Jumat, 29 Agustus 2014

SECANGKIR KOPI PAHIT

      Masih ku rasakan pahit kopi ini. Aku masih berada di tempat dan bangku yang sama seperti saat kita sering menghabiskan waktu dulu. Ku rasakan pahit di setiap teguk kopiku bersama kenanganku. Bising jalanan di luar semakin tak terdengar. Bukan karena jalanan itu semakin sepi tetapi karena aku semakin kembali pada kenangan di tempat ini.
Enam tahun sudah kita tak menikmati kopi bersama di kafe ini. Masih ku ingat saat kau memesan kopi pahit dan tertukar dengan kopiku yang manis. Sejak saat itu kita lebih sering menikmati kopi bersama. Aku juga mulai menyukai kopi pahit. Bagiku kopi pahit itu tetap terasa manis asalkan aku menikmatinya bersamamu. Senyummu yang selalu terkulum di bibir manismu, membuatku tak pernah lupa akan pertemuan itu. Hampir setiap sore kita mengunjungi kafe ini hanya untuk menikmati secangkir kopi atau sekedar mengobrol ngalor ngidul.
Hari itu hujan turun dengan derasnya. Aku menunggumu seperti biasa. Tapi tak ku lihat tanda-tanda kau akan datang. Aku masih tetap menunggu. Berharap kali ini kau tetap datang, hanya saja kau terlambat karena di luar hujan deras. Sudah tiga jam aku di sini sendiri. Hujan di luar juga sudah mulai reda. Sudah beberapa cangkir kopi ku pesan dan ku nikmati sendiri untuk menunggumu. Tapi kau tetap tak datang. Akhirnya ku putuskan untuk pulang. Mungkin kau sedang sibuk.
Esok harinya dan beberapa hari ke depan aku tetap datang ke kafe ini dan menunggumu. Tapi tetap saja kau tak pernah datang sejak hari itu. Hari terakhir kita bertemu, kau tampak murung tak seperti biasanya yang selalu ceria dan tersenyum manis. Kau tak mengatakan apa-apa. Kau hanya meminta maaf padaku. Saat ku tanya, kau juga tak menjawab. Tak sedikitpun kau bercerita. Hari itu kau lebih banyak diam. Saat pulang kau juga hanya mengucapkan terima kasih dan meminta maaf sekali lagi. Aku bingung dengan sikapmu hari itu. Mungkin hari itu aku terlihat seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangan. Aku sadar bahwa kau tak akan datang lagi ke kafe ini bahkan untuk sekedar menemuiku dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Ku panggil pelayan dan ku pesan kopi sekali lagi sambil menunggumu. Aku memang datang lebih awal dari seharusnya. Kali ini aku yakin kau pasti akan datang untuk menjelaskan kejadian enam tahun silam. Aku selalu menanti hari ini dan aku yakin bahwa hari ini akan tiba. Aku merasa sangat bahagia saat ku tahu bahwa kau ingin menemuiku di kafe ini. Sebelum berangkat tadi aku beberapa kali mematut diri di depan kaca agar aku tak salah tingkah di depanmu. Aku juga telah melatih diriku untuk tenang agar tidak terlihat seperti anak kecil yang bingung karena kehilangan mainan kesayangannya. Sejak di jalan tadi aku juga selalu mengulum senyum. Tak terkira bahagianya diriku saat ini.
Aku duduk di bangku yang sama, di dekat jendela, sama persis dengan saat kita pertama kali bertemu. Dari sini aku dapat melihatmu di seberang jalan menuju kemari. Aku semakin bahagia. Tapi siapa lelaki yang bersamamu itu? Dan anak perempuan kecil yang kau gandeng tangannya itu? Ah, perasaanku mulai tak karuan. Pikiranku mulai menerawang banyak hal. Kau semakin dekat. Anak perempuan itu terlihat cantik dan manis, mirip denganmu. Dia begitu ceria sepertimu. Pikiranku semakin buncah tidak karuan. Keringat dingin keluar dari pori-pori kulitku. Mungkinkah itu? Ah, aku tak mau mengatakannya.
Sekarang kau membuka pintu kafe ini dan masuk bersama lelaki dan anak perempuan yang manis itu. Kau berjalan mendekatiku. Suara sepatumu semakin membuat jantungku berdegup kencang. Kini kau berada di hadapanku. Kau tersenyum manis seperti biasanya. Aku hanya diam tak berkutik. Perlahan ku dengar kau memperkenalkan lelaki dan anak perempuan yang bersamamu itu adalah suami dan anakmu. Seketika kopi yang ku minum terasa begitu pahit, lebih pahit dari kenyataan yang ada di depanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar