Opera Jawa,
sebuah film karya Garin Nugroho yang
menjadikan kisah Ramayana sebagai referensi cerita. Saat saya mendengar hal
ini, hal yang terbayang di benak saya adalah kisah cinta Rama dan Sinta yang
terusik oleh raksasa dari negeri Alengka, Rahwana. Rama dan Sinta tinggal di
sebuah istana bertiga dengan adik Rama, Lesmana. Mereka hidup damai dan tenang.
Suatu ketika,
anak buah Rahwana mengetahui bahwa ada tiga orang yang tinggal di sebuah
istana, dua orang laki-laki tampan dan seorang wanita yang sangat cantik.
Rahwana pun tertarik dan menyelidikinya langsung. Saat melihat Sinta yang
memiliki kecantikan luar biasa, Rahwana pun tertarik dan bermaksud ingin
memilikinya. Ia menyusun taktik untuk menculik Sinta. Dengan tipu muslihat yang
dilakukannya, Rahwana pun berhasil menculik Sinta. Rama yang biasanya tampak
bijak dan tenang menjadi sangat marah. Akhirnya terjadi peperangan antara Rama
dan Rahwana.
Karya-karya
Garin Nugroho memang terkesan serius. Tapi hal itu yang menjadi ciri khas
seorang Garin. Opera Jawa yang kisahnya terinspirasi dari kisah Ramayana ini
juga pernah dipentaskan dalam bentuk teater, Trilogi Opera Jawa: Ranjang Wesi,
Tusuk Konde Dua dan Selendang Merah. Bahkan teater ini pernah dipentaskan di
beberapa negara di Eropa. Film ini mengisahkan tentang cinta segitiga antara
orang terpandang dan memiliki kekuasaan dan seorang penari, yaitu Setyo, Siti
dan Ludiro.
Film ini pernah
memicu konflik antar agama. Hal ini didasarkan pada himbauan World Hindu
Youth Organization (WHYO) yang menyatakan bahwa film ini tidak sesuai
dengan kisah Ramayana dalam agama Hindu. Pernyataan tersebut dipublikasikan
lewat surat, koran dan televisi. Namun Garin memberikan tanggapan yang berbeda.
Himbauan yang dilakukan oleh WHYO itu dipublikasikan sebelum Opera Jawa ini
diselesaikan. Menurut Garin, himbauan ini terlalu prematur untuk dipublikasikan
dan Garin juga meminta pihak WHYO untuk menarik kembali pernyataan tersebut.
Informasi yang diperoleh WHYO tersebut tidak diperoleh dari sumber utama, film
itu sendiri, dan Garin sebagai sutradara dan penanggungjawab kreatif. Tanggapan
dari masyarakat tentang himbauan ini, tanpa mengkaji ulang, menjadikan konflik
semakin rumit. Namun hal itu tidak megurangi keberhasilan dan ketertarikan
masyarakat untuk menonton film ini.
Hal ini serupa
dengan protes terhadap film “Buruan Cium Gue”. Protes ini dilakukan berdasarkan
pada prinsip islami dalam konsumsi terhadap budaya populer secara umum. Film
ini tidak dilihat sebagai sebuah produk non-islami melainkan sebagai
representasi yang keliru atas pemuda muslim di Indonesia.
Jika ingin
mengupas film Opera Jawa ini secara menyeluruh dalam sebuah resensi maka akan
ada banyak sekali simbol, petanda maupun penanda di dalam film ini. Namun saya
tidak akan membahas semuanya, hanya beberapa saja.
Di awal cerita
ini ditunjukkan bahwa Setyo adalah seorang pengusaha gerabah dan Ludiro adalah
seorang pedagang daging sapi. Keduanya menyukai Siti yang dulunya seorang
penari. Namun Siti telah menjadi istri Setyo dan tidak lagi menjadi penari.
Ludiro hendak merebut Siti dari Setyo. Di sisi lain Siti selalu merasa kesepian
karena sering ditinggal Setyo untuk berdagang gerabah. Di situlah celah Ludiro untuk
mendekati Siti.
Siti yang
sejatinya adalah wanita Jawa, benar-benar kesepian di rumah. Hal itu
ditunjukkan dengan seringnya Siti menari sendiri dan menggunakan kukusan
sebagai properti. Kukusan yang sejatinya di masyarakat jawa digunakan untuk
menanak nasi, di sini ia berperan sebagai penanda kesepian (hasrat) Siti.
Kesepian Siti
juga ditunjukkan saat ia memasuki dunia imajiner. Saat di dapur, Siti berimajinasi
bahwa ia menari. Dalam adegan ini pula Ludiro merayu dan mengajak Siti menari.
Ludiro selalu mampu mengisi kekosongan Siti dan menghiburnya dari kesepian.
Keinginan Siti untuk selalu ditemani Setyo tak lebihnya dari keinginan saja
karena kesibukan Setyo berdagang. Itu merupakan celah bagi Ludiro untuk
mendekati Siti.
Lagi-lagi
Ludiro mampu mengisi kekosongan batin Siti saat Setyo menolak berhubungan
dengan Siti di ranjang dan Ludiro datang untuk menari dengan Siti. Setyo mulai
curiga terhadap Siti dan meragukan kesetiaannya.
Ludiro pernah
memberi petunjuk kepada Siti melalui lilin-lilin yang disusunnya agar Siti
datang ke rumahnya. Siti pun tertarik dan mengikuti lilin-lilin itu. Saat
Ludiro mengajak Siti untuk berhubungan, ia menolak. Ia masih menjaga
kesetiaannya kepada Setyo sekalipun ia sebenarnya merasa batinnya sepi dan
kosong. Dalam adegan yang lain ditunjukkan Siti mengikuti kain merah yang
membawanya ke rumah Ludiro. Di sana ia diperlakukan dengan sangat baik oleh
Ludiro. Warna merah sendiri melambangkan gairah, semangat dan kekuatan yang dimiliki
oleh Ludiro. Dan lagi-lagi Siti menghindar demi menjaga kesetiaan.
Setyo yang
awalnya pedagang gerabah sukses, akhirnya mengalami kebangkrutan. Adegan
selanjutnya adalah Setyo melumuri Siti dengan tanah untuk membuat gerabah.
Dalam dialognya Setyo menyatakan bahwa ia sangat mencintai Siti seperti ia
mencintai tanah tersebut. Dari situ Siti tahu bahwa Setyo mencintainya hanya
berdasarkan nafsu semata. Siti memberontak dengan mengatakan bahwa ia bukan
makhluk yang terbuat dari tanah namun ia makhluk yang memiliki tangan, kaki,
dan jiwa. Ia memiliki keinginan. Ini menunjukkan bahwa dalam adat jawa itu
laki-laki mendominasi wanita (budaya patriarki). Wanita dianggapnya hanya
sebagai pelengkap saja.
Setyo yang
merasa harga dirinya terusik akhirnya menyerang Ludiro. Adegan ini ditunjukkan
dengan sekelompok orang yang membakar kain merah panjang yang tadinya menuntun
Siti ke rumah Ludiro. Ini seperti negeri Alengka yang terbakar dalam kisah
Ramayana. Perkelahian pun tak terhindarkan. Ludiro yang kalah, memasuki dunia the
real. Dalam teorinya, Lacan menjelaskan bahwa dalam the real ini
seorang anak merasa semua kebutuhannya telah terpenuhi dan merasa satu dengan
ibunya. Sedangkan pada kenyataannya, keinginan Ludiro untuk memiliki Siti tidak
terpenuhi sehingga ia merasa ingin kembali ke rahim ibunya.
Peperangan yang
terjadi antara Setyo dan Ludiro karena masalah cinta ini merugikan banyak
pihak. Rakyat biasa mendukung Ludiro dan Setyo dibantu oleh sekelompok orang
yang berpakaian seperti tentara yang mewakili orang-orang penting di
masyarakat. Di sinilah Garin menggambarkan orang yang memiliki kuasa mampu
berbuat apa saja. Rakyat kecil yang tak bersangkutan pun menjadi korban
perkelahian para penguasa.
Di akhir film,
Setyo juga membunuh Siti dan mengambil hatinya. Hati ini digambarkan sebagai
bagian kecil yang mampu membuat peristiwa besar terjadi (perkelahian).
Sebenarnya film
ini mewakili banyak konflik yang terjadi di masyarakat, seperti sosial ekonomi,
kekuasaan dan cinta. Hanya saja jika orang tak mengerti dengan alur dan dialog
yang terjadi maka informasi yang ingin disampaikan juga tidak akan sampai pada
penonton.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar