Masih ku
rasakan pahit kopi ini. Aku masih berada di tempat dan bangku yang sama seperti
saat kita sering menghabiskan waktu dulu. Ku rasakan pahit di setiap teguk
kopiku bersama kenanganku. Bising jalanan di luar semakin tak terdengar. Bukan
karena jalanan itu semakin sepi tetapi karena aku semakin kembali pada kenangan
di tempat ini.
Enam tahun
sudah kita tak menikmati kopi bersama di kafe ini. Masih ku ingat saat kau
memesan kopi pahit dan tertukar dengan kopiku yang manis. Sejak saat itu kita
lebih sering menikmati kopi bersama. Aku juga mulai menyukai kopi pahit. Bagiku
kopi pahit itu tetap terasa manis asalkan aku menikmatinya bersamamu. Senyummu
yang selalu terkulum di bibir manismu, membuatku tak pernah lupa akan pertemuan
itu. Hampir setiap sore kita mengunjungi kafe ini hanya untuk menikmati
secangkir kopi atau sekedar mengobrol ngalor ngidul.
Hari itu hujan
turun dengan derasnya. Aku menunggumu seperti biasa. Tapi tak ku lihat
tanda-tanda kau akan datang. Aku masih tetap menunggu. Berharap kali ini kau
tetap datang, hanya saja kau terlambat karena di luar hujan deras. Sudah tiga
jam aku di sini sendiri. Hujan di luar juga sudah mulai reda. Sudah beberapa
cangkir kopi ku pesan dan ku nikmati sendiri untuk menunggumu. Tapi kau tetap
tak datang. Akhirnya ku putuskan untuk pulang. Mungkin kau sedang sibuk.
Esok harinya
dan beberapa hari ke depan aku tetap datang ke kafe ini dan menunggumu. Tapi
tetap saja kau tak pernah datang sejak hari itu. Hari terakhir kita bertemu,
kau tampak murung tak seperti biasanya yang selalu ceria dan tersenyum manis.
Kau tak mengatakan apa-apa. Kau hanya meminta maaf padaku. Saat ku tanya, kau
juga tak menjawab. Tak sedikitpun kau bercerita. Hari itu kau lebih banyak
diam. Saat pulang kau juga hanya mengucapkan terima kasih dan meminta maaf
sekali lagi. Aku bingung dengan sikapmu hari itu. Mungkin hari itu aku terlihat
seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangan. Aku sadar bahwa kau tak
akan datang lagi ke kafe ini bahkan untuk sekedar menemuiku dan menjelaskan apa
yang sebenarnya terjadi.
Ku panggil
pelayan dan ku pesan kopi sekali lagi sambil menunggumu. Aku memang datang
lebih awal dari seharusnya. Kali ini aku yakin kau pasti akan datang untuk
menjelaskan kejadian enam tahun silam. Aku selalu menanti hari ini dan aku
yakin bahwa hari ini akan tiba. Aku merasa sangat bahagia saat ku tahu bahwa
kau ingin menemuiku di kafe ini. Sebelum berangkat tadi aku beberapa kali mematut
diri di depan kaca agar aku tak salah tingkah di depanmu. Aku juga telah
melatih diriku untuk tenang agar tidak terlihat seperti anak kecil yang bingung
karena kehilangan mainan kesayangannya. Sejak di jalan tadi aku juga selalu
mengulum senyum. Tak terkira bahagianya diriku saat ini.
Aku duduk di
bangku yang sama, di dekat jendela, sama persis dengan saat kita pertama kali bertemu.
Dari sini aku dapat melihatmu di seberang jalan menuju kemari. Aku semakin
bahagia. Tapi siapa lelaki yang bersamamu itu? Dan anak perempuan kecil yang
kau gandeng tangannya itu? Ah, perasaanku mulai tak karuan. Pikiranku mulai
menerawang banyak hal. Kau semakin dekat. Anak perempuan itu terlihat cantik
dan manis, mirip denganmu. Dia begitu ceria sepertimu. Pikiranku semakin buncah
tidak karuan. Keringat dingin keluar dari pori-pori kulitku. Mungkinkah itu?
Ah, aku tak mau mengatakannya.
Sekarang kau membuka pintu kafe ini dan masuk bersama lelaki dan anak
perempuan yang manis itu. Kau berjalan mendekatiku. Suara sepatumu semakin
membuat jantungku berdegup kencang. Kini kau berada di hadapanku. Kau tersenyum
manis seperti biasanya. Aku hanya diam tak berkutik. Perlahan ku dengar kau
memperkenalkan lelaki dan anak perempuan yang bersamamu itu adalah suami dan
anakmu. Seketika kopi yang ku minum terasa begitu pahit, lebih pahit dari
kenyataan yang ada di depanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar