Sudah tiga tahun
sejak aku memberikan bunga terakhir kepada Alya. Mungkin itu menjadi hari yang
tak akan terlupakan dan hari itu menjadi titik balik hidupku. Hampir setiap
hari ku habiskan hari-hariku hanya untuk mengenang hari itu dan hari-hari indah
bersama Alya. Tempat favoritku adalah tempat duduk dekat jendela kamar ini.
Sebuah kamar berukuran kecil yang terbatasi dengan dunia luar oleh teralis besi
jendela.
Aku bahagia
ketika mendengar suara Alya dari telepon seluler. Sejak perceraianku dengan Mas
Rudi, Alya ikut dengan ayahnya. Mas Rudi memang tinggal di luar kota sehingga
aku jarang bertemu dengan Alya. Hanya sesekali Mas Rudi dan Alya berkunjung ke
rumah.
Alya adalah
putriku dengan Mas Rudi. Saat ini dia berusia 5 tahun. Dia cantik, periang,
aktif, dan pintar. Tak jarang dia menanyakan banyak hal yang dijumpai setiap
saat. Hal itu yang membuatku selalu merindukannya. Begitu tahu Alya akan datang
aku sangat bahagia. Bagaimana tidak,
seorang ibu yang terpisah dari anaknya di masa-masa tumbuh kembang anaknya. Setiap ibu pasti berharap selalu berada di sisi anaknya untuk mendampingi tumbuh kembangnya.
seorang ibu yang terpisah dari anaknya di masa-masa tumbuh kembang anaknya. Setiap ibu pasti berharap selalu berada di sisi anaknya untuk mendampingi tumbuh kembangnya.
Mas Rudi dan
Alya berangkat dari Bandung pukul 08.00 WIB. Berarti 2 jam lagi mereka akan
sampai. Aku telah menyiapkan hadiah untuk Alya. Alya sangat menyukai boneka dan
bunga. Aku sudah tak sabar untuk bertemu dengannya. Tapi perlahan perasaanku
berubah. Aku mulai khawatir. Seharusnya mereka sudah datang sejak tadi. Ini
sudah lebih dari jam seharusnya. Mungkin jalannya macet, pikirku menenangkan
diriku sendiri.
Lebih dari
empat jam aku menunggu Alya dan Mas Rudi. Mereka tak kunjung datang. Setiap
mobil yang lewat di depan rumahku, mereka hanya lewat saja. Itu bukan Alya dan
Mas Rudi. Aku semakin cemas. Tak biasanya mereka terlambat hingga seperti ini.
Aku coba telepon Mas Rudi juga tidak bisa. Akhirnya ku putuskan untuk
mendatangi rumah Mas Rudi saja. Barangkali mereka tidak jadi berangkat ke sini
karena Mas Rudi sibuk dan tidak sempat mengabariku.
Aku bergegas
bersiap pergi ke rumah Mas Rudi. Aku langsung menghentikan taksi yang lewat
depan rumahku. Pikiranku mulai tidak karuan. Hatiku semakin cemas. Aku mencoba
menghubungi keluarga Mas Rudi tapi tidak ada respon. Segera aku minta supir
taksi itu untuk memacu mobilnya lebih kencang. Di jalan tak ada yang aku
pikirkan lagi selain Alya. Ada apa sebenarnya? Kenapa Mas Rudi tidak bisa
dihubungi?
Sesampainya di
rumah Mas Rudi, aku langsung masuk rumahnya. Tak lama kemudian aku tak sadarkan
diri. Aku tak ingat apa-apa. Ketika aku sadar, lamat-lamat aku ingat bahwa aku
melihat bendera kuning di depan rumah Mas Rudi dan banyak orang berkerumun di
rumahnya. Ada dua orang terbujur kaku di ruang depan, satu orang dewasa dan satu
lagi anak kecil. Di sekelilingnya para kerabat dan tetangga membaca Al Qur’an.
Apakah ini? Ah aku tidak mau berspekulasi. Mungkin ini hanya mimpi. Tidak! Tapi
ini nyata, aku berada di kamar Mas Rudi. Di meja samping tempat tidurku ada
foto kami bertiga.
Aku langsung
keluar kamar dan menuju ruang depan. Aku masih tak percaya jika yang terbaring
itu adalah Mas Rudi dan anakku, Alya. Aku menangis sejadi-jadinya. Ibu Mas Rudi
menenangkanku.
“Rudi dan Alya
kecelakaan ketika perjalanan ke rumahmu tadi siang”, bisik ibu Mas Rudi. Aku
semakin terisak mendengarnya.
Setelah tenang,
aku ikut ke makam Mas Rudi dan Alya. Aku membawa bunga untuk hadiah Alya. Ini
adalah bunga terakhir untuk Alya. Ku puas-puaskan diriku sebelum meninggalkan
makam mereka.
Sejak hari naas
itu aku selalu memikirkan Alya. Aku begitu sayang pada Alya. Setiap hari aku
merasa takut kehilangan peri kecilku itu. Dan hari yang aku takutkan itu pun
terjadi, aku kehilangan peri kecilku yang pintar dan periang. Tak ada lagi yang
mengisi hari-hariku dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang pintar. Aku
begitu depresi. Aku pernah diajak berkonsultasi ke psikolog. Tapi hasilnya
nihil!
Akhirnya
keluargaku memutuskan untuk membawaku ke tempat ini. Tempat yang tidak
seharusnya aku berada. Aku tidak menyukai tempat ini. Tempat ini mengurungku.
Menjauhkanku dari kenanganku bersama Alya. Aku tidak bisa merasakan kehadiran
Alya di sini. Aku ingin sekali pulang. Menemui kenanganku bersama Alya dulu.
Aku akan menjaganya meskipun itu hanya kenangan. Semoga kau bahagia di sana,
peri kecilku.
“Bu Sofi, minum
obat dulu yuk”
Seorang suster membuyarkan kenanganku bersama Alya. Begitulah, mereka
telah menganggapku gila.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar