Jumat, 29 Agustus 2014

SURATKU UNTUK sang ADAM

“Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama yang ada padamu maka hilang pula cintaku padamu”

Aku pernah membaca quote itu pada sebuah jejaring sosial. Sebuah kalimat yang menunjukkan kejujuran berlandaskan iman kepada Sang Pemilik Cinta. Layaknya Adam dan Hawa kala itu. Sang Adam melanggar janjinya untuk tidak memakan buah khuldi. Karenanya ia terpisah dengan Hawa. Sang Adam pun bertemu kembali dengan sang Hawa setelah sekian ratus tahun berpisah. Dan itu karena cinta sang Adam kepada Hawa begitu besar yang berlandaskan iman kepada Pemilik Cinta.
Saat ini aku tengah menikmati hujan yang turun di hari yang mulai senja. Ku rasakan rindu yang mendalam datang bersama rintik hujan yang jatuh ke bumi. Dingin. Senyap. Begitu besar rindu yang menderaku. Lama ku rasakan dinginnya rinduku bertahan di sini. Perlahan tak ku dengarkan lagi suara hujan itu. Hilang. Lenyap bersama rinduku yang ku rasakan bersamamu.
Dan kini aku ingin menulis surat cintaku untuk sang Adam, pemilik tulang rusuk yang bengkok ini.

Kepada pemilik tulang rusuk ini,
Melalui surat ini, aku ingin sampaikan harapanku padamu...
Wahai sang Adam, sedang apa engkau saat ini? Apakah engkau sedang mencariku? Atau engkau bersama yang lain? Aku tak tahu. Aku ingin bercerita, bahwa saat ini telah banyak ku temui makhluk sepertimu, pemilik tulang rusuk yang bengkok itu, dengan berbagai macam sifatnya. Tapi tak satu pun menarik hatiku.
Aku melihat mereka dengan Hawa-Hawa yang lain. Sekali waktu aku melihat ia bersama Hawa yang cantik rupawan namun itu kecantikan fisik. Di waktu yang lain aku juga bertemu sang Adam yang lain bersama makhluk jelita yang lain pula. Tak seperti yang pernah aku temui dulu. Kali ini dia adalah Hawa yang menawan bahkan tak sembarangan Adam bisa melihat wujud aslinya
 Sayangnya, yang seringkali aku temui adalah Adam dan Hawa yang mengumbar cinta di mana-mana. Mereka mengatakan cinta dan janji-janji dengan mudah. Mengatakan banyak hal indah dan menjanjikan hal-hal yang manis.
Wahai sang Adam! Apakah engkau seperti itu? Aku akan sangat bersedih jika kau seperti itu. Di sini aku berusaha menjadi makhluk ciptaan Tuhan yang indah dan memiliki keindahan akhlaq. Apakah engkau pun begitu? Semoga engkau juga berusaha menjadi Adam yang terbaik sebagai calon imamku nanti.
Aku masih memiliki banyak cerita tentang Adam dan Hawa yang pernah ku temui di zaman yang banyak janji dan perasaan diumbar di dalamnya.
Aku melihat muda-mudi yang saat mereka jatuh cinta, mereka akan mampu membuat puisi-puisi romantis. Mereka yang jatuh cinta seakan-akan memiliki kekuatan yang begitu besar untuk berbuat sesuatu demi kekasih hatinya, bahkan hingga hal-hal yang dianggap tak mungkin. Mereka yang jatuh cinta di zaman ini, mampu membuat huruf demi huruf terangkai menjadi kata dan kata demi kata terangkai menjadi bait-bait kalimat yang indah. Sungguh ajaib kekuatan cinta itu ya.
Mungkinkah engkau juga berbuat seperti itu, Adam? Merangkai kalimat menjadi bait-bait indah. Untuk siapakah gerangan rangkaian kalimat itu? Apakah itu untuk Hawa yang pernah kau temui? Atau hanya untukku kah rangkaian kalimatmu itu? Mungkin iya, mungkin tidak.
Aku juga pernah melihat muda-mudi yang masih labil menjalin ikatan cinta tapi mereka saling mengikat satu sama lain secara berlebihan. Kalau dalam bahasa zaman ini biasa disebut ‘over protective’. Mereka saling tak memiliki kebebasan untuk berkegiatan dan menikmati dunia masing-masing. Ada juga mereka yang memiliki gaya ‘ikatan cinta’ yang easy going. Memiliki menjalin ikatan tapi mereka tetap bisa memilih kegiatan yang disukai masing-masing pasangan.
O ya, aku juga memiliki cerita tentang pasangan yang menjalin hubungan jarak jauh atau yang biasa disebut long distance relationship (LDR). Aku tak tahu persis bagaimana hal itu. Tapi kata mereka, LDR itu banyak godaannya. Kadang si do’i punya teman atau kenalan yang dianggap lebih mengerti dan memahami karakternya daripada pasangan mereka. Jika mereka tidak mampu menjaga kepercayaan maka mereka akan berpaling atau paling tidak selingkuh.
Apakah kita saat ini sedang menjalani hubungan jarak jauh itu? Percayakah kau akan rumitnya LDR itu? Percayakah kau bahwa aku menunggumu dengan setia? Aku percaya kalau kau di sana juga setia menunggu waktu untuk bertemu denganku. Dan aku di sini akan menjaga kepercayaan yang diberikan Pemilik Cinta untuk setia dan menunggumu.
Gaya seperti apakah yang engkau pilih ketika kita telah bertemu nanti? Apakah yang ‘over protective’ atau yang easy going? Jika aku boleh memilih, aku lebih menyukai yang easy going? J
Wahai sang Adam! Kini apa yang engkau harapkan dariku? Sudahkah engkau mencariku sepenuh hatimu? Aku telah mengatakan hal yang aku inginkan. Aku di sini selalu menunggu kereta kencana yang kau kirimkan kepadaku. Aku selalu berdo’a bahwa engkau datang layaknya pangeran berkuda putih atau mengirimkan sebuah kereta kencana untuk menjemput dan membawaku menuju singgasanamu. Sebuah singgasana bertabur perhiasan penuh keimanan. Aku akan selalu menunggumu.
Terakhir, aku ingin katakan bahwa aku mencintaimu karena sang Pemilik Cinta. Dan aku akan setia menunggumu hingga hari yang indah itu tiba. Hari dimana engkau mengucapkan janji suci dalam ikatan pernikahan di depan penghulu, ayahku, ibuku dan di depan kerabat keluarga kita yang datang. Seperti kisah Majnun yang setia mencintai Laila hingga tak selangkah pun ia berani mendekatinya tanpa rasa gugup.

Jember, Mei 2014

Salam setiaku untukmu,
Sang Adam pemilik tulang rusuk yang bengkok ini

Demikian suratku untukmu. Semoga kau berkenan dengan apa yang aku tulis.
Adam, ku harap kau juga memiliki surat untukku. Aku akan bersedia membacanya dengan senang hati. Dan di akhir tulisanku ini, izinkan aku menuliskan rangkaian kataku untukmu.

Kakiku menuntun untuk terus berjalan
Jauh, melampaui batas
Hingga ku tak lagi mampu berjalan
Tapi ku paksa terus berjalan
Entah sampai kapan
Entah sampai dimana
Aku tak tahu pasti
Perjalanan panjang tanpa arah
Ingin segera ku akhiri waktuku
Waktu untuk mencari
Waktu untuk berhenti
Menemukan hatiku yang terbawa olehnya
Oleh jiwa yang ku nanti
Jiwa yang penuh kehangatan
Jiwa yang menemani sepiku, mengisi relungku
Dan jiwa yang mau menerima aku apa adanya
Kepada Sang Pemilik Hati..
Ku tengadahkan tanganku dan ku panjatkan
“Jika ia memang tercipta untukku, sebagai pasanganku
Izinkan aku mengenalnya
Jagalah hatiku dan hatinya untuk selalu terpaut kepada-MU
Agar Engkau ridho atas usaha kami...
Kepada Yang Maha Mudah Membolak-Balikkan Hati..
Tetapkan hati kami untuk saling menjaga fitroh hati kami
Fitroh cinta, kasih, dan sayang yang Engkau titipkan kepada kami
Dan akhirnya. Jadikan kami calon pasangan yang merindukan kasih sayang-MU..
Namun, jika ia bukan untukku
Jadikan pertemuan kami sebuah hikmah
Dan berikan setiap dari kami pasangan yang baik, yang telah Engkau pilihkan”
                  Aamiin..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar