Kamis, 01 Januari 2015

RESENSI FILM “RECTOVERSO”


Dewi Lestari atau yang lebih dikenal dengan nama pena Dee mengawali karirnya sebagai seorang penyanyi. Penyanyi cantik ini memang berbakat di bidang kepenulisan. Sayangnya tak banyak yang tahu hal itu. Dee mulai menulis sejak masih duduk di bangku SMU. Salah satu cerita pendeknya yang pernah dimuat di media cetak adalah Sikat Gigi yang dimuat di buletin seni Jendela Newsletter –sebuah media berbasis budaya yang independen dan berskala kecil untuk kalangan sendiri. Tulisan lainnya yang juga pernah dibuatnya pada tahun 1993 adalah Ekspresi yang pada saat itu ia kirim ke majalah Gadis yang sedang mengadakan lomba. Tulisannya itu mendapatkan juara pertama. Tiga tahun berselang, ia menulis sebuah cerita bersambung berjudul Rico de Coro. Novel pertamanya berjudul Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. Dee semakin giat menulis dan terbitlah buku-buku selanjutnya seperti Supernova: Akar, Supernova: Petir, Supernova: Partikel –yang merupakan tetralogi novel Supernova, Filosofi Kopi, Perahu Kertas –yang diangkat menjadi film layar lebar besutan sutradara kenamaan Hanung Bramantyo, Madre, dan Rectoverso.
Ya, Rectoverso! Sebuah buku yang bertajuk 11 cerita pendek dan 11 lagu ini merupakan sumber adaptasi sebuah film omnibus yang berjudul sama dengan buku aslinya. Rectoverso sendiri menurut Dee adalah pengistilahan untuk dua citra yang seolah terpisah tapi sesungguhnya satu kesatuan, saling melengkapi –dalam hal ini adalah musik dan buku. Begitu pula cara Dee memandang hidup yang memiliki keberagaman yang sesungguhnya adalah kesatuan hakiki yang tersembunyi. Dee telah mengumpulkan sebelas lagunya dan mengubahnya dalam bentuk prosa selama satu tahun. Ia menyukai angka ini, 11:11. Angka ini dikenal mewakili kehadiran alam spiritual yang bersandingan dengan alam material –seperti dalam buku-buku yang sebelumnya, Dee selalu menyisipkan nilai spiritual dalam karyanya. Dari sebelas cerita, lima diantaranya diangkat menjadi sebuah film layar lebar. Kelima cerita ini mengisahkan tentang perasaan cinta yang tak berbalas, perasaan cinta seorang sahabat yang kemudian tumbuh lebih dari itu, cinta pada pertemuan pertama, hingga perasaan cinta yang muncul dari sebuah klub bahkan dari sebuah pertemanan mail list.

Sebenarnya belum banyak yang saya ketahui tentang sebuah resensi film, khususnya film omnibus. Apakah ini sama dengan resensi film-film lainnya atau tidak, saya belum tahu. Tapi dalam tulisan ini saya ingin mencoba meresensi film yang diadaptasi dari buku Dee yang disutradarai oleh lima artis cantik –Marcella Zalianty, Olga Lydia, Cathy Sharon, Rachel Maryam dan yang terakhir Happy Salma.
Ketika ditanya perihal lagu Malaikat Juga Tahu, pasti —hampir— semua orang akan bilang tahu lagu itu. Ya, lagu itu menjadi soundtrack di film yang sama! Film ini mengisahkan seorang lelaki yang cintanya tak berbalas, yang diperankan oleh Lukman Sardi (Abang). Abang yang notabene memiliki keterbelakangan mental, menyukai hal-hal yang sempurna. Hal itu ditunjukkan Abang yang memiliki seratus sabun mandi dan menyusunnya menjadi sebuah bentuk piramida. Angka seratus ini menurut Abang adalah kesempurnaan. Seperti orang yang memiliki keterbelakangan mental lainnya, tak banyak yang bisa dilakukan Abang sehari-hari. Meskipun begitu, Abang masih memiliki perasaan cinta yang bisa tumbuh dan itu terjadi setelah Abang berteman dengan Leia (Prisia Nasution) sekian lama. Leia selama ini kos di rumah Bunda (Dewi Irawan), ibu Abang. Bunda yang mengetahui perasaan Abang mulai merasa khawatir karena di sisi lain Leia lebih memilih Hans (Marcell Damits), adik Abang yang normal, sebagai pasangannya. Bunda memperingatkan Leia dan Hans untuk menyembunyikan hubungan mereka dari Abang karena Bunda takut Abang tidak bisa menerima kenyataan.
Di sini kita bisa melihat bahwa Leia, sebagai ‘manusia normal’, lebih menuruti egonya yang memilih Hans, ‘manusia normal’ lainnya, sebagai pasangan yang notabene bisa saja pasangannya itu jatuh cinta pada perempuan lain. Tidak seperti Abang yang memiliki keterbelakangan mental. Abang hanya bisa jatuh cinta satu kali dan cintanya tulus. Jika kita melihat kisah ini dari sudut pandang teori Barthes, Abang mengartikan kedekatannya dengan Leia lebih dari sekedar teman. Penampakan yang muncul adalah Abang dan Leia berteman. Namun di balik itu ada perasaan yang mendalam dari Abang untuk Leia. Leia adalah cinta pertama Abang dan –mungkin­– cinta terakhirnya. Leia adalah segalanya buat Abang. Bahkan Leia dianggapnya sempurna. Seperti di bagian akhir kisah ini, Abang menuliskan “Seratus sempurna. Kamu satu lebih lebih sempurna”.
Kita juga bisa menggunakan teori psikologi Freud dan teori semiotika Barthes ini untuk melihat keempat film lainnya. Kita lanjutkan saja pada film Curhat Buat Sahabat yang disutradarai oleh Olga Lydia. Di film ini Olga Lydia mencoba menggambarkan peran seorang sahabat yang selalu ada untuk sahabatnya. Kapan pun dan di mana pun, sahabat ini siap mendengarkan curhatan sahabatnya sendiri. Diperankan oleh Acha Septriasa sebagai Amanda dan Indra Birowo sebagai Reggy, sahabat Amanda. Amanda ibarat hujan sepanjang masa yang datang setiap saat dan di mana saja hanya untuk meluapkan kisah cintanya kepada Reggy. Amanda selalu menceritakan semua pacar-pacarnya kepada Reggy bahkan saat Amanda baru jadian atau putus pun, Reggy menjadi tempat luapan ceritanya. Bisa dikatakan Reggy seperti diary, penadah curhatan Amanda.
Amanda yang merasa dibodohi pacarnya memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungannya lagi karena sudah merasa cukup lelah. Sebenarnya tak banyak yang diinginkan Amanda. Ia hanya ingin ada seseorang yang mau sayang kepadanya apa adanya. Seseorang yang mau datang ke rumahnya jam berapapun saat Amanda sakit, sekedar untuk mengambilkan segelas air putih. Dan Reggy telah melakukan hal itu, tentu tanpa sepengetahuan Amanda. Bahkan Reggy selalu memakai jaket yang diberi oleh Amanda meski jaket itu mulai tampak usang. Di sinilah teori Barthes memaknai sebuah jaket yang tidak hanya berfungsi sebagai baju yang menghangatkan badan tetapi juga sebagai benda yang sangat berharga dari seseorang yang dicintainya. Reggy yang selama ini memendam perasaan cintanya kepada Amanda, tak pernah sekalipun mencoba mengatakannya. Ia hanya ingin melihat Amanda bahagia, –dengan siapapun– dengan menjadi tempat curhatnya. Ia menggunakan super egonya untuk menahan perasaannya, di mana ia memilih untuk tetap menjadi sahabat dan tempat curhat bagi Amanda daripada menyatakan perasaannya kepada Amanda. Bandingkan dengan film Refrain yang dimainkan oleh Afgan Syhreza dan Maudy Ayunda. Persahabatan Afgan dan Maudy sejak kecil itu pun juga berakhir dengan cinta. Entah mulai kapan, Afgan mulai mencintai Maudy lebih dari seorang sahabat. Awalnya Afgan tak ingin mengatakan perasaannya kepada Maudy. Namun pada suatu ketika ia ‘keceplosan’ bilang bahwa ia mecintai Maudy lebih dari seorang sahabat. Tak ayal, hal itu membuat Maudy kesal karena ia hanya menganggap Afgan tak lebih dari sahabat. Akhirnya Afgan pun yang terlanjur basah dengan omongannya, melepas super egonya yang selama ini memendam perasaan cintanya kepada Maudy.
Tokoh yang juga menggunakan super egonya untuk mengurung perasaannya adalah Taja yang diperankan oleh Yama Carlos dalam film Cicak Di Dinding dan Al yang diperankan oleh Amanda Soekasah dalam film Hanya Isyarat yang disutradari oleh Happy Salma.
Taja yang berprofesi sebagai seorang pelukis merasa penat dengan aktivitasnya dan memilih untuk mencari hiburan dengan pergi ke sebuah bar. Tak disangka, di tempat itu ia menemukan sosok perempuan yang diliriknya sejak awal dan membuatnya jatuh cinta. Namun perasaan itu berubah suatu ketika dalam sebuah pertemuan Taja bertemu dengan sahabatnya, Irwan (Tio Pakusadewo). Di pertemuan itu Irwan memperkenalkan tunangan sekaligus calon istrinya, yaitu Saras yang diperankan oleh Sophia Latjuba, yang ternyata adalah perempuan yang telah membuat Taja jatuh cinta pada pandangan pertama, kedua dan seterusnya sampai mati. Mengetahui hal itu, Taja merasa patah hati pada pandangan pertama, kedua dan seterusnya, moga-moga tidak sampai mati –seperti yang disebutkan dalam bukunya.
Menurut saya, film ini merusak imajinasi saya dibandingkan dengan saat saya membaca cerpennya. Terutama dengan penggambaran sosok Saras. Saat saya membaca cerpennya, image yang tergambar tentang Saras adalah sosok perempuan polos yang sederhana dan bukan perempuan “liar” seperti yang digambarkan dalam film ini di beberapa adegan. Kekecewaan saya muncul sejak dari awal, sejak pertemuan Taja dan Saras di bar.
Keputusan Taja untuk tidak menghadiri pernikahan Irwan dan Saras adalah caranya untuk menahan diri dalam super ego. Taja menyembunyikan rasa cintanya kepada Saras demi kebahagiaan sahabatnya. Ia rela melepas Saras untuk menikah dengan Irwan. Namun Taja memiliki cara lain untuk selalu menyampaikan rasa cintanya. Ia melukiskan gambar cicak pada salah satu dinding kamar Saras sebagai hadiah pernikahannya dengan Irwan. Gambar cicak itu tampak berpendar ketika lampu kamarnya dimatikan. Dan jelaslah, gambar itu terdiri dari gambar-gambar cicak yang kecil yang tersusun menjadi gambar cicak yang lebih besar. Seketika, tampak oleh Saras bayangan Taja yang berjalan mendekatinya. Gambar cicak itu dipilihnya untuk mewakili perasaan Taja ingin selalu berada di dekat Saras seperti cicak yang selalu menempel di dinding.
Lanjut ke film berikutnya.
Ketika menonton film Hanya Isyarat, hal pertama yang saya lakukan adalah membandingkan dengan kehidupan yang saya alami. Dari kelima film, film inilah yang paling saya suka. Meskipun orang mengatakan bahwa tak mungkin ada orang yang rela mencintai tanpa memiliki adalah suatu kebohongan, maka di film ini hal itu tidak berlaku. Meskipun saya sendiri belum pernah merasakan bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tak mungkin untuk dimiliki. Hanya saja saya pernah mengagumi seseorang yang mungkin orang itu tak tahu bahwa saya mengaguminya.
Sudahlah, kembali lagi pada kisah Al! Al yang sudah lama menjalin pertemanan dengan beberapa orang melalui mail list, jatuh cinta pada salah satu di antaranya. Tentunya Al adalah satu-satunya perempuan dalam pertemanan itu. Mereka sama-sama menyukai travelling. Al hanya bisa menikmati rasa cintanya itu melalui siluet punggung orang yang dicintainya. Al tidak tahu warna bola mata orang yang dicintainya itu. Itu berarti belum pernah sekalipun Al menatap langsung orang itu. Orang itu adalah Raga, diperankan oleh Hamish Daud.
Dalam sebuah permainan, Al diajak untuk ikut dalam permainan itu. Awalnya Al menolak. Namun akhirnya ia mau ikut saat Raga mengambil sebuah kursi untuknya. Peraturannya adalah setiap dari mereka harus menceritakan cerita sedih dan siapa yang ceritanya paling sedih dialah pemenangnya. Ada yang bercerita tentang mantan, bencana alam, keluarga, dan hal-hal lain yang melatarbelakangi mereka menyukai travelling.
Tiba giliran Al bercerita. Ia bercerita tentang dirinya yang telah jatuh cinta pada seseorang namun hanya bisa menikmati siluet punggungnya saja. Ia tahu bahwa ia tak akan bisa memiliki orang tersebut. Bagi Al bisa menikmati siluet punggung orang yang dicintainya pun sudah cukup. Semua tertegun dan menatap Al, menunggu cerita apalagi yang akan keluar dari mulutnya. Perempuan yang selama ini menjaga jarak dengan mereka dan hanya menjadi latar, ternyata mampu berkata dan membuat mereka semua terdiam mendengarkan. Saat bercerita itulah, Al sempat menatap mata Raga yang akhirnya dia tahu bahwa warna matanya adalah coklat muda.
Al yang sejatinya bisa saja mengungkapkan rasa cintanya kepada Raga memilih untuk tidak mengatakannya. Al bertahan dalam super egonya dengan hanya menikmati siluet punggung Raga. Siluet punggung yang bagi kebanyakan orang adalah hal yang biasa dan tak berarti apa-apa namun bagi Al itulah cintanya. Sebuah cinta yang tak terucap dan hanya dirinya yang tahu.
Film terakhir dalam bahasan resensi ini adalah Firasat yang bintangi oleh Asmirandah sebagai Senja dan Dwi Sasono sebagai Panca. Senja jatuh cinta pada Panca karena kepekaannya terhadap bahasa alam dan firasat yang dirasakannya. Rasa cinta itu muncul dari sebuah rasa hormat dan segan. Panca merupakan pendiri sebuah klub yang setiap kali pertemuan anggotanya secara bergantian bercerita tentang firasat yang dirasakannya. Pernah suatu ketika Senja bertanya, “Kalau kita punya firasat tentang seseorang, apa kita harus ngasih tahu orang itu?”. Menurutnya, paling tidak untuk peringatan agar orang itu lebih berhati-hati. Ia juga menuturkan, bisakah dengan memperingatkan orang tentang firasat kita bisa membatalkan kejadian itu? Dengan bijak Panca menjawab, “Kalau kamu memang perlu memperingatkan, kamu pasti bisa. Tapi kalau nggak perlu, kamu mau berusaha sekuat apapun, yang harus terjadi pasti akan terjadi”.
Firasat Senja itu sebenarnya tentang Panca. Ia merasa bahwa akan ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi pada Panca. Hal itu diperkuat dengan mimpi yang dialaminya dan saat Panca bilang akan pulang menjenguk ibunya yang sakit keras. Senja tahu bahwa orang tua Panca tinggal di luar kota. Di sini ego Senja mulai bermain. Ia meminta Panca untuk tetap tinggal. Senja telah berusaha mencegahnya. Ia mengatakan bahwa akan ada hal buruk yang akan menimpanya. Namun usahanya sia-sia. Egonya yang menginginkan Panca untuk tetap berada disampingnya kalah telak dengan bakti Panca terhadap orang tuanya. Panca tetap pergi. Senja tak dapat mencegahnya seperti saat ayah dan adiknya pergi meninggalkan dia dan ibunya untuk selamanya. Sebelum berangkat, Panca menitipkan sebuah buku kepada ibu Senja. Satu-satunya benda yang menjadi tempat pelampiasan sisa cinta Senja untuk Panca. Dan buku itulah yang akan selalu menemani Senja layaknya Panca yang berada di sampingnya.

Teori psikologi Freud tentang ego dan super ego serta teori Barthes tentang memaknai sesuatu lebih dari apa yang tampak memberikan sudut pandang yang lain dari hanya sekedar menonton sebuah film omnibus bertajuk Cinta Yang Tak Terucap ini. Sikap-sikap yang ditunjukkan dan tanda-tanda yang ada menunjukkan bahwa setiap tokoh dalam film ini ingin menyampaikan cinta yang tak terucapnya dengan cara yang berbeda. Pada kisah Reggy, Taja, dan Al, mereka telah menggantikan atau mensublimasi rasa cinta mereka dengan menjadi sosok yang selalu ada di dekatnya tanpa harus menjadi pasangannya. Sedangkan Leia, yang sejatinya adalah ‘manusia normal’ tetap mengikuti egonya untuk memilih ‘manusia normal’ lainnya sebagai pasangannya. Dan Senja yang telah mengatakan firasatnya kepada Panca, harus kembali mengalami hal yang sama seperti saat ayah dan adiknya pergi untuk selamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar