Supernova. Ya, siapa yang tak tahu karya science-fiction
yang fenomenal karya Dee ini. Supernova pertama dari tetralogi bukunya
diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama dari bukunya, “Supernova:
Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh”. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop pada
27 November 2014 lalu.
Karya fenomal Dee yang berjudul Supernova:
Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh dalam bentuk novel terbit pertama kali tahun
2001. Saya memang tak banyak mengerti tentang sains, tapi di sini Dee meyajikan
novelnya dengan kolaborasi science-fiction. Oleh karenanya saya sulit
memahami ketika pertama kali saya membaca novel tersebut. Dilanjutkan dengan
saya yang hanya membaca bagian awalnya saja maka saya belum menyelesaikan
perjalanan imajinasi saya dalam dunia science-fiction yang telah
diciptakan oleh Dee.
Ketika saya mendengar bahwa Supernova pertama milik
Dee ini akan dikemas dalam film layar lebar, hal pertama yang terlintas di
pikiran saya adalah betapa “beratnya” film ini nanti. Karena setiap karya Dee
bukan hanya sekedar karya fiksi yang memberikan referensi hiburan tapi juga
memberikan informasi yang mungkin sebagian orang belum tahu.
Kalimat yang saya ucapkan ketika pertama kali
menonton film Supernova ini adalah, “Ini karya Dee”. Itu terlihat jelas
dan khas dari cerita yang diutarakan. Film ini diproduseri oleh Sunil Soraya
dan disutradarai oleh Rizal Mantovani. Tokoh yang sama dari novelnya juga
dimunculkan, Ferre (Herjunot Ali), Rana (Raline Shah), Diva-Bintang Jatuh
(Paula Verhoeven), Arwin– suami Rana (Fedi Nuril), Reuben (Arifin Putra), dan
Dimas (Hamish Daud).
Reuben dan Dimas merupakan mahasiswa Indonesia
yang sedang menempuh studi di negeri Paman Sam. Pertemuan pertama yang tak
sengaja Dimas dan Reuben terjadi di Washington D.C. Pertemuan kedua Reuben dan
Dimas adalah pada sebuah acara teman Dimas yang mengadakan “pesta-kimia”
kecil-kecilan. Di situlah Reuben mengalami “badai serotonin” pertamanya. Ia
merasa sangat nyaman seperti saat meditasi. Di saat yang sama Dimas memberikan
pengakuan bahwa dirinya adalah seorang gay. Namun di luar dugaan, Reuben
bukannya terkejut tapi justru sebaliknya. Dimaslah yang dibuatnya terkejut
dengan pernyataan Reuben bahwa dirinya juga seorang gay, bahkan Reuben
telah coming out atas identitasnya itu sejak setahun yang lalu. Berbeda
dari pandangan orang yang menganggap bahwa lelaki gay itu klemak-klemek,
Reuben justru coming out atas identitasnya dengan tampilan yang
maskulin. Akhirnya mereka sepakat menjadi pasangan gay seperti halnya
pasangan normal lainnya yang sepakat menjalin kisah cinta (jadian).
Identitas sebagai seorang yang menyukai sesama
jenis, baik gay maupun lesbian, masih menjadi kaum minoritas di
Indonesia. Hal itulah yang juga menjadi terobosan baru dunia perfilman terhadap
film-film Orde Baru yang hanya menjadikan karakter gay sebagai olok-olok
yang perilaku dan kebiasaan femininnya diasosiakan sebagai waria. Contoh film
yang masuk dalam terobosan ini adalah Arisan!, yang menceritakan pasangan gay
yang awalnya mereka tidak berani mengakui identitas mereka hingga akhirnya
mereka berani coming out.
Selain pernyataan Dimas dan Reuben bahwa
dirinya adalah seorang gay, mereka berikrar bersama bahwa sepuluh tahun
dari saat itu mereka akan membuat sebuah karya, masterpiece. Sebuah
roman yang mampu menggerakkan semua orang. Dan sepuluh tahun kemudian mereka
bertemu di ibukota, Jakarta, untuk memulai karya mereka. Sebuah masterpiece.
Berawal dari sebuah dongeng yang menceritakan
seorang ksatria yang mencintai seorang putri, anak bungsu dari Kerajaan
Bidadari. Namun karena keterbatasannya, ksatria itu tak mampu mengejar Putri
yang jauh di awang-awang. Pada suatu malam ada bintang jatuh yang
menghampirinya dan menawarkan untuk mengantarnya pada sang putri. Hanya dengan
syarat bahwa ia harus berhenti tepat di mana sang putri berada. Jika tidak,
maka ia akan mati dan lebur dalam alam semesta. Ksatria pun setuju.
Bintang jatuh melesat ke angkasa secepat
cahaya. Ksatria yang melihat sang putri pun meminta untuk berhenti dan bintang
jatuh pun melihat sosok yang sangat menawan. Ia tertarik dan melepaskan
genggamannya. Sesosok makhluk bernyawa yang dipegangnya pun jatuh dan melebur
dengan alam semesta. Untuk menghargai pengorbanan si ksatria, maka muncullah
aurora di daerah kutub.
Jika dalam dongeng itu bintang jatuh adalah
seorang lelaki yang juga tertarik pada sang putri hingga ksatria kehilangan
nyawa dan kesempatannya bertemu sang putri, maka dalam karyanya, Dimas dan Reuben
melukiskan bintang jatuh sebagai seorang perempuan cantik yang mapan dan
sukses.
Saya tidak akan mengulas semua bagian dalam
film Supernova ini. Saya hanya ingin mengulas dari sisi Rana, sang Putri.
Rana adalah seorang fresh graduate dan telah
bekerja sebagai seorang jurnalis di sebuah majalah wanita. Suaminya yang tujuh
tahun lebih tua, Arwin, memiliki hobi berburu. Arwin berasal dari keluarga priyayi
yang dalam budaya jawa adalah kalangan kaya, berpendidikan, memiliki keududukan
tinggi, dihormati, dan cukup prestise.
Hari itu Rana hendak mewawancarai Re –panggilan
Ferre, seorang direktur yang sukses di usia muda, untuk majalahnya. Ia dikabari
dengan mendadak sehingga ia tak sempat menyiapkan bahan untuk wawancara. Itulah
pertemuan pertama Re dan Rana. Di mata Re, Rana adalah sang putri yang ia cari
selama ini. Sayangnya ia sudah bersuami. Itu diketahuinya dari cincin emas yang
melingkar di jari Rana. Di kemudian hari status Rana tak menjadi masalah.
Keduanya menjalin kasih.
Tampak dari mata Rana bahwa rumah tangganya
dengan Arwin tidak baik-baik saja. Ia berusaha menutupi itu dengan mengatakan
pada Re bahwa kehidupan rumah tangganya sejauh ini baik-baik saja.
Pernikahannya dengan Arwin bukan karena kehendak Rana sepenuhnya, melainkan
karena tuntutan orang tua Arwin. Mereka menganggap lebih baik menikah daripada
membuka kemungkinan untuk berzina. Sebuah pandangan yang tak pernah diketahui
Re karena sejak SMP ia tumbuh di San Fransisco.
Re dan Rana pun semakin akrab dan sering pergi
berdua. Rana merasa lebih nyaman bersama Re daripada bersama Arwin. “Kamu
memang mencintaiku dengan tepat Ferre”, kalimat itulah yang keluar dari
mulut Rana justru untuk kekasihnya, bukan pada suaminya. Rana rela menghabiskan
waktunya untuk bersama Re karena ia tak dapat merasakan kenyamanan yang sama
saat bersama Arwin. Bahkan ada sebuah scene saat Arwin hendak “menemuinya” di
tempat tidur, Rana justru berteriak dalam hatinya, “Jangan, Jangan lakukan
itu. Aku mohon. Re, tolong aku. Aku diperkosa”. Sebuah kalimat yang
seharusnya tidak muncul dari seorang istri yang sah.
Seperti kata pepatah, sedalam apapun bangkai
disembunyikan, pasti baunya akan tercium juga. Demikian juga dengan hubungan Re
dan Rana. Arwin mendapati informasi tentang mereka dari teman-temannya dan dari
cara pandang Rana kepada Re. Sebagai orang yang bijak dan terhormat, ia tak
langsung menuduh Rana. Ia mencari tahu terlebih dahulu meskipun pada akhirnya
ia mengetahui kebenaran itu pahit.
Rana selalu menginginkan bahwa jika waktu dapat
diputar ke belakang, ia ingin tak jadi menikah dengan Arwin. Ada sebuah
penyesalan dalam dirinya. Hanya jika dia bercerai dengan Arwin demi bersama Re,
itu seperti membuka aib. Bagi keluarga priyayi, perceraian adalah sebuah aib
yang besar. Situasi ini menjadikan Rana dilema. Seringkali Rana menangis di
malam hari yang secara diam-diam diketahui oleh Arwin.
Suatu ketika penyakit jantung Rana kambuh. Re
pun menjeguknya di rumah sakit, di tengah keluarga besar Rana dan Arwin. Di
saat itulah dua pria yang mencintai wanita yang sama bertemu dan memiliki
keinginan yang sama, menjaga pujaan hatinya setiap saat. Dan Re berada di pihak
yang kalah dan tak mendapatkan itu.
Dengan penuh cinta, Arwin berjanji pada
dirinya, ”Aku berjanji Rana. Begitu engkau sembuh nanti, aku akan
menjadikanmu perempuan paling bahagia di dunia. Mungkin itulah satu-satunya
kesempatanku. Aku berjanji”. Ini berarti ia harus rela jika Rana
benar-benar memilih Re sebagai kekasihnya.
Setelah sembuh dari sakitnya, Rana memikirkan
kembali keinginannya untuk bersama Re. Ia terus berdialog bahkan berdebat
dengan egonya sendiri. Perdebatan itu ditengahi oleh sebuah cyber avatar
–sebuah jaringan dunia maya– bernama Supernova. Hingga suatu malam, Arwin
mendapatinya sedang menangis. Tangis yang tak dapat lagi ditahannya. Di scene
ini perasaan saya tersentuh, tapi tak sampai menangis seperti Rana. Arwin berbisik
seraya mendekap Rana erat, “Jangan menangis. Aku mohon. Kalau kamu
benar-benar mencintainya, aku rela kamu pergi. Aku nggak akan mempersulit
keadaanmu. Keadaan kita. Kita sudah sama-sama sakit. Bukan begitu? Aku
mencintaimu. Terlalu mencintaimu. Kamu nggak akan pernah tahu betapa besar
perasaan ini. Perasaan ini cukup besar untukku kuat berjalan sendirian tanpa
harus kamu ada. .... Hanya saja tolong, jangan menangis lagi. Aku sudah terlalu
sering mendengar kamu mengais diam-diam, dan itu sangat menyakitkan. Aku mohon.
.... aku amat mencintaimu, istriku..atau bukan. Kamu tetap Rana yang kupuja.
Dan, aku yakin tidak akan ada yang melebihi perasaan ini. Andaikan saja kamu
tahu”.
Rana hanya terdiam mendengarkan kalimat panjang
Arwin. Sebuah pernyataan yang jujur dan dalam. Saya yakin, penonton akan
menebak bahwa akhirnya mereka berdua berpisah dan Rana berakhir bersama Re.
Saya pun demikian. Kemudian saya menyangkalnya karena ini terlalu mudah bagi
cerita Dee untuk ditebak.
Pada scene berikutnya dimunculkan jawaban atas
rasa penasaran penonton. Re mendapati sebuah surat dari Rana yang menyatakan
bahwa ia tak dapat bersamanya meskipun ia menyukai semua perasaan yang
dilaluinya bersama Re. Tapi Rana lebih memilih kembali bersama Arwin. Re yang
membaca surat itu serasa mendapati kiamat, hidupnya berakhir. Sang putri yang
ia cari selama ini, yang dianggapnya Rana sebagai sosok putri itu, lenyap. Sang
putri lebih memilih hidup dengan orang lain. Ia benar-benar hancur. Dan di
situlah sang bintang jatuh berperan, Diva.
Ada beberapa hal yang dapat saya tuliskan
tentang Rana. Pertama, ia seorang fresh graduate yang cerdas,
cantik, berasal dari keluarga terpandang, memiliki materi yang berkecukupan,
dan memiliki suami yang sungguh-sungguh mencintainya. Namun di balik itu semua
ia merasakan kekosongan di hatinya. Kedua, sebagai wanita modern yang
dibesarkan di lingkungan budaya jawa, ia mengerti tentang peran seorang istri
dalam budaya jawa. Masyarakat jawa menganut paham patriarki, yaitu menempatkan
laki-laki sebagai otoritas utama. Sedangkan wanita seringkali dianggap sebagai konco
wingking (teman belakang) yang hanya berorientasi pada 3M, macak
(berhias atau berdandan), masak (memasak untuk keluarga) dan manak
(melahirkan anak). Selain itu seorang istri juga harus bisa menjaga kehormatan
suaminya dan mematuhi semua yang diperintahkan.
Ketiga, sebagai wanita modern, Rana menginginkan kesetaraan gender.
Seperti penggambaran tentang dirinya yang ingin menentukan pilihannya sendiri
dalam hal pendamping hidup dan ia hidup sebagai wanita karir. Jika wanita jawa
diharapkan hanya untuk bisa melayani suami dan berada di wilayah domestik
(rumah tangga), maka wanita modern seperti Rana menginginkan hal yang lebih
dari itu. Kedudukan yang sama, memiliki hak menentukan pilihan, berkarir dan
mendapatkan apa yang diinginkannya, merupakan beberapa hal yang ada dalam
kesetaraan gender.
Supernova ini serupa dengan film Opera Jawa
karya Garin Nugroho. Opera Jawa sendiri menggambarkan tentang seorang istri
yang hendak mengekspresikan dirinya dalam bidang tari, namun demi mengabdi dan
patuh pada suami, Siti rela meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang penari. Bedanya
dalam Supernova ini sang istri ingin mengekspresikan dirinya sebagai wanita
modern yang berkarir.
Tekanan batin yang dialami Siti dalam Opera
Jawa adalah ketika ia seringkali ditinggal sendiri oleh suaminya dan tidak
dapat menyalurkan hasratnya. Siti juga merasakan kesepian dan kekosongan dalam
hatinya. Di saat seperti itu, Ludiro menggoda Siti yang hatinya kesepian hingga
Siti sempat tergoda namun akhirnya ia menyadari kesalahannya. Hal serupa juga
terjadi pada Rana. Tekanan batin yang juga dialami Rana adalah ia merasa hampa
dalam kehidupan rumah tangganya karena menurut saya sebenarnya Rana belum siap
membangun rumah tangga. Tekanan batin menjadi semakin kuat ketika ia
mengungkapkan bahwa kehidupan rumah tangga yang dijalaninya tak seperti yang ia
bayangkan sebelumnya, kehidupan yang harmonis dan romantis. Dalam hubungannya,
Rana tidak digoda oleh Re namun keduanya merasa ada kecocokan satu sama lain
sehingga mereka menjalin kasih. Namun pada akhirnya Rana tetaplah kembali pada
Arwin.
Keinginan Rana untuk bersama Re merupakan ego
yang harus ditahannya dengan super ego, yaitu aturan atau norma budaya jawa di
lingkungan keluarganya. Ia yang sebenarnya berharap bersama Re tapi karena
aturan yang berlaku adalah seorang istri harus patuh pada suami dan perceraian
merupakan aib bagi keluarganya –sebagai keluarga priyayi– maka ia menjalani
hubungan dengan Re secara diam-diam.
Pada sebuah scene digambarkan di mana
Rana berdiri di depan kantornya setelah diantar oleh Arwin. Ia membayangkan
masa lalu di mana ia tersenyum bahagia ketika lulus kuliah dan ketika Arwin
mengucapkan ijab qabul dalam pernikahan. Pernikahan yang didambanya sebagai
sesuatu yang indah namun pada nyatanya hal itu tak sejalan dengan apa yang
dibayangkannya. Saat itulah Rana berada di wilayah the mirror stage, di
mana ia memiliki keinginan-keinginan dalam dirinya. Sebelumnya ia hanya
menuruti semua yang diinginkan oleh orang tuanya, termasuk menikah muda.
Jadi, ada kesamaan antara Rana dan Siti –dalam
Opera Jawa. Keduanya berada dalam situasi yang sama, yaitu the mirror stage.
Mereka memiliki keinginan-keinginan yang tak dapat terpenuhi hingga akhirnya
mereka kembali pada kondisi awal mereka sebagai seorang istri yang melayani
suaminya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar