Beberapa hari lalu ane dengerin radio yang
pas waktu siaran berita. Di radio itu diperdengarkan sekelompok
mahasiswa suatu universitas nan jaoh di mato ane menyuarakan aspirasinya
tentang penolakan kenaikan BBM dengan cara demo.
Mahasiswa oh Mahasiswa..
Demo sana-demo sini.. Mau apa to
sebenarnya? Nuntut pemerintah pro-rakyat kecil tanpa menaikkan harga BBM? Tahu
apa?? Hanya karena segelontor orang yang memiliki kepentingan pribadi di
beberapa bagian? Emang udah yakin? Buktinya apa? Mau ngasih solusi alternatif?
Apa?? Pembangunan kilang minyak untuk mengolah hasil bumi? Mau bangun pake
apa? Emang bangun-bangun kayak gitu nggak butuh duit? Mau pake duit
siapa? Duit rakyat?? Kan lagi-lagi duit rakyat –kecil. Itu tidak sedikit lho.
Bisa jadi malah kepentingan bersama ini jadi jalan untuk memenuhi kepentingan
pribadi segelontor orang tadi. Piye to, katanya intelektual? Kalau sudah
begini mau apa? Demo lagi?? Ada kasus, demo lagi? Lagi-lagi demo. Ndak ada
habisnya to nanti.
Ane juga nglihat hal serupa –demo kenaikan
BBM– di aloon-aloon dan sekitar gedugn DPR kabupaten tempat ane kuliah. Hal yang
sama juga diteriak-teriakkan, digembar-gemborkan rame-rame. Hari minggu
mendingan istirahat dulu, capek setelah berkutat dengan tugas kuliah yang
bejibun selama sepekan terakhir.
Baru-baru ini ane juga denger plus menyaksikan
dengan salah dua panca indera ane, telinga dan mata, kalau temen-temen di
kampus ane dari berbagai fakultas ngadain demo perkara jumlah dana yang
digunakan untuk mengadakan serangkaian acara dalam acara Dies Natalis
universitas ane. Kenapa mesti demo sih? Harus ya??
Salah satu kelompok demo yang ane lihat
adalah temen-temen dari fakultas tetangga. Pagi itu mereka ngadain demo ke
rektorat. Sebelum memasuki istana para pembesar universitas itu, mereka
berkeliling –yang menurut ane itu adalah bentuk pencarian massa– dengan berorasi
di jalan sekitar istana kampus. Bubur, eh jujur, sampai sekarang ane masih
belum mafhum kenapa untuk menyampaikan aspirasi harus lewat demo? Apa nggak ada
jalan lain?
Ane sendiri pernah tanya ke salah satu
temen ane yang pernah ikut demo perihal ketidakmafhuman ane itu. Jawabannya
adalah, “Secara ya, kita ngomong baik-baik aja nggak didenger. Jalan
satu-satunya selain demo apalagi coba? Nggak ada cara lain.”
Sesederhana dan segampang itukah alasan
untuk melakukan demo? Dangkal?? Ya, menurut ane, itu adalah alasan yang cukup
dangkal dan belum bisa ane terima –sampai sekarang.
Menurut ane masih ada cara yang terlihat
lebih elit dalam menyampaikan aspirasi untuk didengar. Kalau di fakultas ane,
fakultasnya orang-orang kreatif dan kritis –nyombong dikit, hehe, aspirasi
disampaikan lewat teatrikal atau tulisan. Terbukti ampuh untuk menarik
perhatian para pejabat teras. Pernah hingga ada kasus yang cukup menggemparkan
berkaitan dengan penyampaian aspirasi lewat media ini.
Pertama, kakak tingkat ane yang semester cukup
matang terancam D.O. beberapa kali karena selembar tulisan yang dibuatnya.
Ampuh banget bro buat menarik perhatian pejabat teras dan warga fakultas.
Gempar. Selanjutnya yang lebih heboh dan gempar lagi adanya desas-desus tentang
penghinaan yang dilakukan oleh pejabat teras kepada salah satu anggota Unit
Kegiatan Mahasiswa (UKM) pers mahasiswa. Menurut berita yang ande dengar dan
ane baca, si mahasiswa ini awalnya mau mengajukan dana untuk penerbitan buletin
kampus. Isi dari buletin kampus ini seringkali mengkritisi masalah keputusan
dan kebijakan pihak kampus. Karena si mahasiswa adalah anak beasiswa, ia
diancam bisa-bisa dana beasiswa yang selama ini menyokong hidup akademiknya
dihentikan. Dengan ancaman ini si mahasiswa merasa takut dan terintimidasi.
Bahkan berita ini tersebar hingga luar
kampus karena hal ini ditulis dan diposting di web UKM pers mahasiswa
tersebut. Berita ini juga memancing tanggapan si pejabat teras. Semakin simpang
siur aja berita ini. Akhirnya sebagai puncak dari kasus ini adalah diadakannya press-conference
yang dihadiri oleh orang-orang yang bersangkutan beserta pers yang memiliki
kepentingan liputan.
Dahsyat banget kekuatan tulisan itu bro. Lebih
tajam daripada pedang, lebih keras daripada horn, dan lebih menarik perhatian
daripada ikan duyung joget di tengah jalan :D
Tapi apapun itu bro, selagi masih bisa
didiskusikan dan dibicarakan secara musyawarah untuk mencapai mufakat, seperti
dasar negara kita, kenapa tidak? Nggak ruginya to? Malah untung, karena nggak
perlu capek-capek dan nggak perlu ribet. Just take it easy bro :D
Apapun kebijakan pemerintah pasti sudah
dipertimbangkan. Selama kebutuhan negara (rakyat) terpenuhi dengan lancar, ane rasa nggak masalah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar