Dewi Lestari
atau yang lebih dikenal dengan nama pena Dee mengawali karirnya sebagai seorang
penyanyi. Penyanyi cantik ini memang berbakat di bidang kepenulisan. Sayangnya
tak banyak yang tahu hal itu. Dee mulai menulis sejak masih duduk di bangku
SMU. Salah satu cerita pendeknya yang pernah dimuat di media cetak adalah Sikat
Gigi yang dimuat di buletin seni Jendela Newsletter –sebuah media berbasis budaya
yang independen dan berskala kecil untuk kalangan sendiri. Tulisan
lainnya yang juga pernah dibuatnya pada tahun 1993 adalah Ekspresi yang pada
saat itu ia kirim ke majalah Gadis yang sedang mengadakan lomba. Tulisannya itu
mendapatkan juara pertama. Tiga tahun berselang, ia menulis sebuah cerita
bersambung berjudul Rico de Coro. Novel pertamanya berjudul Supernova: Ksatria,
Puteri, dan Bintang Jatuh. Dee semakin giat menulis dan terbitlah buku-buku
selanjutnya seperti Supernova: Akar, Supernova: Petir, Supernova: Partikel –yang
merupakan tetralogi novel Supernova, Filosofi Kopi,
Perahu Kertas –yang diangkat menjadi film layar lebar besutan sutradara kenamaan
Hanung Bramantyo, Madre, dan Rectoverso.
Ya,
Rectoverso! Sebuah buku yang bertajuk 11 cerita pendek dan 11 lagu ini
merupakan sumber adaptasi sebuah film omnibus yang berjudul sama dengan buku
aslinya. Rectoverso sendiri menurut Dee adalah pengistilahan untuk dua citra
yang seolah terpisah tapi sesungguhnya satu kesatuan, saling melengkapi –dalam
hal ini adalah musik dan buku. Begitu pula cara Dee memandang hidup yang
memiliki keberagaman yang sesungguhnya adalah kesatuan hakiki yang tersembunyi.
Dee telah mengumpulkan sebelas lagunya dan mengubahnya dalam bentuk prosa
selama satu tahun. Ia menyukai angka ini, 11:11. Angka ini dikenal mewakili
kehadiran alam spiritual yang bersandingan dengan alam material –seperti dalam
buku-buku yang sebelumnya, Dee selalu menyisipkan nilai spiritual dalam
karyanya. Dari sebelas cerita, lima diantaranya diangkat menjadi sebuah film
layar lebar. Kelima cerita ini mengisahkan tentang perasaan cinta yang tak berbalas,
perasaan cinta seorang sahabat yang kemudian tumbuh lebih dari itu, cinta pada
pertemuan pertama, hingga perasaan cinta yang muncul dari sebuah klub bahkan
dari sebuah pertemanan mail list.
Sebenarnya
belum banyak yang saya ketahui tentang sebuah resensi film, khususnya film omnibus.
Apakah ini sama dengan resensi film-film lainnya atau tidak, saya belum tahu.
Tapi dalam tulisan ini saya ingin mencoba meresensi film yang diadaptasi dari
buku Dee yang disutradarai oleh lima artis cantik –Marcella Zalianty, Olga
Lydia, Cathy Sharon, Rachel Maryam dan yang terakhir Happy Salma.
Ketika
ditanya perihal lagu Malaikat Juga Tahu, pasti —hampir— semua orang akan bilang
tahu lagu itu. Ya, lagu itu menjadi soundtrack di film yang sama! Film
ini mengisahkan seorang lelaki yang cintanya tak berbalas, yang diperankan oleh
Lukman Sardi (Abang). Abang yang notabene memiliki keterbelakangan mental,
menyukai hal-hal yang sempurna. Hal itu ditunjukkan Abang yang memiliki seratus
sabun mandi dan menyusunnya menjadi sebuah bentuk piramida. Angka seratus ini
menurut Abang adalah kesempurnaan. Seperti orang yang memiliki keterbelakangan
mental lainnya, tak banyak yang bisa dilakukan Abang sehari-hari. Meskipun
begitu, Abang masih memiliki perasaan cinta yang bisa tumbuh dan itu terjadi
setelah Abang berteman dengan Leia (Prisia Nasution) sekian lama. Leia selama
ini kos di rumah Bunda (Dewi Irawan), ibu Abang. Bunda yang mengetahui perasaan
Abang mulai merasa khawatir karena di sisi lain Leia lebih memilih Hans
(Marcell Damits), adik Abang yang normal, sebagai pasangannya. Bunda
memperingatkan Leia dan Hans untuk menyembunyikan hubungan mereka dari Abang
karena Bunda takut Abang tidak bisa menerima kenyataan.
Di
sini kita bisa melihat bahwa Leia, sebagai ‘manusia normal’, lebih menuruti
egonya yang memilih Hans, ‘manusia normal’ lainnya, sebagai pasangan yang
notabene bisa saja pasangannya itu jatuh cinta pada perempuan lain. Tidak
seperti Abang yang memiliki keterbelakangan mental. Abang hanya bisa jatuh
cinta satu kali dan cintanya tulus. Jika kita melihat kisah ini dari sudut
pandang teori Barthes, Abang mengartikan kedekatannya dengan Leia lebih dari
sekedar teman. Penampakan yang muncul adalah Abang dan Leia berteman. Namun di
balik itu ada perasaan yang mendalam dari Abang untuk Leia. Leia adalah cinta
pertama Abang dan –mungkin– cinta terakhirnya. Leia adalah segalanya buat
Abang. Bahkan Leia dianggapnya sempurna. Seperti di bagian akhir kisah ini,
Abang menuliskan “Seratus sempurna. Kamu satu lebih lebih sempurna”.
Kita
juga bisa menggunakan teori psikologi Freud dan teori semiotika Barthes ini
untuk melihat keempat film lainnya. Kita lanjutkan saja pada film Curhat Buat
Sahabat yang disutradarai oleh Olga Lydia. Di film ini Olga Lydia mencoba
menggambarkan peran seorang sahabat yang selalu ada untuk sahabatnya. Kapan pun
dan di mana pun, sahabat ini siap mendengarkan curhatan sahabatnya sendiri.
Diperankan oleh Acha Septriasa sebagai Amanda dan Indra Birowo sebagai Reggy,
sahabat Amanda. Amanda ibarat hujan sepanjang masa yang datang setiap saat dan
di mana saja hanya untuk meluapkan kisah cintanya kepada Reggy. Amanda selalu
menceritakan semua pacar-pacarnya kepada Reggy bahkan saat Amanda baru jadian
atau putus pun, Reggy menjadi tempat luapan ceritanya. Bisa dikatakan Reggy
seperti diary, penadah curhatan Amanda.
Amanda
yang merasa dibodohi pacarnya memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungannya
lagi karena sudah merasa cukup lelah. Sebenarnya tak banyak yang diinginkan
Amanda. Ia hanya ingin ada seseorang yang mau sayang kepadanya apa adanya.
Seseorang yang mau datang ke rumahnya jam berapapun saat Amanda sakit, sekedar
untuk mengambilkan segelas air putih. Dan Reggy telah melakukan hal itu, tentu
tanpa sepengetahuan Amanda. Bahkan Reggy selalu memakai jaket yang diberi oleh
Amanda meski jaket itu mulai tampak usang. Di sinilah teori Barthes memaknai
sebuah jaket yang tidak hanya berfungsi sebagai baju yang menghangatkan badan
tetapi juga sebagai benda yang sangat berharga dari seseorang yang dicintainya.
Reggy yang selama ini memendam perasaan cintanya kepada Amanda, tak pernah
sekalipun mencoba mengatakannya. Ia hanya ingin melihat Amanda bahagia, –dengan
siapapun– dengan menjadi tempat curhatnya. Ia menggunakan super egonya untuk
menahan perasaannya, di mana ia memilih untuk tetap menjadi sahabat dan tempat
curhat bagi Amanda daripada menyatakan perasaannya kepada Amanda. Bandingkan
dengan film Refrain yang dimainkan oleh Afgan Syhreza dan Maudy Ayunda.
Persahabatan Afgan dan Maudy sejak kecil itu pun juga berakhir dengan cinta.
Entah mulai kapan, Afgan mulai mencintai Maudy lebih dari seorang sahabat.
Awalnya Afgan tak ingin mengatakan perasaannya kepada Maudy. Namun pada suatu
ketika ia ‘keceplosan’ bilang bahwa ia mecintai Maudy lebih dari seorang
sahabat. Tak ayal, hal itu membuat Maudy kesal karena ia hanya menganggap Afgan
tak lebih dari sahabat. Akhirnya Afgan pun yang terlanjur basah dengan
omongannya, melepas super egonya yang selama ini memendam perasaan cintanya
kepada Maudy.
Tokoh
yang juga menggunakan super egonya untuk mengurung perasaannya adalah Taja yang
diperankan oleh Yama Carlos dalam film Cicak Di Dinding dan Al yang diperankan
oleh Amanda Soekasah dalam film Hanya Isyarat yang disutradari oleh Happy
Salma.
Taja
yang berprofesi sebagai seorang pelukis merasa penat dengan aktivitasnya dan
memilih untuk mencari hiburan dengan pergi ke sebuah bar. Tak disangka, di
tempat itu ia menemukan sosok perempuan yang diliriknya sejak awal dan
membuatnya jatuh cinta. Namun perasaan itu berubah suatu ketika dalam sebuah
pertemuan Taja bertemu dengan sahabatnya, Irwan (Tio Pakusadewo). Di pertemuan
itu Irwan memperkenalkan tunangan sekaligus calon istrinya, yaitu Saras yang
diperankan oleh Sophia Latjuba, yang ternyata adalah perempuan yang telah
membuat Taja jatuh cinta pada pandangan pertama, kedua dan seterusnya sampai
mati. Mengetahui hal itu, Taja merasa patah hati pada pandangan pertama, kedua
dan seterusnya, moga-moga tidak sampai mati –seperti yang disebutkan dalam
bukunya.
Menurut
saya, film ini merusak imajinasi saya dibandingkan dengan saat saya membaca
cerpennya. Terutama dengan penggambaran sosok Saras. Saat saya membaca
cerpennya, image yang tergambar tentang Saras adalah sosok perempuan
polos yang sederhana dan bukan perempuan “liar” seperti yang digambarkan dalam
film ini di beberapa adegan. Kekecewaan saya muncul sejak dari awal, sejak pertemuan
Taja dan Saras di bar.
Keputusan
Taja untuk tidak menghadiri pernikahan Irwan dan Saras adalah caranya untuk
menahan diri dalam super ego. Taja menyembunyikan rasa cintanya kepada Saras
demi kebahagiaan sahabatnya. Ia rela melepas Saras untuk menikah dengan Irwan.
Namun Taja memiliki cara lain untuk selalu menyampaikan rasa cintanya. Ia
melukiskan gambar cicak pada salah satu dinding kamar Saras sebagai hadiah
pernikahannya dengan Irwan. Gambar cicak itu tampak berpendar ketika lampu
kamarnya dimatikan. Dan jelaslah, gambar itu terdiri dari gambar-gambar cicak
yang kecil yang tersusun menjadi gambar cicak yang lebih besar. Seketika,
tampak oleh Saras bayangan Taja yang berjalan mendekatinya. Gambar cicak itu
dipilihnya untuk mewakili perasaan Taja ingin selalu berada di dekat Saras
seperti cicak yang selalu menempel di dinding.
Lanjut
ke film berikutnya.
Ketika
menonton film Hanya Isyarat, hal pertama yang saya lakukan adalah membandingkan
dengan kehidupan yang saya alami. Dari kelima film, film inilah yang paling
saya suka. Meskipun orang mengatakan bahwa tak mungkin ada orang yang rela
mencintai tanpa memiliki adalah suatu kebohongan, maka di film ini hal itu
tidak berlaku. Meskipun saya sendiri belum pernah merasakan bagaimana rasanya
mencintai seseorang yang tak mungkin untuk dimiliki. Hanya saja saya pernah
mengagumi seseorang yang mungkin orang itu tak tahu bahwa saya mengaguminya.
Sudahlah,
kembali lagi pada kisah Al! Al yang sudah lama menjalin pertemanan dengan
beberapa orang melalui mail list, jatuh cinta pada salah satu di
antaranya. Tentunya Al adalah satu-satunya perempuan dalam pertemanan itu. Mereka
sama-sama menyukai travelling. Al hanya bisa menikmati rasa cintanya itu
melalui siluet punggung orang yang dicintainya. Al tidak tahu warna bola mata
orang yang dicintainya itu. Itu berarti belum pernah sekalipun Al menatap
langsung orang itu. Orang itu adalah Raga, diperankan oleh Hamish Daud.
Dalam
sebuah permainan, Al diajak untuk ikut dalam permainan itu. Awalnya Al menolak.
Namun akhirnya ia mau ikut saat Raga mengambil sebuah kursi untuknya.
Peraturannya adalah setiap dari mereka harus menceritakan cerita sedih dan
siapa yang ceritanya paling sedih dialah pemenangnya. Ada yang bercerita
tentang mantan, bencana alam, keluarga, dan hal-hal lain yang melatarbelakangi
mereka menyukai travelling.
Tiba
giliran Al bercerita. Ia bercerita tentang dirinya yang telah jatuh cinta pada
seseorang namun hanya bisa menikmati siluet punggungnya saja. Ia tahu bahwa ia
tak akan bisa memiliki orang tersebut. Bagi Al bisa menikmati siluet punggung
orang yang dicintainya pun sudah cukup. Semua tertegun dan menatap Al, menunggu
cerita apalagi yang akan keluar dari mulutnya. Perempuan yang selama ini
menjaga jarak dengan mereka dan hanya menjadi latar, ternyata mampu berkata dan
membuat mereka semua terdiam mendengarkan. Saat bercerita itulah, Al sempat
menatap mata Raga yang akhirnya dia tahu bahwa warna matanya adalah coklat
muda.
Al
yang sejatinya bisa saja mengungkapkan rasa cintanya kepada Raga memilih untuk
tidak mengatakannya. Al bertahan dalam super egonya dengan hanya menikmati
siluet punggung Raga. Siluet punggung yang bagi kebanyakan orang adalah hal
yang biasa dan tak berarti apa-apa namun bagi Al itulah cintanya. Sebuah cinta yang
tak terucap dan hanya dirinya yang tahu.
Film
terakhir dalam bahasan resensi ini adalah Firasat yang bintangi oleh Asmirandah
sebagai Senja dan Dwi Sasono sebagai Panca. Senja jatuh cinta pada Panca karena
kepekaannya terhadap bahasa alam dan firasat yang dirasakannya. Rasa cinta itu
muncul dari sebuah rasa hormat dan segan. Panca merupakan pendiri sebuah klub
yang setiap kali pertemuan anggotanya secara bergantian bercerita tentang
firasat yang dirasakannya. Pernah suatu ketika Senja bertanya, “Kalau kita
punya firasat tentang seseorang, apa kita harus ngasih tahu orang itu?”.
Menurutnya, paling tidak untuk peringatan agar orang itu lebih berhati-hati. Ia
juga menuturkan, bisakah dengan memperingatkan orang tentang firasat kita bisa
membatalkan kejadian itu? Dengan bijak Panca menjawab, “Kalau kamu memang
perlu memperingatkan, kamu pasti bisa. Tapi kalau nggak perlu, kamu mau
berusaha sekuat apapun, yang harus terjadi pasti akan terjadi”.
Firasat
Senja itu sebenarnya tentang Panca. Ia merasa bahwa akan ada sesuatu yang buruk
yang akan terjadi pada Panca. Hal itu diperkuat dengan mimpi yang dialaminya
dan saat Panca bilang akan pulang menjenguk ibunya yang sakit keras. Senja tahu
bahwa orang tua Panca tinggal di luar kota. Di sini ego Senja mulai bermain. Ia
meminta Panca untuk tetap tinggal. Senja telah berusaha mencegahnya. Ia
mengatakan bahwa akan ada hal buruk yang akan menimpanya. Namun usahanya
sia-sia. Egonya yang menginginkan Panca untuk tetap berada disampingnya kalah
telak dengan bakti Panca terhadap orang tuanya. Panca tetap pergi. Senja tak
dapat mencegahnya seperti saat ayah dan adiknya pergi meninggalkan dia dan
ibunya untuk selamanya. Sebelum berangkat, Panca menitipkan sebuah buku kepada
ibu Senja. Satu-satunya benda yang menjadi tempat pelampiasan sisa cinta Senja
untuk Panca. Dan buku itulah yang akan selalu menemani Senja layaknya Panca
yang berada di sampingnya.
Teori
psikologi Freud tentang ego dan super ego serta teori Barthes tentang memaknai
sesuatu lebih dari apa yang tampak memberikan sudut pandang yang lain dari
hanya sekedar menonton sebuah film omnibus bertajuk Cinta Yang Tak Terucap ini.
Sikap-sikap yang ditunjukkan dan tanda-tanda yang ada menunjukkan bahwa setiap
tokoh dalam film ini ingin menyampaikan cinta yang tak terucapnya dengan cara
yang berbeda. Pada kisah Reggy, Taja, dan Al, mereka telah menggantikan atau
mensublimasi rasa cinta mereka dengan menjadi sosok yang selalu ada di dekatnya
tanpa harus menjadi pasangannya. Sedangkan Leia, yang sejatinya adalah ‘manusia
normal’ tetap mengikuti egonya untuk memilih ‘manusia normal’ lainnya sebagai
pasangannya. Dan Senja yang telah mengatakan firasatnya kepada Panca, harus
kembali mengalami hal yang sama seperti saat ayah dan adiknya pergi untuk
selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar