Matahari
mulai beranjak dari posisinya, menuju ke tempat peraduan. Meninggalkan siang
yang setia bersamanya. Senja pun menyambut malam yang mulai gelap. Aku sendiri
tanpa siapa pun. Sepi. Hari itu aku merasa lelah yang lebih dari biasanya.
Badanku terasa dingin.
Aku
bersandar di dinding teras mushola. Aku berpikir untuk berada di sini sejenak
sebelum mengikuti rapat kegiatan di kampus. Sekilas ku lihat sekelebat bayangan
yang ku kenal. Aku berdebar. Tak yakin dengan apa yang baru saja aku lihat, aku
mencoba mengintip ke dalam mushola dan ternyata benar. Bayangan tadi berasal dari
seseorang yang sangat aku kenal. Segera ku tekuk dan ku rangkul lututku sembari tetap duduk bersandar di tempat itu.
Aku menunduk dan ku tutup mataku. Tanganku terasa semakin dingin. Jantungku
kian berdebar. Malam yang sepi semakin sesak menghimpitku. Pikiranku melayang,
mencari-cari sesuatu yang telah lalu. Tak lama kemudian, aku mendengar suara
yang tak asing menyapaku, membuatku semakin sulit bernafas. Sesak.
“Ngapain
di sini?”
“Nggak
ngapa-ngapain”. Ketus ku jawab pertanyaan itu. Seketika, cepat, refleks.
Entah apa yang dia pikirkan atas jawabanku barusan. Dia pergi begitu saja tanpa
melanjutkan pertanyaannya atau sekedar lebih berbasa-basi. Dingin masih ku
rasakan.
Hari
itu pertama kali dia menyapaku lagi semenjak kejadian beberapa waktu lalu. Kejadian
yang masih terekam jelas di ingatanku. Hari ketika ia mengatakan bahwa dia tak
lagi ingin bersamaku yang dari awal memang tak ada suatu kepastian.
Ketidakpastian itulah yang kini membuatku sesak.
Tapi
sudahlah. Itu hanya masa lalu yang terus membuatku sulit bernafas jika diingat.
Aku mengerti, tak ada lagi yang bisa diharapkan karena sesungguhnya dulu dia
hanya merasa ‘nyaman’ bersamaku. Kini aku bukan siapa-siapa lagi. Terima kasih
telah memberiku kesempatan untuk lebih mengenalmu yang kini aku tahu siapa
sebenarnya dirimu.
Aku tahu siapa dia?
BalasHapusPerlukah aku menjawabnya?
Kuserahkan semuanya padamu...
Siapa? Itu tokoh dalam cerita bukan aku. Hanya menggunakan sudut pandang sebagai orang pertama.
HapusTapi aku tahu siapa 'pelaku' dalam cerita itu. Dan entah kenapa, itu merujuk pada sang penulis.
BalasHapusPelakunya emang bukan aku. Meski begitu, cerita ini nggak merujuk pada penulis. Murni dari cerita narasumber.
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusAku sudah tulis kronologi lengkapnya http://sukmakurnianingrum.blogspot.com/2014/10/pemecah-kesunyian.html
BalasHapus