Tugas?
Rata-rata mahasiswa akan malas ketika mendengar kata itu sebagai penutup
perkuliahan. Udah jelas ke mana arah pembicaraan dosen ketika mengucapkan kata
itu. Paper. Makalah. Resume dan lain sebagainya.
Hal itu ‘tidak
begitu’ berlaku di jurusan ane. Tapi bukan berarti sepenuhnya nggak laku. FYI,
ane berada di bawah payung Program Studi Televisi dan Film sebuah universitas
negeri. Sebuah program studi televisi
dan film satu-satunya di universitas negeri di negeri yang penuh masalah ini.
Jarang-jarang aja ane dapat tugas buat bikin makalah, paper, resume atau
sejenis saudara-saudaranya itu. Biasanya dosen ane ngasih tugas cukup ajaib
untuk pertama kali di dengar. Apalagi bagi yang nggak pernah nyangka kalau
bakal ada tugas-tugas ajaib itu. Kenapa ane bilang ajaib? Karena ini tidak
biasa. Kenapa ini tidak biasa? Karena ini ajaib. Haha, muter-muter kayak kucing
ngejar ekornya sendiri :D
Posisikan diri
kalian sebagai mahasiswa baru di jurusan ane yang nggak ngerti apa-apa.
Keajaiban-keajaiban itu terjadi di setiap semester. Di semester satu, ada mata
kuliah yang bernama ilustrasi dan nirmana. Menarik sih. Tugasnya hanya membuat
sketsa, menggambar tokoh, dan mewarnainya. Itu yang menyebabkan ane dibilang
seperti anak TK lagi sama temen kos ane. It’s ok, aku ra popo. Tapi
tantangannya adalah ane yang pada dasarnya memiliki kemapuan menggambar yang
standar abiisss dituntut untuk bisa menggambar berbagai karakter, mulai dari
kartun, ekspresi, mimik, gesture hingga gambar karakter orang sebenarnya.
Untuk mata
kuliah nirmana awalnya menarik. Mata kuliah ini berhubungan dengan komposisi,
warna, dan keserasian. Alat yang digunakan di antaranya kertas linen, kuas dengan
berbagai ukuran, cat astro atau sakura. Cat ini hanya punya warna dasar: merah,
biru dan kuning. Main-main dengan warna cukup menyenangkan. Yang kurang
menyenangkan adalah ketika mendapati campuran warna itu tidak sesuai dan harus
ngulang tugas itu. Apalagi waktu di suruh membuat 3 warna dasar itu menjadi 24
warna yang bergradasi. Ajaib! Ane bisa nggak tidur semalaman demi itu tugas
biar cepet kelar. Alhasil, pagi harinya saat ujian mata kuliah yang lain ane
tidur sambil nulis jawaban yang nggak banget. Dengan posisi duduk yang
strategis yaitu di bangku nomor dua dari depan, ane berusaha cukup keras biar
mata ane melek. Mulai dari diganjal penghapus, tutup pulpen, spidol hingga
diganjal papan tulis. Hasilnya? Tulisan ane nggak jelas. Pertanyaanya apa,
jawabannya apa. Tapi hal itu ketutup sama nilai maksimal dari kedua mata kuliah
itu.
Lanjut dengan
keajaiban tugas ane di semester dua. Ada beberapa mata kuliah yang menurut ane
cukup ajaib membuat ane mikir sepanjang minggu. Mungkin bagi temen-temen ane
yang lain ini hal biasa. Tapi karena ane orangnya spesial –tapi
nggak pake telur– jadi tugas ini masuk ke dalam tugas ajaib yang bisa ane garap
cukup lumayan. Sebut saja mata kuliah itu fotografi 02, tata rias dan desain
produksi produk televisi dan film. Kedengarannya biasa aja sih. Tapi ini
masalah yang muncul saat itu. Fotografi 02 saat itu disuruh mencari foto
jurnalistik sebagai tugas ujian tengah semester (UTS). Ane mulai mikir di mana ane bisa dapet itu foto.
Mulailah perburuan foto itu dilakukan. Mulai dari ane belanja di pasar sambil
ngegantungin kamera di leher, yang dikira wartawan sama orang-orang pasar, jalan-jalan
malem dengan kamera yang masih tetep nggantung di leher hingga jungkir balik di
tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di daerah sini. Akhirnya setelah perburuan
itu ane bisa ngumpulin tugas UTS.
Selanjutnya
tugas mata kuliah tata rias. Jujur, ane bukan tipe mahasiswi yang seneng
berdandan ala sinden atau pedangdut. Jangankan dandan, bedak aja masih pake
bedak bayi :D Intinya, ane nggak ngerti masalah make up dan tata rias. Dengan
segala upaya dan kekuatan yang ane kerahkan, akhirnya ane berhasil
menyelesaikan mata kuliah ini dengan nilai yang nggak baik banget dan nggak
jelek banget alias lumayan aja.
Masih ada satu
lagi mata kuliah yang bikin ane koprol tujuh keliling, yaitu desain produksi
produk televisi dan film. Tugas akhir mata kuliah ini, ane kerjakan secara
berkelompok –tapi nggak sampai membentuk boyband atau girlband–
membuat susunan program acara televisi selama satu tahun. Yang bikin greget
dari tugas ini adalah ketika mau ngumpulin tugas tapi masih banyak yang belum
kelar. Parahnya, yang belum selesai bukan hanya kelompok ane tapi juga
kelompok-kelompok lain. Bahkan untuk sekedar mencetak tugas aja yang biasanya
bisa kelar sekitar sepuluh menit ini bisa molor jadi setengah jam bahkan lebih.
Di saat kayak gitu, emosi rawan banget nyembul dari ubun-ubun.
Bersambung...
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar