MERRY RIANA. Film ini sukses membuat saya
beranggapan bahwa ini adalah salah satu film berat. Mengapa demikian? Setahu
saya Merry Riana adalah seorang motivator. Jadi dugaan yang muncul adalah film
ini menggambarkan perjalanan Merry mulai dari nol hingga sukses menjadi seorang
motivator, cukup membosankan. Hanya gara-gara demi membuktikan dugaan itu saya
bertahan untuk menonton hingga akhir film ini. Jawaban akhir dari dugaan saya:
SALAH BESAR.
Film ini ternyata mampu memikat emosi saya
dan –saya yakin– penonton yang lain juga. Hestu Saputra, sang sutradara,
berhasil membuat emosi penonton untuk bersimpati pada tokoh Merry Riana yang diperankan
oleh Chelsea Islan ini. FYI, karir Hestu berawal menjadi asisten sutradara
Hanung Bramantyo selama 10 tahun. Hestu seringkali ditinggal oleh Hanung
sehingga mau tidak mau ia harus mendirect artis sesuai dengan karakter Hanung. Dari
situlah sedikit-banyak karya Hestu memiliki karakter atau selera mirip dengan
Hanung.

Merry Riana bercerita tentang gadis
berlatarbelakang keturunan tionghoa (dari foto keluarga) yang hidup di Jakarta
yang saat itu sedang terjadi kerusuhan. Film yang diproduseri oleh Dhamoo
Punjabi dan Manoj Punjabi ini ditargetkan tayang tgl 24 desember 2014 lalu.
Saat kerusuhan itu terjadi, keluarga Merry hanya mampu membeli satu tiket untuk
pergi ke Singapore. Itu pun didapat dari menjual semua barang dan pakaian yang
tersisa. Ayah Merry (Ferry Salim) meminta Merry untuk menemui Hans, temannya,
di Singapore. Tapi malang, Hans sudah tidak lagi tinggal di alamat yang diberikan
oleh ayah Merry.
Dari sinilah petualangan hidup Merry bermula.
Mulai ia terpaksa harus kuliah agar bisa tinggal di asrama Nanyang University bersama
Irene (Kimberly Rider) teman SMA-nya, mendapatkan guarantor, Alva (Dion
Wiyoko), dengan berbagai syarat, bekerja sambilan (menyebar brosur untuk sebuah
organisasi sosial, menjadi cleaning service di flyer Singapore, menjadi
karyawan sebuah perusahaan asuransi, melakukan investasi di berbagai bidang, dan
lain-lain), hingga ia menemukan cinta sejatinya, Alva, dan lulus serta mampu membayar
pinjaman sekolahnya tepat waktu.
Emosi penonton semakin dipermainkan dari scene
ke scene. Perjuangan hidup seorang Merry Riana dikemas dengan cukup
apik, bukan dramatis tapi cukup menarik. Saya sempat beberapa kali terhanyut
dalam emosi karena di beberapa scene Hestu mampu mendirect Chelsea
Islan untuk mewakili tokoh Merry dengan baik. Selain peran dari para aktor dan
aktris yang cukup mumpuni, menurut saya daya tarik film ini didukung oleh
instrumen musik dan lagu yang pas. Dan seperti film drama lainnya, film ini
berakhir dengan happy ending.
Ada hal yang sangat identik dengan
karakter seorang motivator dalam film ini, sebuah motivasi hidup. Hal itulah
yang –mungkin– ingin ditonjolkan oleh sang penulis dan sutradara. Melalui perjuangan
hidup Merry sebagai etnis minoritas di Indonesia yang masih dianggap sebagai essential
others (orang luar) oleh bangsa yang mengaku memiliki kesatuan dan
solidaritas yang tinggi, hingga ia berjuang untuk dapat bertahan hidup
sendirian di negara orang lain yang ia sendiri tak tahu tentang wilayah ia
hidup. Pesan itulah yang ingin disampaikan oleh Merry bahwa seperti apapun
keadaan manusia selagi ia mau berusaha maka akan selalu ada jalan untuk setiap
masalah yang dihadapi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar