliki penghasilan sendiri. Entah apa maksudnya, ane masih nggak paham. Saat baca itu ane ngerasa belum ada masalah, masih aman-aman aja. Kemudian semua itu berubah sejak negara api menyerang.

Di tengah perjalanan kuliah ane, beasiswa yang ane andalkan dan ane banggakan —karena ane tidak lagi bergantung pada orang tua— beberapa kali ada keterlambatan dan ane bener-bener fakir di bidang keuangan. Dengan perasaan yang berat seberat gajah, ane minta suntikan dana ke kakak ane. Ane masih belum berpikir untuk memutar duit biar nggak habis gitu aja. Lagi-lagi ane inget salah satu poin kontrak tersebut. Masihkah kontrak itu dipertahankan?
Di sisi lain, beberapa temen ane yang juga penerima beasiswa yang sama dengan ane melakukan putar otak agar duitnya nggak ngloyor gitu aja dari dompet. Dia bikin usaha kecil-kecilan, dagang jajanan. Tentunya dengan harga sesuai kantong mahasiswa dan terutama kantong anak kos-kosan. Jika mahasiswa penerima beasiswa yang ‘baik’ maka dia akan menaati kontrak tersebut namun memiliki kendala keuangan jika beasiswa juga terkendala. Opsi lain adalah menjadi mahasiswa beasiswa yang ‘tidak baik’ tapi kreatif. Keuntungannya adalah mereka tetap bisa bertahan secara finansial meskipun beasiswa terkendala.

Sekali lagi, masihkan poin kontrak itu dipertahankan? Apa yang bisa dilakukan para wakil negara —atau minimal pihak perguruan tinggi— jika mahasiswa yang notabene hanya mengandalkan beasiswa tanpa tergantung kantong orang tua? Menerima konsultasi finansial? Memberi ganti sementara? Atau hanya DIAM saja? Kalian sudah tahu jawabannya. Entah dikemanakan, hingga kini ane tak pernah tahu kelanjutan dan kesungguhan kontrak yang telah dibuat.

Selasa, 30 September 2014

CURHAT ala PISANG COKLAT

Pagi ini muncul cerita tentang penemuan kisah cinta yang ane sendiri tak tahu apa namanya. Kisah ini berasal dari temen kontrakan ane yang penuh usaha atas nama cinta. Dari sebuah kolaborasi usaha kewirausahaan mini, temen ane yang satu ini akhirnya menemukan apa yang selama ini sering dipertanyakan. Sebut aja temen ane namanya Nining dan temen kolaborasi wirausahanya Puput.
Usaha mereka udah berlangsung beberapa bulan terakhir ini. Untuk memperlancar usaha sekaligus pemasukan, si Puput mencari orang yang mau jadi partner di bidang marketing via jejaring sosial yang paling banyak digunakan oleh manusia di dunia termasuk di Indonesia yaitu pesbuk. Bahasa udah keren nih, marketing. Tapi sebenernya ya dagang jajanan.

Senin, 29 September 2014

INI SAUDARAKU, MANA SAUDARAMU?

Cerita hari ini adalah tentang saudara. Tadinya cuma ngobrol ngalor-ngidul nggak jelas sambil bahas tugas-tugas kuliah di kampus. Ternyata ada yang unik tentang topik yang kita bicarain. Setelah otak ane mencerna omongan temen-temen ane, ternyata kita sama-sama lagi ngomongin pengalaman pertemuan saudara yang telah lama tak diketahui. Sayangnya ane nggak inget gimana awal mula tercetusnya obrolan ini tapi yang jelas ini menjadi hiburan tersendiri bagi otak kami yang sedang dirundung tugas kuliah.
“Ternyata ane punya saudara jauh di sini. Tapi ane nggak tahu orangnya kayak gimana. Yang ane tahu rumahnya dekat sini, katanya sih dekatnya Linggarjati Baru situ”.
“Lhah, kok bisa nggak tahu?”.

Rabu, 17 September 2014

MAHASISWA FKG MENCARI PASIEN

Di kampus ane, Fakultas Kedokteran menjadi primadona bagi para lulusan putih – abu-abu yang masih baru. Tapi kali ini ane nggak mau bahas masalah Fakultas Kedokteran tetapi ane mau bahas fakultas tetangganya Fakultas Kedokteran di kampus ane, yakni Fakultas Kedokteran Gigi alias eF-Ka-Ge. Jeng, jeeennnngg....
Seperti yang kita tahu, anak-anak FKG itu biasanya mencari pasien untuk praktek mereka. Sesuai dengan prinsip yang tak diakui, orang-orang kedokteran gigi itu mencari nafkah di mulut orang lain. Dan sejalan dengan hal itu, biasanya mereka para pencari pasien dari negeri yang disebut FKG itu, akan memburu pasien mereka mulai dari temen deket, temen kos, temennya temen kos, ibu kosnya temen kos, hingga orang yang nggak dikenal dan masyarakat umum. Praktek mereka bisa berwujud otak-atik gigi orang hingga mencari berbagai jenis sariawan dengan penyebab yang berbeda.
Rasanya seperti hal sepele bagi anak non-FKG. Tapi itu menjadi sangat tidak sepele bagi anak FKG. Nah, berkaitan dengan kasus itu bro, ane punya cerita yang menyangkut anak FKG. Cerita ini terjadi beberapa hari yang lalu.

Senin, 15 September 2014

MATA PISAU

Tak biasa aku menulis sebuah diary. Aku selalu merasa mampu menceritakan apa yang aku alami tanpa sebuah diary. Aku menulisnya dalam sebuah cerita yang lain tapi serupa. Tapi yang ini, aku belum memiliki ide untuk membuatnya menjadi sebuah cerita. Dengan lugas, aku akan menuliskannya dalam bentuk rangkaian kataku.
Aku masih berada di tempat ini. Di tempat yang sama. Di waktu yang sama. Tapi pikiranku mulai melayang, menjelajah dunia yang tak berada di sekitarku. Hanya dari sebuah benda elektronik, wujud kemajuan teknologi, pikiranku telah terbawa mengarungi tempat lain. Sebuah benda kecil yang orang menyebutnya sebagai handphone. Tempat yang jauh.

Jumat, 12 September 2014

BE SMART WOMAN!

Di tulisan ini ane mau ngomongin masalah klasik yang sering menjadi dilema bagi seorang cewek: MENJADI IBU RUMAH TANGGA ATAU WANITA KARIR?
Sejak kecil kita (baca: cewek) dididik sama dengan yang lainnya (baca: cowok). Nggak ada pembeda atau pengecualian, ya, kecuali kayak sekolah atau tempat pendidikan khusus cewek, misalnya pondok pesantren. Tapi secara umum dan keseluruhan ya sama aja, kita dididik untuk mendapatkan ilmu dan menjadi generasi yang cerdas di masa yang akan datang. Masalah untuk mempertahankan prinsip untuk terus mengenyam bangku pendidikan baru muncul ketika melepas seragam putih – abu-abu dan memasuki bangku perkuliahan.

Senin, 08 September 2014

SEBUAH MISI TELAH DIMULAI: PATROL #2

Jreng, jrenngg... Ane kembali lagi nih dengan cerita baru untuk PATROL. Sebuah cerita yang masih berkaitan dengan tugas kuliah. Bosen ya dengan cerita tugas kuliah? Tapi sorry bro, ane masih belum dapat wangsit lagi buat bikin cerita karangan. Bisanya berbagi cerita masalah tugas kuliah khususnya tugas praktika ini –sekalian curhat sih.
Di semester dewasa ini, semester lima, ane ada tugas buat bikin produksi acara televisi. Yang pasti tugas ini dikerjain secara berkelompok dengan dana yang berkelompok juga yang didapat dari kantong anggota kelompok. Seperti yang udah pernah ane ceritakan, kelompok ane dapat tema budaya lokal. Dan untuk nama PATROL sendiri udah pernah ane ceritain di postingan sebelumnya. Singkatnya, setelah berdiskusi, kita sepakat untuk mengangkat tentang pelestarian permainan tradisional egrang dan batik khas Jember.
Setelah berbagi tugas, ane kedapatan peran sebagai pengarah acara saat produksi dan koordinator tim riset, yang sekaligus tim yang secara tidak langsung dinobatkan sebagai tim kreatif, di pra-produksi. Setelah ane ngobrol ngalur ngidul dikit sama tim riset, ane putuskan untuk menemui narasumber pertama yang menyandang nama Prof. Ayu, M. A, dan membuat janji untuk berkunjung ke rumahnya sekaligus mampir ke sanggar anak yang dibinanya yang dikenal sebagai Untukmu Si Kecil. FYI, narasumber ane yang pertama ini seorang profesor, dan budayawan. Salah satu dosen di fakultas ane, tepatnya dosen Sastra Inggris. Ada beberapa cerita yang muncul setelah penentuan narasumber ini.

Minggu, 07 September 2014

SEBUAH MISI TELAH DIMULAI: PATROL #1

Pada dua tulisan ane sebelumnya, ane telah mengisahkan bagaimana tugas-tugas ajaib –menurut versi ane– yang pernah ane lalui di empat semester terakhir. Kali ini ane akan memulai sebuah cerita baru tentang tugas kuliah ane di semester lima. Di semester ini ada beberapa tugas. Tapi tugas yang besar, dari segi waktu, dana, tenaga, dan pikiran adalah mata kuliah Praktika Terpadu 01. Di mata kuliah ini ane benar-benar menerapkan ilmu dari mata kuliah-mata kuliah lain yang udah ane lewatin.
Semua dimulai sejak pertemuan pertama mata kuliah ini. Catatan: jangan pernah melewatkan satu pertemuan pun dari mata kuliah ini, kecuali

Rabu, 03 September 2014

CERITA DI BALIK KEGILAAN TUGAS-TUGAS KULIAH #2

Melanjutkan dari kisah ane bersama tugas-tugas kuliah sebelumnyaa.
Di semester tiga ada dua mata kuliah yang akan ane ungkap. Sebut saja tata cahaya 01 dan videografi yang merangkap editing. Kita mulai dengan kisah tugas videografi yang merangkap juga sebagai tugas editing ini. Tugasnya adalah bikin video adzan maghrib plus adzan shubuh dan bikin video klip. Untuk proses eksekusi hingga final dari video adzan berjalan lancar. Sedangkan untuk eksekusi video klip ane agak bingung dengan yang namanya talent. Ane butuh beberapa talent cewek dan satu talent cowok sebagai tokoh utamanya. Setelah ane kerahkan seluruh temen kontrakan ane sebagai talent cewek, satu masalah terlewati. Tinggal masalah talent cowok. Ane butuh wajah yang pas-pasan tapi masih bisa dipoles dikit biar cakep dan biar kelihatan perubahannya. FYI, ane bikin video klip lagunya Element yang Pacar Tanpa Tandingan. Konsepnya adalah pembuktian bahwa cowok yang serba pas-pasan juga bisa punya pacar.
Akhirnya ane nemu korban sebagai talent cowok.

Senin, 01 September 2014

CERITA DI BALIK KEGILAAN TUGAS-TUGAS KULIAH #1

Tugas? Rata-rata mahasiswa akan malas ketika mendengar kata itu sebagai penutup perkuliahan. Udah jelas ke mana arah pembicaraan dosen ketika mengucapkan kata itu. Paper. Makalah. Resume dan lain sebagainya.
Hal itu ‘tidak begitu’ berlaku di jurusan ane. Tapi bukan berarti sepenuhnya nggak laku. FYI, ane berada di bawah payung Program Studi Televisi dan Film sebuah universitas negeri.  Sebuah program studi televisi dan film satu-satunya di universitas negeri di negeri yang penuh masalah ini. Jarang-jarang aja ane dapat tugas buat bikin makalah, paper, resume atau sejenis saudara-saudaranya itu. Biasanya dosen ane ngasih tugas cukup ajaib untuk pertama kali di dengar. Apalagi bagi yang nggak pernah nyangka kalau bakal ada tugas-tugas ajaib itu. Kenapa ane bilang ajaib? Karena ini tidak biasa. Kenapa ini tidak biasa? Karena ini ajaib. Haha, muter-muter kayak kucing ngejar ekornya sendiri :D
Oke, ane akan kasih tahu beberapa tugas ane yang agak ajaib.

Jumat, 29 Agustus 2014

SECANGKIR KOPI PAHIT

      Masih ku rasakan pahit kopi ini. Aku masih berada di tempat dan bangku yang sama seperti saat kita sering menghabiskan waktu dulu. Ku rasakan pahit di setiap teguk kopiku bersama kenanganku. Bising jalanan di luar semakin tak terdengar. Bukan karena jalanan itu semakin sepi tetapi karena aku semakin kembali pada kenangan di tempat ini.
Enam tahun sudah kita tak menikmati kopi bersama di kafe ini. Masih ku ingat saat kau memesan kopi pahit dan tertukar dengan kopiku yang manis. Sejak saat itu kita lebih sering menikmati kopi bersama. Aku juga mulai menyukai kopi pahit. Bagiku kopi pahit itu tetap terasa manis asalkan aku menikmatinya bersamamu. Senyummu yang selalu terkulum di bibir manismu, membuatku tak pernah lupa akan pertemuan itu. Hampir setiap sore kita mengunjungi kafe ini hanya untuk menikmati secangkir kopi atau sekedar mengobrol ngalor ngidul.

BUNGA TERAKHIR

        Sudah tiga tahun sejak aku memberikan bunga terakhir kepada Alya. Mungkin itu menjadi hari yang tak akan terlupakan dan hari itu menjadi titik balik hidupku. Hampir setiap hari ku habiskan hari-hariku hanya untuk mengenang hari itu dan hari-hari indah bersama Alya. Tempat favoritku adalah tempat duduk dekat jendela kamar ini. Sebuah kamar berukuran kecil yang terbatasi dengan dunia luar oleh teralis besi jendela.
Aku bahagia ketika mendengar suara Alya dari telepon seluler. Sejak perceraianku dengan Mas Rudi, Alya ikut dengan ayahnya. Mas Rudi memang tinggal di luar kota sehingga aku jarang bertemu dengan Alya. Hanya sesekali Mas Rudi dan Alya berkunjung ke rumah.
Alya adalah putriku dengan Mas Rudi. Saat ini dia berusia 5 tahun. Dia cantik, periang, aktif, dan pintar. Tak jarang dia menanyakan banyak hal yang dijumpai setiap saat. Hal itu yang membuatku selalu merindukannya. Begitu tahu Alya akan datang aku sangat bahagia. Bagaimana tidak,

SURATKU UNTUK sang ADAM

“Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama yang ada padamu maka hilang pula cintaku padamu”

Aku pernah membaca quote itu pada sebuah jejaring sosial. Sebuah kalimat yang menunjukkan kejujuran berlandaskan iman kepada Sang Pemilik Cinta. Layaknya Adam dan Hawa kala itu. Sang Adam melanggar janjinya untuk tidak memakan buah khuldi. Karenanya ia terpisah dengan Hawa. Sang Adam pun bertemu kembali dengan sang Hawa setelah sekian ratus tahun berpisah. Dan itu karena cinta sang Adam kepada Hawa begitu besar yang berlandaskan iman kepada Pemilik Cinta.
Saat ini aku tengah menikmati hujan yang turun di hari yang mulai senja. Ku rasakan rindu yang mendalam datang bersama rintik hujan yang jatuh ke bumi. Dingin. Senyap. Begitu besar rindu yang menderaku. Lama ku rasakan dinginnya rinduku bertahan di sini. Perlahan tak ku dengarkan lagi suara hujan itu. Hilang. Lenyap bersama rinduku yang ku rasakan bersamamu.
Dan kini aku ingin menulis surat cintaku untuk sang Adam, pemilik tulang rusuk yang bengkok ini.

WAKTU DAN HATIKU BERBICARA

8 Maret 2014
22:59
Aku menyukai setiap detik waktu
Dan aku meyukai suara detak jam yang terus berputar
Tapi tak selamanya seperti itu..
Kadang aku membencinya
Bahkan sangat membencinya..
Tak banyak yang bisa aku katakan
Karena tak banyak yang aku tahu tentang waktu

Rabu, 27 Agustus 2014

'MAHASISWA TITIPAN' ATAU 'UANG TITIPAN'?

Kalo denger yang namanya ‘titipan’ biasanya identik dengan yang namanya amanah. Tapi apa benar semua titipan itu ‘amanah’? Ane sih nggak yakin bro. Pasalnya ane punya cerita dari temen ane yang katanya pernah punya pengalaman dengan yang namanya ‘titipan’.
Apa yang terlintas di benak kalian saat mendengar kata ”mahasiswa titipan”? mahasiswa yang dititipin ke ibu kos? Mahasiswa yang dititipin ke warung (semacam gorengan)? Atau malah mahasiswa yang dititipin ke baby sitter (sejenis bayi)? Terserah apa yang kalian pikirkan tentang pendapat itu tapi bukan itu yang ane maksud. Mahasiswa titipan yang ane maksud berbanding lurus dengan oknum penerima beasiswa di kampus.
Temen ane punya pengalaman pengajuan beasiswa di kampus. Setiap tahun kampus ane punya agenda penganugerahan beasiswa bagi mahasiswa/i yang memenuhi kriteria. Kenapa ane bilang kriteria dan bukan syarat? Karena menurut ane sebagian belum tepat sasaran. Sebut aja temen ane namanya Nini.

Selasa, 26 Agustus 2014

DRAMA QUEEN VS GENTLEST PRINCESS

Kali ini ane mau cerita tentang temen ane yang agak ajaib. Bisa dibilang dia salah satu “drama queen” yang pernah ane kenal. Demi nama baik dia dan keselamatan ane, sebut saja namanya Santi. Si Santi ini bro, sering banget menilai tindakan orang lain itu lebay. Padahal dirinya nggak jauh beda sama yang dilakukan orang-orang yang dia bilang lebay. Misalnya aja nih ya, kalo ada cewek yang cemburu karena pacarnya jalan sama orang lain, dia bilang itu nggak ngasih kebebasan. Dia sendiri juga gitu. Pacarnya duduk samping temen ceweknya aja diliriknya sampek nungging-nungging.
Pernah ada kejadian nih ya. Waktu itu sore hari di kampus tinggal ane, dia, sama beberapa temen ane termasuk dua sejoli sepasang kekasih temen satu angkatan ane. Di zaman ane banyak yang pacaran sama temen satu jurusan bahkan satu angkatan atau sama angkatan yang lebih tua. Jam udah sore tuh, udah hampir maghrib.

TIPE-TIPE MAHASISWA

Sebelum kenal sama yang namanya bangku kuliah (karena belum kenalan), ane pikir kuliah sama aja kayak sekolah biasa. Cuma kalau kuliah lebih tinggi tingkatannya. Jadi ya, ane pikir sih cuma belajar, tugas, nilai, dan sejenisnya. Tapi ternyata nggak. Ada banyak tipe mahasiswa/i di kampus karena menurut ane, kampus juga bisa disebut tempat merantaunya anak muda yang nyari-nyari ilmu. Pada dasarnya, ada beberapa tipe mahasiswa yang paling populer di kampus.

Mahasiswa Kupu-Kupu