Rabu, 31 Desember 2014

RESENSI FILM "SUPERNOVA: KSATRIA, PUTERI, DAN BINTANG JATUH"


Supernova. Ya, siapa yang tak tahu karya ­science-fiction yang fenomenal karya Dee ini. Supernova pertama dari tetralogi bukunya diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama dari bukunya, “Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh”. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 27 November 2014 lalu.
Karya fenomal Dee yang berjudul Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh dalam bentuk novel terbit pertama kali tahun 2001. Saya memang tak banyak mengerti tentang sains, tapi di sini Dee meyajikan novelnya dengan kolaborasi science-fiction. Oleh karenanya saya sulit memahami ketika pertama kali saya membaca novel tersebut. Dilanjutkan dengan saya yang hanya membaca bagian awalnya saja maka saya belum menyelesaikan perjalanan imajinasi saya dalam dunia science-fiction yang telah diciptakan oleh Dee.
Ketika saya mendengar bahwa Supernova pertama milik Dee ini akan dikemas dalam film layar lebar, hal pertama yang terlintas di pikiran saya adalah betapa “beratnya” film ini nanti. Karena setiap karya Dee bukan hanya sekedar karya fiksi yang memberikan referensi hiburan tapi juga memberikan informasi yang mungkin sebagian orang belum tahu.



Kalimat yang saya ucapkan ketika pertama kali menonton film Supernova ini adalah, “Ini karya Dee”. Itu terlihat jelas dan khas dari cerita yang diutarakan. Film ini diproduseri oleh Sunil Soraya dan disutradarai oleh Rizal Mantovani. Tokoh yang sama dari novelnya juga dimunculkan, Ferre (Herjunot Ali), Rana (Raline Shah), Diva-Bintang Jatuh (Paula Verhoeven), Arwin– suami Rana (Fedi Nuril), Reuben (Arifin Putra), dan Dimas (Hamish Daud).
Reuben dan Dimas merupakan mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi di negeri Paman Sam. Pertemuan pertama yang tak sengaja Dimas dan Reuben terjadi di Washington D.C. Pertemuan kedua Reuben dan Dimas adalah pada sebuah acara teman Dimas yang mengadakan “pesta-kimia” kecil-kecilan. Di situlah Reuben mengalami “badai serotonin” pertamanya. Ia merasa sangat nyaman seperti saat meditasi. Di saat yang sama Dimas memberikan pengakuan bahwa dirinya adalah seorang gay. Namun di luar dugaan, Reuben bukannya terkejut tapi justru sebaliknya. Dimaslah yang dibuatnya terkejut dengan pernyataan Reuben bahwa dirinya juga seorang gay, bahkan Reuben telah coming out atas identitasnya itu sejak setahun yang lalu. Berbeda dari pandangan orang yang menganggap bahwa lelaki gay itu klemak-klemek, Reuben justru coming out atas identitasnya dengan tampilan yang maskulin. Akhirnya mereka sepakat menjadi pasangan gay seperti halnya pasangan normal lainnya yang sepakat menjalin kisah cinta (jadian).
Identitas sebagai seorang yang menyukai sesama jenis, baik gay maupun lesbian, masih menjadi kaum minoritas di Indonesia. Hal itulah yang juga menjadi terobosan baru dunia perfilman terhadap film-film Orde Baru yang hanya menjadikan karakter gay sebagai olok-olok yang perilaku dan kebiasaan femininnya diasosiakan sebagai waria. Contoh film yang masuk dalam terobosan ini adalah Arisan!, yang menceritakan pasangan gay yang awalnya mereka tidak berani mengakui identitas mereka hingga akhirnya mereka berani coming out.
Selain pernyataan Dimas dan Reuben bahwa dirinya adalah seorang gay, mereka berikrar bersama bahwa sepuluh tahun dari saat itu mereka akan membuat sebuah karya, masterpiece. Sebuah roman yang mampu menggerakkan semua orang. Dan sepuluh tahun kemudian mereka bertemu di ibukota, Jakarta, untuk memulai karya mereka. Sebuah masterpiece.
Berawal dari sebuah dongeng yang menceritakan seorang ksatria yang mencintai seorang putri, anak bungsu dari Kerajaan Bidadari. Namun karena keterbatasannya, ksatria itu tak mampu mengejar Putri yang jauh di awang-awang. Pada suatu malam ada bintang jatuh yang menghampirinya dan menawarkan untuk mengantarnya pada sang putri. Hanya dengan syarat bahwa ia harus berhenti tepat di mana sang putri berada. Jika tidak, maka ia akan mati dan lebur dalam alam semesta. Ksatria pun setuju.
Bintang jatuh melesat ke angkasa secepat cahaya. Ksatria yang melihat sang putri pun meminta untuk berhenti dan bintang jatuh pun melihat sosok yang sangat menawan. Ia tertarik dan melepaskan genggamannya. Sesosok makhluk bernyawa yang dipegangnya pun jatuh dan melebur dengan alam semesta. Untuk menghargai pengorbanan si ksatria, maka muncullah aurora di daerah kutub.
Jika dalam dongeng itu bintang jatuh adalah seorang lelaki yang juga tertarik pada sang putri hingga ksatria kehilangan nyawa dan kesempatannya bertemu sang putri, maka dalam karyanya, Dimas dan Reuben melukiskan bintang jatuh sebagai seorang perempuan cantik yang mapan dan sukses.
Saya tidak akan mengulas semua bagian dalam film Supernova ini. Saya hanya ingin mengulas dari sisi Rana, sang Putri.
Rana adalah seorang fresh graduate dan telah bekerja sebagai seorang jurnalis di sebuah majalah wanita. Suaminya yang tujuh tahun lebih tua, Arwin, memiliki hobi berburu. Arwin berasal dari keluarga priyayi yang dalam budaya jawa adalah kalangan kaya, berpendidikan, memiliki keududukan tinggi, dihormati, dan cukup prestise.
Hari itu Rana hendak mewawancarai Re –panggilan Ferre, seorang direktur yang sukses di usia muda, untuk majalahnya. Ia dikabari dengan mendadak sehingga ia tak sempat menyiapkan bahan untuk wawancara. Itulah pertemuan pertama Re dan Rana. Di mata Re, Rana adalah sang putri yang ia cari selama ini. Sayangnya ia sudah bersuami. Itu diketahuinya dari cincin emas yang melingkar di jari Rana. Di kemudian hari status Rana tak menjadi masalah. Keduanya menjalin kasih.
Tampak dari mata Rana bahwa rumah tangganya dengan Arwin tidak baik-baik saja. Ia berusaha menutupi itu dengan mengatakan pada Re bahwa kehidupan rumah tangganya sejauh ini baik-baik saja. Pernikahannya dengan Arwin bukan karena kehendak Rana sepenuhnya, melainkan karena tuntutan orang tua Arwin. Mereka menganggap lebih baik menikah daripada membuka kemungkinan untuk berzina. Sebuah pandangan yang tak pernah diketahui Re karena sejak SMP ia tumbuh di San Fransisco.
Re dan Rana pun semakin akrab dan sering pergi berdua. Rana merasa lebih nyaman bersama Re daripada bersama Arwin. “Kamu memang mencintaiku dengan tepat Ferre”, kalimat itulah yang keluar dari mulut Rana justru untuk kekasihnya, bukan pada suaminya. Rana rela menghabiskan waktunya untuk bersama Re karena ia tak dapat merasakan kenyamanan yang sama saat bersama Arwin. Bahkan ada sebuah scene saat Arwin hendak “menemuinya” di tempat tidur, Rana justru berteriak dalam hatinya, “Jangan, Jangan lakukan itu. Aku mohon. Re, tolong aku. Aku diperkosa”. Sebuah kalimat yang seharusnya tidak muncul dari seorang istri yang sah.
Seperti kata pepatah, sedalam apapun bangkai disembunyikan, pasti baunya akan tercium juga. Demikian juga dengan hubungan Re dan Rana. Arwin mendapati informasi tentang mereka dari teman-temannya dan dari cara pandang Rana kepada Re. Sebagai orang yang bijak dan terhormat, ia tak langsung menuduh Rana. Ia mencari tahu terlebih dahulu meskipun pada akhirnya ia mengetahui kebenaran itu pahit.
Rana selalu menginginkan bahwa jika waktu dapat diputar ke belakang, ia ingin tak jadi menikah dengan Arwin. Ada sebuah penyesalan dalam dirinya. Hanya jika dia bercerai dengan Arwin demi bersama Re, itu seperti membuka aib. Bagi keluarga priyayi, perceraian adalah sebuah aib yang besar. Situasi ini menjadikan Rana dilema. Seringkali Rana menangis di malam hari yang secara diam-diam diketahui oleh Arwin.
Suatu ketika penyakit jantung Rana kambuh. Re pun menjeguknya di rumah sakit, di tengah keluarga besar Rana dan Arwin. Di saat itulah dua pria yang mencintai wanita yang sama bertemu dan memiliki keinginan yang sama, menjaga pujaan hatinya setiap saat. Dan Re berada di pihak yang kalah dan tak mendapatkan itu.
Dengan penuh cinta, Arwin berjanji pada dirinya, ”Aku berjanji Rana. Begitu engkau sembuh nanti, aku akan menjadikanmu perempuan paling bahagia di dunia. Mungkin itulah satu-satunya kesempatanku. Aku berjanji”. Ini berarti ia harus rela jika Rana benar-benar memilih Re sebagai kekasihnya.
Setelah sembuh dari sakitnya, Rana memikirkan kembali keinginannya untuk bersama Re. Ia terus berdialog bahkan berdebat dengan egonya sendiri. Perdebatan itu ditengahi oleh sebuah cyber avatar –sebuah jaringan dunia maya– bernama Supernova. Hingga suatu malam, Arwin mendapatinya sedang menangis. Tangis yang tak dapat lagi ditahannya. Di scene ini perasaan saya tersentuh, tapi tak sampai menangis seperti Rana. Arwin berbisik seraya mendekap Rana erat, “Jangan menangis. Aku mohon. Kalau kamu benar-benar mencintainya, aku rela kamu pergi. Aku nggak akan mempersulit keadaanmu. Keadaan kita. Kita sudah sama-sama sakit. Bukan begitu? Aku mencintaimu. Terlalu mencintaimu. Kamu nggak akan pernah tahu betapa besar perasaan ini. Perasaan ini cukup besar untukku kuat berjalan sendirian tanpa harus kamu ada. .... Hanya saja tolong, jangan menangis lagi. Aku sudah terlalu sering mendengar kamu mengais diam-diam, dan itu sangat menyakitkan. Aku mohon. .... aku amat mencintaimu, istriku..atau bukan. Kamu tetap Rana yang kupuja. Dan, aku yakin tidak akan ada yang melebihi perasaan ini. Andaikan saja kamu tahu”.
Rana hanya terdiam mendengarkan kalimat panjang Arwin. Sebuah pernyataan yang jujur dan dalam. Saya yakin, penonton akan menebak bahwa akhirnya mereka berdua berpisah dan Rana berakhir bersama Re. Saya pun demikian. Kemudian saya menyangkalnya karena ini terlalu mudah bagi cerita Dee untuk ditebak.
Pada scene berikutnya dimunculkan jawaban atas rasa penasaran penonton. Re mendapati sebuah surat dari Rana yang menyatakan bahwa ia tak dapat bersamanya meskipun ia menyukai semua perasaan yang dilaluinya bersama Re. Tapi Rana lebih memilih kembali bersama Arwin. Re yang membaca surat itu serasa mendapati kiamat, hidupnya berakhir. Sang putri yang ia cari selama ini, yang dianggapnya Rana sebagai sosok putri itu, lenyap. Sang putri lebih memilih hidup dengan orang lain. Ia benar-benar hancur. Dan di situlah sang bintang jatuh berperan, Diva.
Ada beberapa hal yang dapat saya tuliskan tentang Rana. Pertama, ia seorang fresh graduate yang cerdas, cantik, berasal dari keluarga terpandang, memiliki materi yang berkecukupan, dan memiliki suami yang sungguh-sungguh mencintainya. Namun di balik itu semua ia merasakan kekosongan di hatinya. Kedua, sebagai wanita modern yang dibesarkan di lingkungan budaya jawa, ia mengerti tentang peran seorang istri dalam budaya jawa. Masyarakat jawa menganut paham patriarki, yaitu menempatkan laki-laki sebagai otoritas utama. Sedangkan wanita seringkali dianggap sebagai konco wingking (teman belakang) yang hanya berorientasi pada 3M, macak (berhias atau berdandan), masak (memasak untuk keluarga) dan manak (melahirkan anak). Selain itu seorang istri juga harus bisa menjaga kehormatan suaminya dan mematuhi semua yang diperintahkan.
Ketiga, sebagai wanita modern, Rana menginginkan kesetaraan gender. Seperti penggambaran tentang dirinya yang ingin menentukan pilihannya sendiri dalam hal pendamping hidup dan ia hidup sebagai wanita karir. Jika wanita jawa diharapkan hanya untuk bisa melayani suami dan berada di wilayah domestik (rumah tangga), maka wanita modern seperti Rana menginginkan hal yang lebih dari itu. Kedudukan yang sama, memiliki hak menentukan pilihan, berkarir dan mendapatkan apa yang diinginkannya, merupakan beberapa hal yang ada dalam kesetaraan gender.
Supernova ini serupa dengan film Opera Jawa karya Garin Nugroho. Opera Jawa sendiri menggambarkan tentang seorang istri yang hendak mengekspresikan dirinya dalam bidang tari, namun demi mengabdi dan patuh pada suami, Siti rela meninggalkan pekerjaannya sebagai seorang penari. Bedanya dalam Supernova ini sang istri ingin mengekspresikan dirinya sebagai wanita modern yang berkarir.
Tekanan batin yang dialami Siti dalam Opera Jawa adalah ketika ia seringkali ditinggal sendiri oleh suaminya dan tidak dapat menyalurkan hasratnya. Siti juga merasakan kesepian dan kekosongan dalam hatinya. Di saat seperti itu, Ludiro menggoda Siti yang hatinya kesepian hingga Siti sempat tergoda namun akhirnya ia menyadari kesalahannya. Hal serupa juga terjadi pada Rana. Tekanan batin yang juga dialami Rana adalah ia merasa hampa dalam kehidupan rumah tangganya karena menurut saya sebenarnya Rana belum siap membangun rumah tangga. Tekanan batin menjadi semakin kuat ketika ia mengungkapkan bahwa kehidupan rumah tangga yang dijalaninya tak seperti yang ia bayangkan sebelumnya, kehidupan yang harmonis dan romantis. Dalam hubungannya, Rana tidak digoda oleh Re namun keduanya merasa ada kecocokan satu sama lain sehingga mereka menjalin kasih. Namun pada akhirnya Rana tetaplah kembali pada Arwin.
Keinginan Rana untuk bersama Re merupakan ego yang harus ditahannya dengan super ego, yaitu aturan atau norma budaya jawa di lingkungan keluarganya. Ia yang sebenarnya berharap bersama Re tapi karena aturan yang berlaku adalah seorang istri harus patuh pada suami dan perceraian merupakan aib bagi keluarganya –sebagai keluarga priyayi– maka ia menjalani hubungan dengan Re secara diam-diam.
Pada sebuah scene digambarkan di mana Rana berdiri di depan kantornya setelah diantar oleh Arwin. Ia membayangkan masa lalu di mana ia tersenyum bahagia ketika lulus kuliah dan ketika Arwin mengucapkan ijab qabul dalam pernikahan. Pernikahan yang didambanya sebagai sesuatu yang indah namun pada nyatanya hal itu tak sejalan dengan apa yang dibayangkannya. Saat itulah Rana berada di wilayah the mirror stage, di mana ia memiliki keinginan-keinginan dalam dirinya. Sebelumnya ia hanya menuruti semua yang diinginkan oleh orang tuanya, termasuk menikah muda.
Jadi, ada kesamaan antara Rana dan Siti –dalam Opera Jawa. Keduanya berada dalam situasi yang sama, yaitu the mirror stage. Mereka memiliki keinginan-keinginan yang tak dapat terpenuhi hingga akhirnya mereka kembali pada kondisi awal mereka sebagai seorang istri yang melayani suaminya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar