Jumat, 29 Agustus 2014

BUNGA TERAKHIR

        Sudah tiga tahun sejak aku memberikan bunga terakhir kepada Alya. Mungkin itu menjadi hari yang tak akan terlupakan dan hari itu menjadi titik balik hidupku. Hampir setiap hari ku habiskan hari-hariku hanya untuk mengenang hari itu dan hari-hari indah bersama Alya. Tempat favoritku adalah tempat duduk dekat jendela kamar ini. Sebuah kamar berukuran kecil yang terbatasi dengan dunia luar oleh teralis besi jendela.
Aku bahagia ketika mendengar suara Alya dari telepon seluler. Sejak perceraianku dengan Mas Rudi, Alya ikut dengan ayahnya. Mas Rudi memang tinggal di luar kota sehingga aku jarang bertemu dengan Alya. Hanya sesekali Mas Rudi dan Alya berkunjung ke rumah.
Alya adalah putriku dengan Mas Rudi. Saat ini dia berusia 5 tahun. Dia cantik, periang, aktif, dan pintar. Tak jarang dia menanyakan banyak hal yang dijumpai setiap saat. Hal itu yang membuatku selalu merindukannya. Begitu tahu Alya akan datang aku sangat bahagia. Bagaimana tidak,
seorang ibu yang terpisah dari anaknya di masa-masa tumbuh kembang anaknya. Setiap ibu pasti berharap selalu berada di sisi anaknya untuk mendampingi tumbuh kembangnya.
Mas Rudi dan Alya berangkat dari Bandung pukul 08.00 WIB. Berarti 2 jam lagi mereka akan sampai. Aku telah menyiapkan hadiah untuk Alya. Alya sangat menyukai boneka dan bunga. Aku sudah tak sabar untuk bertemu dengannya. Tapi perlahan perasaanku berubah. Aku mulai khawatir. Seharusnya mereka sudah datang sejak tadi. Ini sudah lebih dari jam seharusnya. Mungkin jalannya macet, pikirku menenangkan diriku sendiri.
Lebih dari empat jam aku menunggu Alya dan Mas Rudi. Mereka tak kunjung datang. Setiap mobil yang lewat di depan rumahku, mereka hanya lewat saja. Itu bukan Alya dan Mas Rudi. Aku semakin cemas. Tak biasanya mereka terlambat hingga seperti ini. Aku coba telepon Mas Rudi juga tidak bisa. Akhirnya ku putuskan untuk mendatangi rumah Mas Rudi saja. Barangkali mereka tidak jadi berangkat ke sini karena Mas Rudi sibuk dan tidak sempat mengabariku.
Aku bergegas bersiap pergi ke rumah Mas Rudi. Aku langsung menghentikan taksi yang lewat depan rumahku. Pikiranku mulai tidak karuan. Hatiku semakin cemas. Aku mencoba menghubungi keluarga Mas Rudi tapi tidak ada respon. Segera aku minta supir taksi itu untuk memacu mobilnya lebih kencang. Di jalan tak ada yang aku pikirkan lagi selain Alya. Ada apa sebenarnya? Kenapa Mas Rudi tidak bisa dihubungi?
Sesampainya di rumah Mas Rudi, aku langsung masuk rumahnya. Tak lama kemudian aku tak sadarkan diri. Aku tak ingat apa-apa. Ketika aku sadar, lamat-lamat aku ingat bahwa aku melihat bendera kuning di depan rumah Mas Rudi dan banyak orang berkerumun di rumahnya. Ada dua orang terbujur kaku di ruang depan, satu orang dewasa dan satu lagi anak kecil. Di sekelilingnya para kerabat dan tetangga membaca Al Qur’an. Apakah ini? Ah aku tidak mau berspekulasi. Mungkin ini hanya mimpi. Tidak! Tapi ini nyata, aku berada di kamar Mas Rudi. Di meja samping tempat tidurku ada foto kami bertiga.
Aku langsung keluar kamar dan menuju ruang depan. Aku masih tak percaya jika yang terbaring itu adalah Mas Rudi dan anakku, Alya. Aku menangis sejadi-jadinya. Ibu Mas Rudi menenangkanku.
“Rudi dan Alya kecelakaan ketika perjalanan ke rumahmu tadi siang”, bisik ibu Mas Rudi. Aku semakin terisak mendengarnya.
Setelah tenang, aku ikut ke makam Mas Rudi dan Alya. Aku membawa bunga untuk hadiah Alya. Ini adalah bunga terakhir untuk Alya. Ku puas-puaskan diriku sebelum meninggalkan makam mereka.
Sejak hari naas itu aku selalu memikirkan Alya. Aku begitu sayang pada Alya. Setiap hari aku merasa takut kehilangan peri kecilku itu. Dan hari yang aku takutkan itu pun terjadi, aku kehilangan peri kecilku yang pintar dan periang. Tak ada lagi yang mengisi hari-hariku dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang pintar. Aku begitu depresi. Aku pernah diajak berkonsultasi ke psikolog. Tapi hasilnya nihil!
Akhirnya keluargaku memutuskan untuk membawaku ke tempat ini. Tempat yang tidak seharusnya aku berada. Aku tidak menyukai tempat ini. Tempat ini mengurungku. Menjauhkanku dari kenanganku bersama Alya. Aku tidak bisa merasakan kehadiran Alya di sini. Aku ingin sekali pulang. Menemui kenanganku bersama Alya dulu. Aku akan menjaganya meskipun itu hanya kenangan. Semoga kau bahagia di sana, peri kecilku.
“Bu Sofi, minum obat dulu yuk”
Seorang suster membuyarkan kenanganku bersama Alya. Begitulah, mereka telah menganggapku gila.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar