Kalo denger
yang namanya ‘titipan’ biasanya identik dengan yang namanya amanah. Tapi apa
benar semua titipan itu ‘amanah’? Ane sih nggak yakin bro. Pasalnya ane punya
cerita dari temen ane yang katanya pernah punya pengalaman dengan yang namanya
‘titipan’.
Apa yang
terlintas di benak kalian saat mendengar kata ”mahasiswa titipan”? mahasiswa
yang dititipin ke ibu kos? Mahasiswa yang dititipin ke warung (semacam
gorengan)? Atau malah mahasiswa yang dititipin ke baby sitter (sejenis
bayi)? Terserah apa yang kalian pikirkan tentang pendapat itu tapi bukan itu
yang ane maksud. Mahasiswa titipan yang ane maksud berbanding lurus dengan oknum
penerima beasiswa di kampus.
Temen ane punya
pengalaman pengajuan beasiswa di kampus. Setiap tahun kampus ane punya agenda
penganugerahan beasiswa bagi mahasiswa/i yang memenuhi kriteria. Kenapa ane
bilang kriteria dan bukan syarat? Karena menurut ane sebagian belum tepat
sasaran. Sebut aja temen ane namanya Nini.
Si Nini ini nih, dia mengajukan beasiswa dan melampirkan berkas-berkas yang diperlukan. Setelah diseleksi oleh pihak yang bertugas, ternyata dia nggak lolos seleksi. Awalnya dia nggak masalah. Pas dia tahu penerima beasiswa itu ‘mahasiswa titipan’, dia nggak terima.
Si Nini ini nih, dia mengajukan beasiswa dan melampirkan berkas-berkas yang diperlukan. Setelah diseleksi oleh pihak yang bertugas, ternyata dia nggak lolos seleksi. Awalnya dia nggak masalah. Pas dia tahu penerima beasiswa itu ‘mahasiswa titipan’, dia nggak terima.
Alasannya
sederhana sih. Itu mahasiswa titipan katanya sering ikut dosen nge-job
jadi kuliahnya agak ketinggalan. Padahal secara aturan yang udah mainstream,
beasiswa itu diperuntukkan untuk mahasiswa/i yang aktif kuliahnya. Sehingga
menunjang pendidikannya karena beasiswa juga termasuk sarana pendidikan.
Berikut semacam kutipan dialog diperagakan oleh temen ane yang dikutip dari
petugas akademik kampus:
Nini: “Huh,
bener-bener kesel gue masalah beasiswa ini.”
Ane: “Emang
kenapa?”
Nini: “Gimana
nggak kesel, yang dapat beasiswa lho mahasiswa itu-itu, satu geng. Itu
nepotisme namanya.”
Ane: “Kok tahu
kalo itu nepotisme?”
Nini: “Iya lah,
aku denger sendiri orang akademik ngomong kayak gitu. Pas aku ngumpulin berkas
aku denger orang akademik ngomong gini, ‘mahasiswa anu, anu, anu, anu itu
titipannya mas Dono (dosen). Katanya mereka itu sering ngebantuin mas Dono
kerja. Jadi kuliahnya agak ketinggalan gitu. Ya bagaimana lagi, mau nolak aku
sungkan sama mas Dono’. Sumpah gregetan aku denger itu.”
Kalo menurut
ane sih itu bukan lagi sungkan tapi nepotisme. Di mata ane, sungkan itu nggak
berlaku untuk hal-hal yang mengandung unsur kebusukan. Bagaimana bisa
beasiswa-beasiswa kayak gitu tepat sasaran kalo masih ada oknum-oknum yang
berperan dibalik sebuah program. Kita, mahasiswa, di kampus diajarkan supaya
menjadi orang-orang yang kritis. Tapi apa gunanya kalau ternyata suara-suara
kritis itu malah dibungkam? Banyak kejadian ketika seorang atau beberapa
mahasiswa kritis menyampaikan pendapatnya justru terancam pendidikannya.
Misalnya aja kakak tingkat ane yang beda jurusan tapi satu fakultas. Dia menyuarakan
apa yang dipikirkannya melalui rangkaian katanya. Maklum, ane berlindung di
bawah atap Fakultas Sastra jadi suara-suara yang terdengar ya rangkaian kata
namun kritis. Bukannya mendapat respon dari pejabat ters untuk ditindaklanjuti
isi suaranya, justru suaranya yang dipermasalahkan. Suara kritisnya dibungkam
dengan ancaman D.O (drop out). Lalu bagaimana bisa kita menjadi orang
kritis jika setiap suara kritis mesti dibungkam bahkan (maaf) dikebiri?
Ane juga pernah
baca buletin kampus ane yang isinya mengkritisi dana praktikum yang telah
dibayarkan oleh mahasiswa pada saat heregistrasi awal dan heregistrasi setiap
semester. Ane jadi berpikir, sebenarnya itu uang buat anggaran praktikum atau
uang titipan (semacam mahasiswa titipan)? Kalau semua hal bisa dititipkan,
jangan-jangan kursi-kursi wakil rakyat di sana juga titipan dari kerabat dekat
atau sanak family, seperti lagunya Iwan Fals. Tapi jika benar semua bisa
dititipkan, ane juga mau nitip ke oknum-oknum yang biasa dikasih titipan. Ane
nitip, tolong jangan lagi nerima titipan-titipan gelap. Terutama para oknum
yang dianggap “berpendidikan”. Pantaskah seorang yang berpendidikan menyandang
gelar ‘penitip gelap’ atau membuka ‘titipan gelap’?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar