Jumat, 12 September 2014

BE SMART WOMAN!

Di tulisan ini ane mau ngomongin masalah klasik yang sering menjadi dilema bagi seorang cewek: MENJADI IBU RUMAH TANGGA ATAU WANITA KARIR?
Sejak kecil kita (baca: cewek) dididik sama dengan yang lainnya (baca: cowok). Nggak ada pembeda atau pengecualian, ya, kecuali kayak sekolah atau tempat pendidikan khusus cewek, misalnya pondok pesantren. Tapi secara umum dan keseluruhan ya sama aja, kita dididik untuk mendapatkan ilmu dan menjadi generasi yang cerdas di masa yang akan datang. Masalah untuk mempertahankan prinsip untuk terus mengenyam bangku pendidikan baru muncul ketika melepas seragam putih – abu-abu dan memasuki bangku perkuliahan.

Orang-orang terdahulu, terutama wong ndeso, para sesepuh atau orang tua yang kita hormati (baca: –maaf– kurang mengerti pendidikan), pasti akan memandang kita berbeda. Rata-rata orang desa menginginkan anaknya untuk segera mengembangkan layar dan mengarungi bahtera rumah tangga alias married bin nikah. Mereka akan berkata, “Kenapa kok sekolah tinggi-tinggi? Nggak perlu itu. Toh nanti juga bakal jadi ibu rumah tangga, ngurus anak sama suami.” Kalau masih ada yang mengemban prinsip seperti itu ya monggo, memang kenyataannya begitu. Setiap wanita akan berakhir menjadi seorang ibu rumah tangga.
Kalau dalam ajaran agama ane ya –alhamdulillah, ane seorang muslim– seorang muslim atau muslimah itu wajib nyari ilmu dari mulai terlahir sebagai bayi manusia hingga meninggal. Itu WAJIB, harga mati. Tinggal bagaimana cara kita buat nyari itu ilmu. Emang sih ilmu nggak mesti didapat dengan duduk di bangku sekolah, ngadep buku, ngadep papan tulis, ngadepin guru killer, ngerjakan tugas yang seambrek-ambrek atau pendidikan formal lainnya karena kehidupan sendiri memberikan ilmu yang sangat banyak dan beragam. Bahkan kalau kita mau mempelajari ilmu di kehidupan ini, maka nggak akan ada habisnya. Misalnya, pernahkah kalian mikir kalau kalian ada masalah itu berarti kalian sedang belajar ilmu baru? Nggak?? Rata-rata sih kalau ada masalah, manusia itu akan mengeluh, marah bahkan mengumpat masalah itu sendiri. Mengapa masalah selalu ada? Seakan-akan hanya dia sendiri yang memiliki masalah. Kalau nggak mau punya masalah ya jangan hidup karena hidup itu sendiri udah masalah. Masalah tentang bagaimana kita mampu survive dengan persaingan hidup yang semakin ketat. Dari sebuah masalah bro, kita bisa belajar bagaimana memecahkan suatu masalah dan melatih kedewasaan kita.
Ukuran kedewasaan bukan diukur melalui udah seberapa tua umur kita. Tapi masalah kedewasaan itu diukur melalui seberapa bijak kita ngadepin masalah. Ingat bro, orang tua belum tentu dewasa. Begitu sebaliknya, anak muda belum tentu nggak ngerti apa-apa.
Kembali lagi ke masalah cewek tadi. Biasanya di usia yang udah lumayan, cewek akan punya pilihan sendiri: menjadi ibu rumah tangga atau menjadi wanita karir. Nggak ada yang salah sih dengan kedua pilihan itu. Semua bermuara di ’ibu rumah tangga’. Seorang wanita karir yang super sibuk bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik jika ia bisa mengatur waktunya. Apalagi seorang ibu rumah tangga. Ia berpotensi banget menjadi seorang ibu rumah tangga dan istri yang baik karena memiliki banyak waktu untuk keluarganya. Tapi di sini yang membedakan adalah kualitasnya, kualitas seorang ibu rumah tangga.
Kita sama-sama tahu nih bro tugas seorang ibu rumah tangga itu ngurus rumah, ngurus suami sama ngurus anak. Dengan kata lain, kualitas ibu rumah tangga mempengaruhi kualitas keluarganya juga termasuk si anak. Contohnya gini nih. Seorang ibu rumah tangga yang pendidikannya sarjana akan berbeda dengan ibu rumah tangga yang pendidikannya –maaf– hanya sampai sekolah dasar atau sekolah menengah. Kita melihat bahwa salah satu tugas ibu rumah tangga adalah ngurus anak, ngedidik anak biar jadi anak yang ngerti. Itu udah tanggung jawab. Ane pernah baca kutipan dialog di sebuah jejaring sosial, kurang lebihnya gini isinya:

A: Kamu sekarang kerja dimana?
B: Aku kerja di perusahaan X. Kamu?
A: Aku kerja di rumah, jadi ibu rumah tangga.
B: Ah masa sarjana dari universitas terkenal cuma jadi ibu rumah tangga?
A: Iya. Anakmu kabarnya gimana? Siapa yang ngurus, kan kamu sibuk?
B: Alhamdulillah anakku baik. Iya, anakku diurus sama pengasuhnya. Anakmu gimana?
A: Oo.. Alhamdulillah anakku yang ngurus aku sendiri, langsung dididik lulusan dari universitas terkenal. Kalau anakmu kan yang ngurus bukan lulusan sarjana.
B: .....

Sorry, bukan maksud ane untuk mengejek kalian yang bukan sarjana. Tapi dari poin di atas kita bisa simpulkan bahwa semakin tinggi pendidikan emaknya maka semakin banyak ilmu yang diajarkan dan kemungkinan anaknya juga semakin pintar. Akhirnya anak itu akan menjadi generasi masa depan yang cerdas dan berkualitas. Kalo kata pepatah: buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kalau pohonnya baik dan berkualitas maka buahnya juga akan baik dan berkualitas –dengan syarat dirawat dengan baik.

Jadi, meskipun kodrat kita sebagai cewek adalah jadi ibu rumah tangga tapi kita harus jadi cewek yang cerdas biar menghasilkan generasi yang cerdas. Semua yang telah kita pelajari itu nggak ada yang sia-sia, pasti berguna. Tinggal waktunya aja kita belum tahu, kapan dan di mana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar