“Aku
mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama yang ada
padamu maka hilang pula cintaku padamu”
Aku pernah
membaca quote itu pada sebuah jejaring sosial. Sebuah kalimat yang
menunjukkan kejujuran berlandaskan iman kepada Sang Pemilik Cinta. Layaknya
Adam dan Hawa kala itu. Sang Adam melanggar janjinya untuk tidak memakan buah
khuldi. Karenanya ia terpisah dengan Hawa. Sang Adam pun bertemu kembali dengan
sang Hawa setelah sekian ratus tahun berpisah. Dan itu karena cinta sang Adam
kepada Hawa begitu besar yang berlandaskan iman kepada Pemilik Cinta.
Saat ini aku
tengah menikmati hujan yang turun di hari yang mulai senja. Ku rasakan rindu
yang mendalam datang bersama rintik hujan yang jatuh ke bumi. Dingin. Senyap.
Begitu besar rindu yang menderaku. Lama ku rasakan dinginnya rinduku bertahan
di sini. Perlahan tak ku dengarkan lagi suara hujan itu. Hilang. Lenyap bersama
rinduku yang ku rasakan bersamamu.
Kepada
pemilik tulang rusuk ini,
Melalui
surat ini, aku ingin sampaikan harapanku padamu...
Wahai sang
Adam, sedang apa engkau saat ini? Apakah engkau sedang mencariku? Atau engkau
bersama yang lain? Aku tak tahu. Aku ingin bercerita, bahwa saat ini telah
banyak ku temui makhluk sepertimu, pemilik tulang rusuk yang bengkok itu,
dengan berbagai macam sifatnya. Tapi tak satu pun menarik hatiku.
Aku melihat
mereka dengan Hawa-Hawa yang lain. Sekali waktu aku melihat ia bersama Hawa
yang cantik rupawan namun itu kecantikan fisik. Di waktu yang lain aku juga
bertemu sang Adam yang lain bersama makhluk jelita yang lain pula. Tak seperti
yang pernah aku temui dulu. Kali ini dia adalah Hawa yang menawan bahkan tak
sembarangan Adam bisa melihat wujud aslinya
Sayangnya, yang seringkali aku temui adalah
Adam dan Hawa yang mengumbar cinta di mana-mana. Mereka mengatakan cinta dan
janji-janji dengan mudah. Mengatakan banyak hal indah dan menjanjikan hal-hal
yang manis.
Wahai sang
Adam! Apakah engkau seperti itu? Aku akan sangat bersedih jika kau seperti itu.
Di sini aku berusaha menjadi makhluk ciptaan Tuhan yang indah dan memiliki
keindahan akhlaq. Apakah engkau pun begitu? Semoga engkau juga berusaha menjadi
Adam yang terbaik sebagai calon imamku nanti.
Aku masih
memiliki banyak cerita tentang Adam dan Hawa yang pernah ku temui di zaman yang
banyak janji dan perasaan diumbar di dalamnya.
Aku melihat
muda-mudi yang saat mereka jatuh cinta, mereka akan mampu membuat puisi-puisi
romantis. Mereka yang jatuh cinta seakan-akan memiliki kekuatan yang begitu
besar untuk berbuat sesuatu demi kekasih hatinya, bahkan hingga hal-hal yang
dianggap tak mungkin. Mereka yang jatuh cinta di zaman ini, mampu membuat huruf
demi huruf terangkai menjadi kata dan kata demi kata terangkai menjadi bait-bait
kalimat yang indah. Sungguh ajaib kekuatan cinta itu ya.
Mungkinkah
engkau juga berbuat seperti itu, Adam? Merangkai kalimat menjadi bait-bait
indah. Untuk siapakah gerangan rangkaian kalimat itu? Apakah itu untuk Hawa
yang pernah kau temui? Atau hanya untukku kah rangkaian kalimatmu itu? Mungkin
iya, mungkin tidak.
Aku juga
pernah melihat muda-mudi yang masih labil menjalin ikatan cinta tapi mereka
saling mengikat satu sama lain secara berlebihan. Kalau dalam bahasa zaman ini
biasa disebut ‘over protective’. Mereka saling tak memiliki kebebasan untuk
berkegiatan dan menikmati dunia masing-masing. Ada juga mereka yang memiliki
gaya ‘ikatan cinta’ yang easy going. Memiliki menjalin ikatan tapi mereka tetap
bisa memilih kegiatan yang disukai masing-masing pasangan.
O ya, aku
juga memiliki cerita tentang pasangan yang menjalin hubungan jarak jauh atau
yang biasa disebut long distance relationship (LDR). Aku tak tahu persis
bagaimana hal itu. Tapi kata mereka, LDR itu banyak godaannya. Kadang si do’i
punya teman atau kenalan yang dianggap lebih mengerti dan memahami karakternya
daripada pasangan mereka. Jika mereka tidak mampu menjaga kepercayaan maka
mereka akan berpaling atau paling tidak selingkuh.
Apakah kita
saat ini sedang menjalani hubungan jarak jauh itu? Percayakah kau akan rumitnya
LDR itu? Percayakah kau bahwa aku menunggumu dengan setia? Aku percaya kalau
kau di sana juga setia menunggu waktu untuk bertemu denganku. Dan aku di sini
akan menjaga kepercayaan yang diberikan Pemilik Cinta untuk setia dan
menunggumu.
Gaya seperti
apakah yang engkau pilih ketika kita telah bertemu nanti? Apakah yang ‘over
protective’ atau yang easy going? Jika aku boleh memilih, aku lebih menyukai
yang easy going? J
Wahai sang
Adam! Kini apa yang engkau harapkan dariku? Sudahkah engkau mencariku sepenuh
hatimu? Aku telah mengatakan hal yang aku inginkan. Aku di sini selalu menunggu
kereta kencana yang kau kirimkan kepadaku. Aku selalu berdo’a bahwa engkau
datang layaknya pangeran berkuda putih atau mengirimkan sebuah kereta kencana
untuk menjemput dan membawaku menuju singgasanamu. Sebuah singgasana bertabur perhiasan
penuh keimanan. Aku akan selalu menunggumu.
Terakhir,
aku ingin katakan bahwa aku mencintaimu karena sang Pemilik Cinta. Dan aku akan
setia menunggumu hingga hari yang indah itu tiba. Hari dimana engkau
mengucapkan janji suci dalam ikatan pernikahan di depan penghulu, ayahku, ibuku
dan di depan kerabat keluarga kita yang datang. Seperti kisah Majnun yang setia
mencintai Laila hingga tak selangkah pun ia berani mendekatinya tanpa rasa
gugup.
Jember, Mei 2014
Salam setiaku
untukmu,
Sang Adam pemilik
tulang rusuk yang bengkok ini
Demikian
suratku untukmu. Semoga kau berkenan dengan apa yang aku tulis.
Adam, ku harap
kau juga memiliki surat untukku. Aku akan bersedia membacanya dengan senang
hati. Dan di akhir tulisanku ini, izinkan aku menuliskan rangkaian kataku
untukmu.
Kakiku menuntun untuk
terus berjalan
Jauh, melampaui batas
Hingga ku tak lagi
mampu berjalan
Tapi ku paksa terus
berjalan
Entah sampai kapan
Entah sampai dimana
Aku tak tahu pasti
Perjalanan panjang
tanpa arah
Ingin segera ku akhiri
waktuku
Waktu untuk mencari
Waktu untuk berhenti
Menemukan hatiku yang
terbawa olehnya
Oleh jiwa yang ku nanti
Jiwa yang penuh
kehangatan
Jiwa yang menemani sepiku,
mengisi relungku
Dan jiwa yang mau
menerima aku apa adanya
Kepada Sang Pemilik
Hati..
Ku tengadahkan tanganku
dan ku panjatkan
“Jika ia memang tercipta
untukku, sebagai pasanganku
Izinkan aku mengenalnya
Jagalah hatiku dan
hatinya untuk selalu terpaut kepada-MU
Agar Engkau ridho atas
usaha kami...
Kepada Yang Maha Mudah
Membolak-Balikkan Hati..
Tetapkan hati kami
untuk saling menjaga fitroh hati kami
Fitroh cinta, kasih,
dan sayang yang Engkau titipkan kepada kami
Dan akhirnya. Jadikan
kami calon pasangan yang merindukan kasih sayang-MU..
Namun, jika ia bukan
untukku
Jadikan pertemuan kami
sebuah hikmah
Dan berikan setiap dari
kami pasangan yang baik, yang telah Engkau pilihkan”
Aamiin..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar