Rabu, 27 Agustus 2014

'MAHASISWA TITIPAN' ATAU 'UANG TITIPAN'?

Kalo denger yang namanya ‘titipan’ biasanya identik dengan yang namanya amanah. Tapi apa benar semua titipan itu ‘amanah’? Ane sih nggak yakin bro. Pasalnya ane punya cerita dari temen ane yang katanya pernah punya pengalaman dengan yang namanya ‘titipan’.
Apa yang terlintas di benak kalian saat mendengar kata ”mahasiswa titipan”? mahasiswa yang dititipin ke ibu kos? Mahasiswa yang dititipin ke warung (semacam gorengan)? Atau malah mahasiswa yang dititipin ke baby sitter (sejenis bayi)? Terserah apa yang kalian pikirkan tentang pendapat itu tapi bukan itu yang ane maksud. Mahasiswa titipan yang ane maksud berbanding lurus dengan oknum penerima beasiswa di kampus.
Temen ane punya pengalaman pengajuan beasiswa di kampus. Setiap tahun kampus ane punya agenda penganugerahan beasiswa bagi mahasiswa/i yang memenuhi kriteria. Kenapa ane bilang kriteria dan bukan syarat? Karena menurut ane sebagian belum tepat sasaran. Sebut aja temen ane namanya Nini.
Si Nini ini nih, dia mengajukan beasiswa dan melampirkan berkas-berkas yang diperlukan. Setelah diseleksi oleh pihak yang bertugas, ternyata dia nggak lolos seleksi. Awalnya dia nggak masalah. Pas dia tahu penerima beasiswa itu ‘mahasiswa titipan’, dia nggak terima.
Alasannya sederhana sih. Itu mahasiswa titipan katanya sering ikut dosen nge-job jadi kuliahnya agak ketinggalan. Padahal secara aturan yang udah mainstream, beasiswa itu diperuntukkan untuk mahasiswa/i yang aktif kuliahnya. Sehingga menunjang pendidikannya karena beasiswa juga termasuk sarana pendidikan. Berikut semacam kutipan dialog diperagakan oleh temen ane yang dikutip dari petugas akademik kampus:
Nini: “Huh, bener-bener kesel gue masalah beasiswa ini.”
Ane: “Emang kenapa?”
Nini: “Gimana nggak kesel, yang dapat beasiswa lho mahasiswa itu-itu, satu geng. Itu nepotisme namanya.”
Ane: “Kok tahu kalo itu nepotisme?”
Nini: “Iya lah, aku denger sendiri orang akademik ngomong kayak gitu. Pas aku ngumpulin berkas aku denger orang akademik ngomong gini, ‘mahasiswa anu, anu, anu, anu itu titipannya mas Dono (dosen). Katanya mereka itu sering ngebantuin mas Dono kerja. Jadi kuliahnya agak ketinggalan gitu. Ya bagaimana lagi, mau nolak aku sungkan sama mas Dono’. Sumpah gregetan aku denger itu.”
Kalo menurut ane sih itu bukan lagi sungkan tapi nepotisme. Di mata ane, sungkan itu nggak berlaku untuk hal-hal yang mengandung unsur kebusukan. Bagaimana bisa beasiswa-beasiswa kayak gitu tepat sasaran kalo masih ada oknum-oknum yang berperan dibalik sebuah program. Kita, mahasiswa, di kampus diajarkan supaya menjadi orang-orang yang kritis. Tapi apa gunanya kalau ternyata suara-suara kritis itu malah dibungkam? Banyak kejadian ketika seorang atau beberapa mahasiswa kritis menyampaikan pendapatnya justru terancam pendidikannya. Misalnya aja kakak tingkat ane yang beda jurusan tapi satu fakultas. Dia menyuarakan apa yang dipikirkannya melalui rangkaian katanya. Maklum, ane berlindung di bawah atap Fakultas Sastra jadi suara-suara yang terdengar ya rangkaian kata namun kritis. Bukannya mendapat respon dari pejabat ters untuk ditindaklanjuti isi suaranya, justru suaranya yang dipermasalahkan. Suara kritisnya dibungkam dengan ancaman D.O (drop out). Lalu bagaimana bisa kita menjadi orang kritis jika setiap suara kritis mesti dibungkam bahkan (maaf) dikebiri?

Ane juga pernah baca buletin kampus ane yang isinya mengkritisi dana praktikum yang telah dibayarkan oleh mahasiswa pada saat heregistrasi awal dan heregistrasi setiap semester. Ane jadi berpikir, sebenarnya itu uang buat anggaran praktikum atau uang titipan (semacam mahasiswa titipan)? Kalau semua hal bisa dititipkan, jangan-jangan kursi-kursi wakil rakyat di sana juga titipan dari kerabat dekat atau sanak family, seperti lagunya Iwan Fals. Tapi jika benar semua bisa dititipkan, ane juga mau nitip ke oknum-oknum yang biasa dikasih titipan. Ane nitip, tolong jangan lagi nerima titipan-titipan gelap. Terutama para oknum yang dianggap “berpendidikan”. Pantaskah seorang yang berpendidikan menyandang gelar ‘penitip gelap’ atau membuka ‘titipan gelap’?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar