Jumat, 29 Agustus 2014

WAKTU DAN HATIKU BERBICARA

8 Maret 2014
22:59
Aku menyukai setiap detik waktu
Dan aku meyukai suara detak jam yang terus berputar
Tapi tak selamanya seperti itu..
Kadang aku membencinya
Bahkan sangat membencinya..
Tak banyak yang bisa aku katakan
Karena tak banyak yang aku tahu tentang waktu
Waktu telah melahirkanku
Waktu yang telah menumbuhkanku
Waktu yang telah mendidik dan mengajariku
Waktu yang telah memujiku
Waktu yang telah memarahiku, menghardikku bahkan mencaciku
Waktu yang telah mendewasakanku
Waktu yang telah membawa ragaku melintasi batas usia
Waktu yang telah memberiku pengalaman
Waktu yang telah menunjukkanku bahwa hidup adalah perjuangan
Dan ribuan waktu yang telah menunjukkan ribuan hal lain yang terus berkembang dan tak terbatas...
Tapi kini aku masih saja berada di lingkaran waktu itu
Yang akan terus menyeretku ke hal-hal yang tak pernah aku tahu
Hingga batas waktuku telah habis...
***
Demikian yang telah dikatakan oleh sang waktu kepadaku. Waktu telah mengajarkan banyak hal kepadaku. Waktu pula yang mengajari hatiku untuk berbicara.
Namaku Kapela, Lintang Kapela. Kapela, sebuah nama bintang paling terang di susunan bintang Auriga. Aku juga berharap bisa menjadi sosok yang terang dalam kehidupanku dan orang-orang di sekitarku.
Selama ini hatiku tak mengatakan apapun. Ia hanya diam. Itu berarti hatiku sejalan dengan keadaan di sekitarku. Tapi kini hatiku mulai terusik dengan kehadiran seseorang dalam hidupku. Aku tak begitu dekat dengannya, hanya sekedar tahu. Aku mengaguminya? Benar. Aku menyukai gayanya? Benar. Aku ingin mengenal pribadinya lebih dekat? Benar. Semuanya benar. Intinya, aku ingin mengenal dia lebih dekat. Hanya saja aku tak tahu bagaimana bisa aku melakukan itu?
Semua hal di atas hanya sebatas ‘kagum’, tak lebih. Tapi terkadang ku dengar hatiku berbisik bahwa tak menutup kemungkinan perasaan ini akan berubah dan tak sekedar kagum. Mungkin. Hanya waktu yang akan menunjukkannya.
“Langit. Awan Langit.”
Nama yang sampai saat ini terkenang dalam benakku. Cukup unik, pikirku. Dia mengatakan namanya sambil tersenyum saat ada perkenalan dengan mahasiswa baru di kampusku. Dan aku adalah salah satu mahasiswa baru itu. Dia kakak tingkatku. Dia berbeda dengan teman-temannya. Bagiku dia adalah dirinya sendiri, yang selalu easy going dengan kehidupannya. Santai, cool, tak banyak bicara, tapi sebenarnya dia pribadi yang menarik. Aku tahu, tak hanya aku yang mengaguminya, banyak cewek lain yang juga kagum –bahkan suka– sama Langit.
Aku pernah berpikir iseng mencoba mencari hubungan namaku dan nama Langit. Kapela dan Langit. Dua nama yang secara harfiah memiliki keterkaitan di angkasa. Kapela yang merupakan salah satu dari ribuan bintang yang bersinar di langit. Ia menjadi spesial karena merupakan bintang paling terang dalam susunan bintang Auriga. Bintang dan langit, dua hal yang terpisah dan saling terkait. Tapi apakah Kapela yang satu ini menjadi spesial bagi seorang Langit? Dari situ, aku sering berkhayal seperti dalam sinetron atau FTV bahwa akhirnya aku dan Langit akan bersama. Sebuah khayalan yang aku pikir mustahil untuk terjadi dalam hidupku.
Hampir setiap hari aku bertemu dengan Langit di kampus. Dan karena itu, semakin hari aku semakin mengaguminya. Banyak tulisan-tulisan kecil yang aku tulis untuknya. Tapi tak pernah tersampaikan. Semua berjalan seperti hari-hari yang lalu, aku menulis karena terinspirasi dari Langit dan aku semakin mengaguminya. Itu menjadi hal yang ajaib ketika aku menyadari bahwa rasa kagum atau suka kepada seseorang mampu membuat huruf-huruf tesusun menjadi kalimat cerita atau bait yang indah. Tak ada yang berubah setiap harinya kecuali seorang Kapela yang semakin terikat pada sang Langit. Memang banyak bintang-bintang lain yang lebih cantik dari aku di kehidupan Langit dan Langit telah memilih bintangnya sendiri yang kini menjabat sebagai pacar Langit. Bintang yang beruntung itu bernama Muti. Mutiara Jelita.
Sesuai namanya, ia memang cantik, tinggi, rambutnya lurus dan panjang, terlihat serasi dengan Langit. Gaya berpacaran mereka berbeda dengan orang lain. Mereka memiliki gaya berpacaran yang sesusai dengan gaya pribadi mereka yang easy going. Mereka berteman tapi pacaran dan mereka berpacaran tapi berteman. Tak pernah ku lihat Langit dan Muti mempermasalahkan perbedaan di antara mereka. Sekalipun mereka berpacaran, mereka tetap memiliki kebebasan untuk tetap menikmati dunia mereka sendiri karena Langit dan Muti memiliki ketertarikan yang berbeda. Langit tertarik di bidang robotik dan Muti tertarik di bidang sosial.
Seiring berubahnya musim dan berjalannya waktu, perasaanku mulai berubah. Rasa kagumku melebihi batas. Aku sadar aku menyukai Langit. Sekalipun Kapela adalah bintang paling terang di susunan bintang Auriga bukan berarti Langit akan memilih Kapela untuk menjadi bintangnya. Langit leluasa memilih bintangnya sendiri dari ribuan bintang yang ada dalam hidupnya. Aku menyadari hal itu. Aku selalu bercerita tentang Langit kepada sahabat setiaku, yaitu tulisan-tulisan kecilku. Puluhan, ratusan bahkan ribuan tulisan kecilku telah bercerita tentangnya. Terkadang tulisanku tak mampu menggambarkan perasaanku saat aku cemburu melihat Langit bersama bintangnya. Atau saat aku merasa sangat senang saat Langit menyapaku dan berbincang sesaat. Begitu nyaman dan akrab seakan kami adalah teman dekat yang telah lama tak bertemu. Itu salah satu pribadi Langit yang sangat aku suka, tak membeda-bedakan teman dan supel.
Pernah sekali waktu aku membuat tulisan kecil. Kala itu aku merasa damai dalam sepiku. Aku berada dalam kereta saat aku pulang ke kota asalku.

Kita berada di bawah langit yang sama
Aku melihat bintang yang kau lihat
Dan kau melihat bulan yang aku lihat
Tapi...
Pernahkah kau melihat aku yang merindukanmu di sini?
Dan pernahkah kau tahu, aku selalu merindukanmu di balik bintang gemintang?

Langit, Langit.. Kau selalu membuatku mampu menulis tentangmu. Aku tak pernah tahu sampai kapan aku akan terus menulis tentangmu dan sampai kapan aku akan terus bergantung pada langit yang entah bagaimana ia mampu mengikatku dengan cara yang tak ku pahami. Hatiku mungkin mengatakan bahwa aku tak seharusnya berada dalam perasaan ini. Hatiku, pikiranku, perasaanku, keadaan, semuanya seperti lingkaran yang tak memiliki ujung. Terus berputar dan berulang. Saat aku menghindari perasaanku, semakin kuat pikiranku ingin tahu tentang Langit dari sisi yang lain. Dan saat aku mengikuti perasaanku, aku hanya akan merasa semakin kecil di kehidupan Langit. Karena aku tahu Langit tak akan peduli dengan aku yang memujanya di balik bayangan rasa kagum.
Banyak kemungkinan-kemungkinan atau prasangka-prasangka yang sering aku simpulkan sendiri. Bahkan aku pernah menyimpulkan bahwa perasaanku ini bukanlah rasa suka yang sebenarnya. Tapi hanya rasa kagum dan penasaran tenang sosok Langit dari sisi lain. Pikiranku membenarkan itu karena aku seringkali penasaran dengan Langit yang tak dapat ku tebak apa yang akan dilakukannya. Tapi hatiku menyalahkan pernyataan itu. Hatiku selalu mengatakan bahwa suatu saat Langit akan menjadi tempatku bergantung. Mana yang benar aku belum tahu. Pikiran dan hati selalu memiliki jalannya sendiri yang sulit untuk bersatu.
Yang aku yakini benar hingga saat ini adalah tulisan-tulisan kecilku untuk Langit. Dari sederetan tulisan yang aku tulis tentang Langit, sebenarnya intinya adalah sama. Aku menyukai Langit di balik rasa kagumku namun perasaan itu hingga kini tak pernah tersampaikan. Aku tak mampu mengatakannya. Hanya saja hatiku terus berbicara melalui tulisan-tulisan yang terus mengalir. Hatiku telah memiliki caranya sendiri untuk menyampaikan apa yang ingin dikatakannya, yaitu melalui tulisan.
Aku memang tak pernah menyatakan atau mengungkapkan perasaanku. Tapi yang aku tahu hanya waktu yang akan menjawab pertanyaan hatiku. Apakah nantinya aku akan bersanding dengan Awan Langit, lapisan langit terluar yang ada di hadapanku, atau bersama langit di lapisan yang lain? Kapela yang memiliki Langit tempatnya bergantung. Dan Langit yang memiliki banyak bintang lain selain Kapela, seperti cewek-cewek cantik dan kece di kehidupan Langit.

Aku masih menunggu waktu itu tiba.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar