Jumat, 29 Agustus 2014

SECANGKIR KOPI PAHIT

      Masih ku rasakan pahit kopi ini. Aku masih berada di tempat dan bangku yang sama seperti saat kita sering menghabiskan waktu dulu. Ku rasakan pahit di setiap teguk kopiku bersama kenanganku. Bising jalanan di luar semakin tak terdengar. Bukan karena jalanan itu semakin sepi tetapi karena aku semakin kembali pada kenangan di tempat ini.
Enam tahun sudah kita tak menikmati kopi bersama di kafe ini. Masih ku ingat saat kau memesan kopi pahit dan tertukar dengan kopiku yang manis. Sejak saat itu kita lebih sering menikmati kopi bersama. Aku juga mulai menyukai kopi pahit. Bagiku kopi pahit itu tetap terasa manis asalkan aku menikmatinya bersamamu. Senyummu yang selalu terkulum di bibir manismu, membuatku tak pernah lupa akan pertemuan itu. Hampir setiap sore kita mengunjungi kafe ini hanya untuk menikmati secangkir kopi atau sekedar mengobrol ngalor ngidul.

BUNGA TERAKHIR

        Sudah tiga tahun sejak aku memberikan bunga terakhir kepada Alya. Mungkin itu menjadi hari yang tak akan terlupakan dan hari itu menjadi titik balik hidupku. Hampir setiap hari ku habiskan hari-hariku hanya untuk mengenang hari itu dan hari-hari indah bersama Alya. Tempat favoritku adalah tempat duduk dekat jendela kamar ini. Sebuah kamar berukuran kecil yang terbatasi dengan dunia luar oleh teralis besi jendela.
Aku bahagia ketika mendengar suara Alya dari telepon seluler. Sejak perceraianku dengan Mas Rudi, Alya ikut dengan ayahnya. Mas Rudi memang tinggal di luar kota sehingga aku jarang bertemu dengan Alya. Hanya sesekali Mas Rudi dan Alya berkunjung ke rumah.
Alya adalah putriku dengan Mas Rudi. Saat ini dia berusia 5 tahun. Dia cantik, periang, aktif, dan pintar. Tak jarang dia menanyakan banyak hal yang dijumpai setiap saat. Hal itu yang membuatku selalu merindukannya. Begitu tahu Alya akan datang aku sangat bahagia. Bagaimana tidak,

SURATKU UNTUK sang ADAM

“Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama yang ada padamu maka hilang pula cintaku padamu”

Aku pernah membaca quote itu pada sebuah jejaring sosial. Sebuah kalimat yang menunjukkan kejujuran berlandaskan iman kepada Sang Pemilik Cinta. Layaknya Adam dan Hawa kala itu. Sang Adam melanggar janjinya untuk tidak memakan buah khuldi. Karenanya ia terpisah dengan Hawa. Sang Adam pun bertemu kembali dengan sang Hawa setelah sekian ratus tahun berpisah. Dan itu karena cinta sang Adam kepada Hawa begitu besar yang berlandaskan iman kepada Pemilik Cinta.
Saat ini aku tengah menikmati hujan yang turun di hari yang mulai senja. Ku rasakan rindu yang mendalam datang bersama rintik hujan yang jatuh ke bumi. Dingin. Senyap. Begitu besar rindu yang menderaku. Lama ku rasakan dinginnya rinduku bertahan di sini. Perlahan tak ku dengarkan lagi suara hujan itu. Hilang. Lenyap bersama rinduku yang ku rasakan bersamamu.
Dan kini aku ingin menulis surat cintaku untuk sang Adam, pemilik tulang rusuk yang bengkok ini.

WAKTU DAN HATIKU BERBICARA

8 Maret 2014
22:59
Aku menyukai setiap detik waktu
Dan aku meyukai suara detak jam yang terus berputar
Tapi tak selamanya seperti itu..
Kadang aku membencinya
Bahkan sangat membencinya..
Tak banyak yang bisa aku katakan
Karena tak banyak yang aku tahu tentang waktu

Rabu, 27 Agustus 2014

'MAHASISWA TITIPAN' ATAU 'UANG TITIPAN'?

Kalo denger yang namanya ‘titipan’ biasanya identik dengan yang namanya amanah. Tapi apa benar semua titipan itu ‘amanah’? Ane sih nggak yakin bro. Pasalnya ane punya cerita dari temen ane yang katanya pernah punya pengalaman dengan yang namanya ‘titipan’.
Apa yang terlintas di benak kalian saat mendengar kata ”mahasiswa titipan”? mahasiswa yang dititipin ke ibu kos? Mahasiswa yang dititipin ke warung (semacam gorengan)? Atau malah mahasiswa yang dititipin ke baby sitter (sejenis bayi)? Terserah apa yang kalian pikirkan tentang pendapat itu tapi bukan itu yang ane maksud. Mahasiswa titipan yang ane maksud berbanding lurus dengan oknum penerima beasiswa di kampus.
Temen ane punya pengalaman pengajuan beasiswa di kampus. Setiap tahun kampus ane punya agenda penganugerahan beasiswa bagi mahasiswa/i yang memenuhi kriteria. Kenapa ane bilang kriteria dan bukan syarat? Karena menurut ane sebagian belum tepat sasaran. Sebut aja temen ane namanya Nini.

Selasa, 26 Agustus 2014

DRAMA QUEEN VS GENTLEST PRINCESS

Kali ini ane mau cerita tentang temen ane yang agak ajaib. Bisa dibilang dia salah satu “drama queen” yang pernah ane kenal. Demi nama baik dia dan keselamatan ane, sebut saja namanya Santi. Si Santi ini bro, sering banget menilai tindakan orang lain itu lebay. Padahal dirinya nggak jauh beda sama yang dilakukan orang-orang yang dia bilang lebay. Misalnya aja nih ya, kalo ada cewek yang cemburu karena pacarnya jalan sama orang lain, dia bilang itu nggak ngasih kebebasan. Dia sendiri juga gitu. Pacarnya duduk samping temen ceweknya aja diliriknya sampek nungging-nungging.
Pernah ada kejadian nih ya. Waktu itu sore hari di kampus tinggal ane, dia, sama beberapa temen ane termasuk dua sejoli sepasang kekasih temen satu angkatan ane. Di zaman ane banyak yang pacaran sama temen satu jurusan bahkan satu angkatan atau sama angkatan yang lebih tua. Jam udah sore tuh, udah hampir maghrib.

TIPE-TIPE MAHASISWA

Sebelum kenal sama yang namanya bangku kuliah (karena belum kenalan), ane pikir kuliah sama aja kayak sekolah biasa. Cuma kalau kuliah lebih tinggi tingkatannya. Jadi ya, ane pikir sih cuma belajar, tugas, nilai, dan sejenisnya. Tapi ternyata nggak. Ada banyak tipe mahasiswa/i di kampus karena menurut ane, kampus juga bisa disebut tempat merantaunya anak muda yang nyari-nyari ilmu. Pada dasarnya, ada beberapa tipe mahasiswa yang paling populer di kampus.

Mahasiswa Kupu-Kupu