8 Maret 2014
22:59
Aku menyukai setiap detik waktu
Dan aku meyukai suara detak jam yang terus
berputar
Tapi tak selamanya seperti itu..
Kadang aku membencinya
Bahkan sangat membencinya..
Tak banyak yang bisa aku katakan
Waktu telah melahirkanku
Waktu yang telah menumbuhkanku
Waktu yang telah mendidik dan mengajariku
Waktu yang telah memujiku
Waktu yang telah memarahiku, menghardikku
bahkan mencaciku
Waktu yang telah mendewasakanku
Waktu yang telah membawa ragaku melintasi
batas usia
Waktu yang telah memberiku pengalaman
Waktu yang telah menunjukkanku bahwa hidup
adalah perjuangan
Dan ribuan
waktu yang telah menunjukkan ribuan hal lain yang terus berkembang dan tak
terbatas...
Tapi kini aku masih saja berada di lingkaran
waktu itu
Yang akan terus menyeretku ke hal-hal yang tak
pernah aku tahu
Hingga batas waktuku telah habis...
***
Demikian yang telah dikatakan oleh sang waktu
kepadaku. Waktu telah mengajarkan banyak hal kepadaku. Waktu pula yang
mengajari hatiku untuk berbicara.
Namaku Kapela, Lintang Kapela. Kapela, sebuah
nama bintang paling terang di susunan bintang Auriga. Aku juga berharap bisa
menjadi sosok yang terang dalam kehidupanku dan orang-orang di sekitarku.
Selama ini hatiku tak mengatakan apapun. Ia
hanya diam. Itu berarti hatiku sejalan dengan keadaan di sekitarku. Tapi kini
hatiku mulai terusik dengan kehadiran seseorang dalam hidupku. Aku tak begitu
dekat dengannya, hanya sekedar tahu. Aku mengaguminya? Benar. Aku menyukai
gayanya? Benar. Aku ingin mengenal pribadinya lebih dekat? Benar. Semuanya
benar. Intinya, aku ingin mengenal dia lebih dekat. Hanya saja aku tak tahu
bagaimana bisa aku melakukan itu?
Semua hal di atas hanya sebatas ‘kagum’, tak
lebih. Tapi terkadang ku dengar hatiku berbisik bahwa tak menutup kemungkinan
perasaan ini akan berubah dan tak sekedar kagum. Mungkin. Hanya waktu yang akan
menunjukkannya.
“Langit. Awan Langit.”
Nama yang sampai saat ini terkenang dalam
benakku. Cukup unik, pikirku. Dia mengatakan namanya sambil tersenyum saat ada
perkenalan dengan mahasiswa baru di kampusku. Dan aku adalah salah satu
mahasiswa baru itu. Dia kakak tingkatku. Dia berbeda dengan teman-temannya. Bagiku
dia adalah dirinya sendiri, yang selalu easy going dengan kehidupannya.
Santai, cool, tak banyak bicara, tapi sebenarnya dia pribadi yang menarik.
Aku tahu, tak hanya aku yang mengaguminya, banyak cewek lain yang juga kagum –bahkan
suka– sama Langit.
Aku pernah berpikir iseng mencoba
mencari hubungan namaku dan nama Langit. Kapela dan Langit. Dua nama yang
secara harfiah memiliki keterkaitan di angkasa. Kapela yang merupakan salah
satu dari ribuan bintang yang bersinar di langit. Ia menjadi spesial karena merupakan
bintang paling terang dalam susunan bintang Auriga. Bintang dan langit, dua hal
yang terpisah dan saling terkait. Tapi apakah Kapela yang satu ini menjadi
spesial bagi seorang Langit? Dari situ, aku sering berkhayal seperti dalam
sinetron atau FTV bahwa akhirnya aku dan Langit akan bersama. Sebuah khayalan
yang aku pikir mustahil untuk terjadi dalam hidupku.
Hampir setiap hari aku bertemu dengan Langit
di kampus. Dan karena itu, semakin hari aku semakin mengaguminya. Banyak
tulisan-tulisan kecil yang aku tulis untuknya. Tapi tak pernah tersampaikan. Semua
berjalan seperti hari-hari yang lalu, aku menulis karena terinspirasi dari
Langit dan aku semakin mengaguminya. Itu menjadi hal yang ajaib ketika aku
menyadari bahwa rasa kagum atau suka kepada seseorang mampu membuat huruf-huruf
tesusun menjadi kalimat cerita atau bait yang indah. Tak ada yang berubah
setiap harinya kecuali seorang Kapela yang semakin terikat pada sang Langit.
Memang banyak bintang-bintang lain yang lebih cantik dari aku di kehidupan
Langit dan Langit telah memilih bintangnya sendiri yang kini menjabat sebagai
pacar Langit. Bintang yang beruntung itu bernama Muti. Mutiara Jelita.
Sesuai namanya, ia memang cantik, tinggi,
rambutnya lurus dan panjang, terlihat serasi dengan Langit. Gaya berpacaran
mereka berbeda dengan orang lain. Mereka memiliki gaya berpacaran yang sesusai
dengan gaya pribadi mereka yang easy going. Mereka berteman tapi pacaran
dan mereka berpacaran tapi berteman. Tak pernah ku lihat Langit dan Muti
mempermasalahkan perbedaan di antara mereka. Sekalipun mereka berpacaran,
mereka tetap memiliki kebebasan untuk tetap menikmati dunia mereka sendiri
karena Langit dan Muti memiliki ketertarikan yang berbeda. Langit tertarik di bidang
robotik dan Muti tertarik di bidang sosial.
Seiring berubahnya musim dan berjalannya
waktu, perasaanku mulai berubah. Rasa kagumku melebihi batas. Aku sadar aku
menyukai Langit. Sekalipun Kapela adalah bintang paling terang di susunan
bintang Auriga bukan berarti Langit akan memilih Kapela untuk menjadi
bintangnya. Langit leluasa memilih bintangnya sendiri dari ribuan bintang yang
ada dalam hidupnya. Aku menyadari hal itu. Aku selalu bercerita tentang Langit
kepada sahabat setiaku, yaitu tulisan-tulisan kecilku. Puluhan, ratusan bahkan
ribuan tulisan kecilku telah bercerita tentangnya. Terkadang tulisanku tak
mampu menggambarkan perasaanku saat aku cemburu melihat Langit bersama
bintangnya. Atau saat aku merasa sangat senang saat Langit menyapaku dan
berbincang sesaat. Begitu nyaman dan akrab seakan kami adalah teman dekat yang
telah lama tak bertemu. Itu salah satu pribadi Langit yang sangat aku suka, tak
membeda-bedakan teman dan supel.
Pernah sekali waktu aku membuat tulisan kecil.
Kala itu aku merasa damai dalam sepiku. Aku berada dalam kereta saat aku pulang
ke kota asalku.
Kita berada di bawah langit yang sama
Aku melihat bintang yang kau lihat
Dan kau melihat bulan yang aku lihat
Tapi...
Pernahkah kau melihat aku yang merindukanmu di sini?
Dan pernahkah kau tahu, aku selalu merindukanmu di balik bintang
gemintang?
Langit, Langit.. Kau selalu membuatku mampu
menulis tentangmu. Aku tak pernah tahu sampai kapan aku akan terus menulis
tentangmu dan sampai kapan aku akan terus bergantung pada langit yang entah
bagaimana ia mampu mengikatku dengan cara yang tak ku pahami. Hatiku mungkin
mengatakan bahwa aku tak seharusnya berada dalam perasaan ini. Hatiku,
pikiranku, perasaanku, keadaan, semuanya seperti lingkaran yang tak memiliki
ujung. Terus berputar dan berulang. Saat aku menghindari perasaanku, semakin
kuat pikiranku ingin tahu tentang Langit dari sisi yang lain. Dan saat aku
mengikuti perasaanku, aku hanya akan merasa semakin kecil di kehidupan Langit.
Karena aku tahu Langit tak akan peduli dengan aku yang memujanya di balik
bayangan rasa kagum.
Banyak kemungkinan-kemungkinan atau
prasangka-prasangka yang sering aku simpulkan sendiri. Bahkan aku pernah
menyimpulkan bahwa perasaanku ini bukanlah rasa suka yang sebenarnya. Tapi
hanya rasa kagum dan penasaran tenang sosok Langit dari sisi lain. Pikiranku
membenarkan itu karena aku seringkali penasaran dengan Langit yang tak dapat ku
tebak apa yang akan dilakukannya. Tapi hatiku menyalahkan pernyataan itu. Hatiku
selalu mengatakan bahwa suatu saat Langit akan menjadi tempatku bergantung.
Mana yang benar aku belum tahu. Pikiran dan hati selalu memiliki jalannya
sendiri yang sulit untuk bersatu.
Yang aku yakini benar hingga saat ini adalah
tulisan-tulisan kecilku untuk Langit. Dari sederetan tulisan yang aku tulis
tentang Langit, sebenarnya intinya adalah sama. Aku menyukai Langit di balik
rasa kagumku namun perasaan itu hingga kini tak pernah tersampaikan. Aku tak
mampu mengatakannya. Hanya saja hatiku terus berbicara melalui tulisan-tulisan
yang terus mengalir. Hatiku telah memiliki caranya sendiri untuk menyampaikan
apa yang ingin dikatakannya, yaitu melalui tulisan.
Aku memang tak pernah menyatakan atau
mengungkapkan perasaanku. Tapi yang aku tahu hanya waktu yang akan menjawab
pertanyaan hatiku. Apakah nantinya aku akan bersanding dengan Awan Langit,
lapisan langit terluar yang ada di hadapanku, atau bersama langit di lapisan
yang lain? Kapela yang memiliki Langit tempatnya bergantung. Dan Langit yang memiliki
banyak bintang lain selain Kapela, seperti cewek-cewek cantik dan kece di
kehidupan Langit.
Aku masih menunggu waktu itu tiba.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar