Kamis, 02 Oktober 2014

THE SHADOW

Matahari mulai beranjak dari posisinya, menuju ke tempat peraduan. Meninggalkan siang yang setia bersamanya. Senja pun menyambut malam yang mulai gelap. Aku sendiri tanpa siapa pun. Sepi. Hari itu aku merasa lelah yang lebih dari biasanya. Badanku terasa dingin.
Aku bersandar di dinding teras mushola. Aku berpikir untuk berada di sini sejenak sebelum mengikuti rapat kegiatan di kampus. Sekilas ku lihat sekelebat bayangan yang ku kenal. Aku berdebar. Tak yakin dengan apa yang baru saja aku lihat, aku mencoba mengintip ke dalam mushola dan ternyata benar. Bayangan tadi berasal dari seseorang yang sangat aku kenal. Segera ku tekuk dan ku rangkul lututku  sembari tetap duduk bersandar di tempat itu. Aku menunduk dan ku tutup mataku. Tanganku terasa semakin dingin. Jantungku kian berdebar. Malam yang sepi semakin sesak menghimpitku. Pikiranku melayang, mencari-cari sesuatu yang telah lalu. Tak lama kemudian, aku mendengar suara yang tak asing menyapaku, membuatku semakin sulit bernafas. Sesak.

Ngapain di sini?”
“Nggak ngapa-ngapain”. Ketus ku jawab pertanyaan itu. Seketika, cepat, refleks. Entah apa yang dia pikirkan atas jawabanku barusan. Dia pergi begitu saja tanpa melanjutkan pertanyaannya atau sekedar lebih berbasa-basi. Dingin masih ku rasakan.
Hari itu pertama kali dia menyapaku lagi semenjak kejadian beberapa waktu lalu. Kejadian yang masih terekam jelas di ingatanku. Hari ketika ia mengatakan bahwa dia tak lagi ingin bersamaku yang dari awal memang tak ada suatu kepastian. Ketidakpastian itulah yang kini membuatku sesak.

Tapi sudahlah. Itu hanya masa lalu yang terus membuatku sulit bernafas jika diingat. Aku mengerti, tak ada lagi yang bisa diharapkan karena sesungguhnya dulu dia hanya merasa ‘nyaman’ bersamaku. Kini aku bukan siapa-siapa lagi. Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk lebih mengenalmu yang kini aku tahu siapa sebenarnya dirimu.

6 komentar:

  1. Aku tahu siapa dia?
    Perlukah aku menjawabnya?
    Kuserahkan semuanya padamu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siapa? Itu tokoh dalam cerita bukan aku. Hanya menggunakan sudut pandang sebagai orang pertama.

      Hapus
  2. Tapi aku tahu siapa 'pelaku' dalam cerita itu. Dan entah kenapa, itu merujuk pada sang penulis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pelakunya emang bukan aku. Meski begitu, cerita ini nggak merujuk pada penulis. Murni dari cerita narasumber.

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Aku sudah tulis kronologi lengkapnya http://sukmakurnianingrum.blogspot.com/2014/10/pemecah-kesunyian.html

    BalasHapus