Kamis, 22 Januari 2015

PESAN “DI BALIK 98” YANG TERTANGKAP DI MATA ORANG AWAM

Saya yakin bahwa beberapa pendapat saya tentang sebuah film sebelum-sebelumnya masih belum bisa dikatakan sebagai resensi yang sesungguhnya. Hanya saja menurut saya itu bisa dikatakan sebagai ‘ulasan’ film versi masyarakat awam. Kali ini saya ingin menuliskan kembali ‘ulasan’ sebuah film di mata masyarakat awam seperti saya: DI BALIK 98.
Siapa yang tak tahu Lukman Sardi? Seorang aktor kenamaan yang memiliki prestasi di bidang seni peran. Setelah menyutradari film Sang Penjahit dan beberapa film pendek lainnya, kali ini ia terjun langsung untuk mendirect sebuah film layar lebar. Tak kurang dari 200 orang yang ikut serta dalam pembuatan film ini.
Seperti yang telah diketahui, film yang tayang sejak 15 Januari 2015 ini menceritakan tentang penggulingan presiden Soeharto dan lahirnya reformasi. Namun sebelum menonton saya telah memiliki pendapat yang muncul dari trailernya yang sering tayang di televisi. Trailer itu cukup menarik bagi saya untuk mau menonton film ini dan mengetahui apa yang terjadi di balik peristiwa penggulingan pemimpin rezim orde baru itu. Hanya saja saya tak menemukan apa yang saya cari di film ini.


Menurut saya film ini menggunakan beberapa sudut pandang meskipun tidak detil. Mulai dari sudut pandang masyarakat bawah, sudut pandang mahasiswa yang menuntut turunnya Soeharto dari tahta kepresidenan, sudut pandang keadaan istana negara hingga sudut pandang konflik keluarga, etnis dan romansa. Lengkap dan sekilas.
Saat itu masayarakat mengalami krisis di berbagai bidang. Bahkan untuk mendapatkan seliter minyak tanah saja harus mengantri berjam-jam dan berpanas-panasan. Hal yang menonjol dalam film ini untuk menggambarkan kondisi masyarakat bawah adalah disorotnya kehidupan seorang pengemis dan anaknya yang sehari-hari hanya mampu makan mi instan. Bak mata uang uang yang memiliki dua sisi yang berbeda. Para petinggi negara masih dapat menikmati hidangan khas istana negara masa itu di ambang kehancuran orde baru. Salah seorang staf istana tengah hamil tua, namanya Salma. Ia tinggal bersama suaminya, Bagus, seorang tentara dan adiknya, Diana, seorang aktivis mahasiswa yang menuntut reformasi.
Demonstrasi yang berlangsung beberapa hari dan menelan korban jiwa itu tak elak membuat Salma khawatir dengan adiknya yang ikut terjun dalam aksi demonstrasi itu. Bagus, sang kakak ipar hanya mampu mengawasi Diana dari jauh. Bagus yang sebenarnya setuju dengan Diana dan teman-temannya tak bisa berbuat apa-apa karena ia aparat negara yang dituntut untuk terus menjaga keamanan.
Sudah sejak lama Diana berseberangan pendapat dengan kakaknya. Ia dan pacaranya yang beretnis tionghoa, merupakan dua dari seratus perwakilan mahasiswa yang melakukan demonstrasi. Di film ini sekilas diperlihatkan bahwa orang beretnis tionghoa masih dianggap sebagai ‘orang luar’ oleh bangsa sendiri. Hal ini ditunjukkan dengan diusirnya orang-orang tionghoa dan tulisan kecaman di dinding rumah pacar Diana.

Menurut saya film ini tidak mengandung unsur politik. Hanya mengingatkan kembali kepada kita bagaimana perjuangan masyarakat Indonesia masa itu untuk melahirkan reformasi. Dan hal yang paling saya ingat dari film ini adalah pengambilan gambar secara low-angle pada pasukan tentara dan aparat negara untuk menunjukkan betapa negara memiliki kekuasaan atas rakyatnya. Sayangnya, saya tidak menemukan jawaban atas apa yang saya cari secara ‘wah’ tentang apa yang terjadi di akhir rezim orde baru itu. Saya hanya menangkap bahwa di masa itu rakyat benar-benar memperjuangkan kelahiran reformasi, menunjukkan kondisi sosial masyarakat masa itu dan klimaks dari alur ceritanya pun kurang terasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar