Saya yakin bahwa beberapa pendapat saya
tentang sebuah film sebelum-sebelumnya masih belum bisa dikatakan sebagai
resensi yang sesungguhnya. Hanya saja menurut saya itu bisa dikatakan sebagai ‘ulasan’
film versi masyarakat awam. Kali ini saya ingin menuliskan kembali ‘ulasan’
sebuah film di mata masyarakat awam seperti saya: DI BALIK 98.
Siapa yang tak tahu Lukman Sardi? Seorang aktor
kenamaan yang memiliki prestasi di bidang seni peran. Setelah menyutradari film
Sang Penjahit dan beberapa film pendek lainnya, kali ini ia terjun langsung
untuk mendirect sebuah film layar lebar. Tak kurang dari 200 orang yang
ikut serta dalam pembuatan film ini.
Seperti yang telah diketahui, film yang
tayang sejak 15 Januari 2015 ini menceritakan tentang penggulingan presiden Soeharto
dan lahirnya reformasi. Namun sebelum menonton saya telah memiliki pendapat
yang muncul dari trailernya yang sering tayang di televisi. Trailer
itu cukup menarik bagi saya untuk mau menonton film ini dan mengetahui apa yang
terjadi di balik peristiwa penggulingan pemimpin rezim orde baru itu. Hanya saja
saya tak menemukan apa yang saya cari di film ini.
Menurut saya film ini menggunakan beberapa
sudut pandang meskipun tidak detil. Mulai dari sudut pandang masyarakat bawah,
sudut pandang mahasiswa yang menuntut turunnya Soeharto dari tahta
kepresidenan, sudut pandang keadaan istana negara hingga sudut pandang konflik
keluarga, etnis dan romansa. Lengkap dan sekilas.
Saat itu masayarakat mengalami krisis di
berbagai bidang. Bahkan untuk mendapatkan seliter minyak tanah saja harus mengantri
berjam-jam dan berpanas-panasan. Hal yang menonjol dalam film ini untuk
menggambarkan kondisi masyarakat bawah adalah disorotnya kehidupan seorang
pengemis dan anaknya yang sehari-hari hanya mampu makan mi instan. Bak mata
uang uang yang memiliki dua sisi yang berbeda. Para petinggi negara masih dapat
menikmati hidangan khas istana negara masa itu di ambang kehancuran orde baru. Salah
seorang staf istana tengah hamil tua, namanya Salma. Ia tinggal bersama
suaminya, Bagus, seorang tentara dan adiknya, Diana, seorang aktivis mahasiswa
yang menuntut reformasi.
Demonstrasi yang berlangsung beberapa hari
dan menelan korban jiwa itu tak elak membuat Salma khawatir dengan adiknya yang
ikut terjun dalam aksi demonstrasi itu. Bagus, sang kakak ipar hanya mampu
mengawasi Diana dari jauh. Bagus yang sebenarnya setuju dengan Diana dan
teman-temannya tak bisa berbuat apa-apa karena ia aparat negara yang dituntut
untuk terus menjaga keamanan.
Sudah sejak lama Diana berseberangan
pendapat dengan kakaknya. Ia dan pacaranya yang beretnis tionghoa, merupakan
dua dari seratus perwakilan mahasiswa yang melakukan demonstrasi. Di film ini
sekilas diperlihatkan bahwa orang beretnis tionghoa masih dianggap sebagai ‘orang
luar’ oleh bangsa sendiri. Hal ini ditunjukkan dengan diusirnya orang-orang
tionghoa dan tulisan kecaman di dinding rumah pacar Diana.
Menurut saya film ini tidak mengandung
unsur politik. Hanya mengingatkan kembali kepada kita bagaimana perjuangan
masyarakat Indonesia masa itu untuk melahirkan reformasi. Dan hal yang paling
saya ingat dari film ini adalah pengambilan gambar secara low-angle pada
pasukan tentara dan aparat negara untuk menunjukkan betapa negara memiliki
kekuasaan atas rakyatnya. Sayangnya, saya tidak menemukan jawaban atas apa yang
saya cari secara ‘wah’ tentang apa yang terjadi di akhir rezim orde baru itu. Saya
hanya menangkap bahwa di masa itu rakyat benar-benar memperjuangkan kelahiran
reformasi, menunjukkan kondisi sosial masyarakat masa itu dan klimaks dari alur
ceritanya pun kurang terasa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar