Rabu, 21 Januari 2015

SEKILAS TENTANG FILM “MERRY RIANA”

MERRY RIANA. Film ini sukses membuat saya beranggapan bahwa ini adalah salah satu film berat. Mengapa demikian? Setahu saya Merry Riana adalah seorang motivator. Jadi dugaan yang muncul adalah film ini menggambarkan perjalanan Merry mulai dari nol hingga sukses menjadi seorang motivator, cukup membosankan. Hanya gara-gara demi membuktikan dugaan itu saya bertahan untuk menonton hingga akhir film ini. Jawaban akhir dari dugaan saya: SALAH BESAR.
Film ini ternyata mampu memikat emosi saya dan –saya yakin– penonton yang lain juga. Hestu Saputra, sang sutradara, berhasil membuat emosi penonton untuk bersimpati pada tokoh Merry Riana yang diperankan oleh Chelsea Islan ini. FYI, karir Hestu berawal menjadi asisten sutradara Hanung Bramantyo selama 10 tahun. Hestu seringkali ditinggal oleh Hanung sehingga mau tidak mau ia harus mendirect artis sesuai dengan karakter Hanung. Dari situlah sedikit-banyak karya Hestu memiliki karakter atau selera mirip dengan Hanung.

Merry Riana bercerita tentang gadis berlatarbelakang keturunan tionghoa (dari foto keluarga) yang hidup di Jakarta yang saat itu sedang terjadi kerusuhan. Film yang diproduseri oleh Dhamoo Punjabi dan Manoj Punjabi ini ditargetkan tayang tgl 24 desember 2014 lalu. Saat kerusuhan itu terjadi, keluarga Merry hanya mampu membeli satu tiket untuk pergi ke Singapore. Itu pun didapat dari menjual semua barang dan pakaian yang tersisa. Ayah Merry (Ferry Salim) meminta Merry untuk menemui Hans, temannya, di Singapore. Tapi malang, Hans sudah tidak lagi tinggal di alamat yang diberikan oleh ayah Merry.
Dari sinilah petualangan hidup Merry bermula. Mulai ia terpaksa harus kuliah agar bisa tinggal di asrama Nanyang University bersama Irene (Kimberly Rider) teman SMA-nya, mendapatkan guarantor, Alva (Dion Wiyoko), dengan berbagai syarat, bekerja sambilan (menyebar brosur untuk sebuah organisasi sosial, menjadi cleaning service di flyer Singapore, menjadi karyawan sebuah perusahaan asuransi, melakukan investasi di berbagai bidang, dan lain-lain), hingga ia menemukan cinta sejatinya, Alva, dan lulus serta mampu membayar pinjaman sekolahnya tepat waktu.
Emosi penonton semakin dipermainkan dari scene ke scene. Perjuangan hidup seorang Merry Riana dikemas dengan cukup apik, bukan dramatis tapi cukup menarik. Saya sempat beberapa kali terhanyut dalam emosi karena di beberapa scene Hestu mampu mendirect Chelsea Islan untuk mewakili tokoh Merry dengan baik. Selain peran dari para aktor dan aktris yang cukup mumpuni, menurut saya daya tarik film ini didukung oleh instrumen musik dan lagu yang pas. Dan seperti film drama lainnya, film ini berakhir dengan happy ending.

Ada hal yang sangat identik dengan karakter seorang motivator dalam film ini, sebuah motivasi hidup. Hal itulah yang –mungkin– ingin ditonjolkan oleh sang penulis dan sutradara. Melalui perjuangan hidup Merry sebagai etnis minoritas di Indonesia yang masih dianggap sebagai essential others (orang luar) oleh bangsa yang mengaku memiliki kesatuan dan solidaritas yang tinggi, hingga ia berjuang untuk dapat bertahan hidup sendirian di negara orang lain yang ia sendiri tak tahu tentang wilayah ia hidup. Pesan itulah yang ingin disampaikan oleh Merry bahwa seperti apapun keadaan manusia selagi ia mau berusaha maka akan selalu ada jalan untuk setiap masalah yang dihadapi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar