Selasa, 18 November 2014

DEMOCRACY – DEMOCRAZY – DEMONSTRASI

Beberapa hari lalu ane dengerin radio yang pas waktu siaran berita. Di radio itu diperdengarkan sekelompok mahasiswa suatu universitas nan jaoh di mato ane menyuarakan aspirasinya tentang penolakan kenaikan BBM dengan cara demo.
Mahasiswa oh Mahasiswa..
Demo sana-demo sini.. Mau apa to sebenarnya? Nuntut pemerintah pro-rakyat kecil tanpa menaikkan harga BBM? Tahu apa?? Hanya karena segelontor orang yang memiliki kepentingan pribadi di beberapa bagian? Emang udah yakin? Buktinya apa? Mau ngasih solusi alternatif? Apa?? Pembangunan kilang minyak untuk mengolah hasil bumi? Mau bangun pake apa? Emang bangun-bangun kayak gitu nggak butuh duit? Mau pake duit siapa? Duit rakyat?? Kan lagi-lagi duit rakyat –kecil. Itu tidak sedikit lho. Bisa jadi malah kepentingan bersama ini jadi jalan untuk memenuhi kepentingan pribadi segelontor orang tadi. Piye to, katanya intelektual? Kalau sudah begini mau apa? Demo lagi?? Ada kasus, demo lagi? Lagi-lagi demo. Ndak ada habisnya to nanti.

Ane juga nglihat hal serupa –demo kenaikan BBM– di aloon-aloon dan sekitar gedugn DPR kabupaten tempat ane kuliah. Hal yang sama juga diteriak-teriakkan, digembar-gemborkan rame-rame. Hari minggu mendingan istirahat dulu, capek setelah berkutat dengan tugas kuliah yang bejibun selama sepekan terakhir.
Baru-baru ini ane juga denger plus menyaksikan dengan salah dua panca indera ane, telinga dan mata, kalau temen-temen di kampus ane dari berbagai fakultas ngadain demo perkara jumlah dana yang digunakan untuk mengadakan serangkaian acara dalam acara Dies Natalis universitas ane. Kenapa mesti demo sih? Harus ya??
Salah satu kelompok demo yang ane lihat adalah temen-temen dari fakultas tetangga. Pagi itu mereka ngadain demo ke rektorat. Sebelum memasuki istana para pembesar universitas itu, mereka berkeliling –yang menurut ane itu adalah bentuk pencarian massa– dengan berorasi di jalan sekitar istana kampus. Bubur, eh jujur, sampai sekarang ane masih belum mafhum kenapa untuk menyampaikan aspirasi harus lewat demo? Apa nggak ada jalan lain?
Ane sendiri pernah tanya ke salah satu temen ane yang pernah ikut demo perihal ketidakmafhuman ane itu. Jawabannya adalah, “Secara ya, kita ngomong baik-baik aja nggak didenger. Jalan satu-satunya selain demo apalagi coba? Nggak ada cara lain.”
Sesederhana dan segampang itukah alasan untuk melakukan demo? Dangkal?? Ya, menurut ane, itu adalah alasan yang cukup dangkal dan belum bisa ane terima –sampai sekarang.
Menurut ane masih ada cara yang terlihat lebih elit dalam menyampaikan aspirasi untuk didengar. Kalau di fakultas ane, fakultasnya orang-orang kreatif dan kritis –nyombong dikit, hehe, aspirasi disampaikan lewat teatrikal atau tulisan. Terbukti ampuh untuk menarik perhatian para pejabat teras. Pernah hingga ada kasus yang cukup menggemparkan berkaitan dengan penyampaian aspirasi lewat media ini.
Pertama, kakak tingkat ane yang semester cukup matang terancam D.O. beberapa kali karena selembar tulisan yang dibuatnya. Ampuh banget bro buat menarik perhatian pejabat teras dan warga fakultas. Gempar. Selanjutnya yang lebih heboh dan gempar lagi adanya desas-desus tentang penghinaan yang dilakukan oleh pejabat teras kepada salah satu anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) pers mahasiswa. Menurut berita yang ande dengar dan ane baca, si mahasiswa ini awalnya mau mengajukan dana untuk penerbitan buletin kampus. Isi dari buletin kampus ini seringkali mengkritisi masalah keputusan dan kebijakan pihak kampus. Karena si mahasiswa adalah anak beasiswa, ia diancam bisa-bisa dana beasiswa yang selama ini menyokong hidup akademiknya dihentikan. Dengan ancaman ini si mahasiswa merasa takut dan terintimidasi.
Bahkan berita ini tersebar hingga luar kampus karena hal ini ditulis dan diposting di web UKM pers mahasiswa tersebut. Berita ini juga memancing tanggapan si pejabat teras. Semakin simpang siur aja berita ini. Akhirnya sebagai puncak dari kasus ini adalah diadakannya press-conference yang dihadiri oleh orang-orang yang bersangkutan beserta pers yang memiliki kepentingan liputan.
Dahsyat banget kekuatan tulisan itu bro. Lebih tajam daripada pedang, lebih keras daripada horn, dan lebih menarik perhatian daripada ikan duyung joget di tengah jalan :D
Tapi apapun itu bro, selagi masih bisa didiskusikan dan dibicarakan secara musyawarah untuk mencapai mufakat, seperti dasar negara kita, kenapa tidak? Nggak ruginya to? Malah untung, karena nggak perlu capek-capek dan nggak perlu ribet. Just take it easy bro :D

Apapun kebijakan pemerintah pasti sudah dipertimbangkan. Selama kebutuhan negara (rakyat) terpenuhi dengan lancar, ane rasa nggak masalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar