Kamis, 01 Januari 2015

RESENSI FILM “OPERA JAWA”


Opera Jawa, sebuah  film karya Garin Nugroho yang menjadikan kisah Ramayana sebagai referensi cerita. Saat saya mendengar hal ini, hal yang terbayang di benak saya adalah kisah cinta Rama dan Sinta yang terusik oleh raksasa dari negeri Alengka, Rahwana. Rama dan Sinta tinggal di sebuah istana bertiga dengan adik Rama, Lesmana. Mereka hidup damai dan tenang.
Suatu ketika, anak buah Rahwana mengetahui bahwa ada tiga orang yang tinggal di sebuah istana, dua orang laki-laki tampan dan seorang wanita yang sangat cantik. Rahwana pun tertarik dan menyelidikinya langsung. Saat melihat Sinta yang memiliki kecantikan luar biasa, Rahwana pun tertarik dan bermaksud ingin memilikinya. Ia menyusun taktik untuk menculik Sinta. Dengan tipu muslihat yang dilakukannya, Rahwana pun berhasil menculik Sinta. Rama yang biasanya tampak bijak dan tenang menjadi sangat marah. Akhirnya terjadi peperangan antara Rama dan Rahwana.
Karya-karya Garin Nugroho memang terkesan serius. Tapi hal itu yang menjadi ciri khas seorang Garin. Opera Jawa yang kisahnya terinspirasi dari kisah Ramayana ini juga pernah dipentaskan dalam bentuk teater, Trilogi Opera Jawa: Ranjang Wesi, Tusuk Konde Dua dan Selendang Merah. Bahkan teater ini pernah dipentaskan di beberapa negara di Eropa. Film ini mengisahkan tentang cinta segitiga antara orang terpandang dan memiliki kekuasaan dan seorang penari, yaitu Setyo, Siti dan Ludiro.
Film ini pernah memicu konflik antar agama. Hal ini didasarkan pada himbauan World Hindu Youth Organization (WHYO) yang menyatakan bahwa film ini tidak sesuai dengan kisah Ramayana dalam agama Hindu. Pernyataan tersebut dipublikasikan lewat surat, koran dan televisi. Namun Garin memberikan tanggapan yang berbeda. Himbauan yang dilakukan oleh WHYO itu dipublikasikan sebelum Opera Jawa ini diselesaikan. Menurut Garin, himbauan ini terlalu prematur untuk dipublikasikan dan Garin juga meminta pihak WHYO untuk menarik kembali pernyataan tersebut. Informasi yang diperoleh WHYO tersebut tidak diperoleh dari sumber utama, film itu sendiri, dan Garin sebagai sutradara dan penanggungjawab kreatif. Tanggapan dari masyarakat tentang himbauan ini, tanpa mengkaji ulang, menjadikan konflik semakin rumit. Namun hal itu tidak megurangi keberhasilan dan ketertarikan masyarakat untuk menonton film ini.
Hal ini serupa dengan protes terhadap film “Buruan Cium Gue”. Protes ini dilakukan berdasarkan pada prinsip islami dalam konsumsi terhadap budaya populer secara umum. Film ini tidak dilihat sebagai sebuah produk non-islami melainkan sebagai representasi yang keliru atas pemuda muslim di Indonesia.

Jika ingin mengupas film Opera Jawa ini secara menyeluruh dalam sebuah resensi maka akan ada banyak sekali simbol, petanda maupun penanda di dalam film ini. Namun saya tidak akan membahas semuanya, hanya beberapa saja.
Di awal cerita ini ditunjukkan bahwa Setyo adalah seorang pengusaha gerabah dan Ludiro adalah seorang pedagang daging sapi. Keduanya menyukai Siti yang dulunya seorang penari. Namun Siti telah menjadi istri Setyo dan tidak lagi menjadi penari. Ludiro hendak merebut Siti dari Setyo. Di sisi lain Siti selalu merasa kesepian karena sering ditinggal Setyo untuk berdagang gerabah. Di situlah celah Ludiro untuk mendekati Siti.
Siti yang sejatinya adalah wanita Jawa, benar-benar kesepian di rumah. Hal itu ditunjukkan dengan seringnya Siti menari sendiri dan menggunakan kukusan sebagai properti. Kukusan yang sejatinya di masyarakat jawa digunakan untuk menanak nasi, di sini ia berperan sebagai penanda kesepian (hasrat) Siti.
Kesepian Siti juga ditunjukkan saat ia memasuki dunia imajiner. Saat di dapur, Siti berimajinasi bahwa ia menari. Dalam adegan ini pula Ludiro merayu dan mengajak Siti menari. Ludiro selalu mampu mengisi kekosongan Siti dan menghiburnya dari kesepian. Keinginan Siti untuk selalu ditemani Setyo tak lebihnya dari keinginan saja karena kesibukan Setyo berdagang. Itu merupakan celah bagi Ludiro untuk mendekati Siti.
Lagi-lagi Ludiro mampu mengisi kekosongan batin Siti saat Setyo menolak berhubungan dengan Siti di ranjang dan Ludiro datang untuk menari dengan Siti. Setyo mulai curiga terhadap Siti dan meragukan kesetiaannya.
Ludiro pernah memberi petunjuk kepada Siti melalui lilin-lilin yang disusunnya agar Siti datang ke rumahnya. Siti pun tertarik dan mengikuti lilin-lilin itu. Saat Ludiro mengajak Siti untuk berhubungan, ia menolak. Ia masih menjaga kesetiaannya kepada Setyo sekalipun ia sebenarnya merasa batinnya sepi dan kosong. Dalam adegan yang lain ditunjukkan Siti mengikuti kain merah yang membawanya ke rumah Ludiro. Di sana ia diperlakukan dengan sangat baik oleh Ludiro. Warna merah sendiri melambangkan gairah, semangat dan kekuatan yang dimiliki oleh Ludiro. Dan lagi-lagi Siti menghindar demi menjaga kesetiaan.
Setyo yang awalnya pedagang gerabah sukses, akhirnya mengalami kebangkrutan. Adegan selanjutnya adalah Setyo melumuri Siti dengan tanah untuk membuat gerabah. Dalam dialognya Setyo menyatakan bahwa ia sangat mencintai Siti seperti ia mencintai tanah tersebut. Dari situ Siti tahu bahwa Setyo mencintainya hanya berdasarkan nafsu semata. Siti memberontak dengan mengatakan bahwa ia bukan makhluk yang terbuat dari tanah namun ia makhluk yang memiliki tangan, kaki, dan jiwa. Ia memiliki keinginan. Ini menunjukkan bahwa dalam adat jawa itu laki-laki mendominasi wanita (budaya patriarki). Wanita dianggapnya hanya sebagai pelengkap saja.
Setyo yang merasa harga dirinya terusik akhirnya menyerang Ludiro. Adegan ini ditunjukkan dengan sekelompok orang yang membakar kain merah panjang yang tadinya menuntun Siti ke rumah Ludiro. Ini seperti negeri Alengka yang terbakar dalam kisah Ramayana. Perkelahian pun tak terhindarkan. Ludiro yang kalah, memasuki dunia the real. Dalam teorinya, Lacan menjelaskan bahwa dalam the real ini seorang anak merasa semua kebutuhannya telah terpenuhi dan merasa satu dengan ibunya. Sedangkan pada kenyataannya, keinginan Ludiro untuk memiliki Siti tidak terpenuhi sehingga ia merasa ingin kembali ke rahim ibunya.
Peperangan yang terjadi antara Setyo dan Ludiro karena masalah cinta ini merugikan banyak pihak. Rakyat biasa mendukung Ludiro dan Setyo dibantu oleh sekelompok orang yang berpakaian seperti tentara yang mewakili orang-orang penting di masyarakat. Di sinilah Garin menggambarkan orang yang memiliki kuasa mampu berbuat apa saja. Rakyat kecil yang tak bersangkutan pun menjadi korban perkelahian para penguasa.
Di akhir film, Setyo juga membunuh Siti dan mengambil hatinya. Hati ini digambarkan sebagai bagian kecil yang mampu membuat peristiwa besar terjadi (perkelahian).

Sebenarnya film ini mewakili banyak konflik yang terjadi di masyarakat, seperti sosial ekonomi, kekuasaan dan cinta. Hanya saja jika orang tak mengerti dengan alur dan dialog yang terjadi maka informasi yang ingin disampaikan juga tidak akan sampai pada penonton.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar