Di tulisan ini
ane mau ngomongin masalah klasik yang sering menjadi dilema bagi seorang cewek:
MENJADI IBU RUMAH TANGGA ATAU WANITA KARIR?
Sejak kecil
kita (baca: cewek) dididik sama dengan yang lainnya (baca: cowok). Nggak ada
pembeda atau pengecualian, ya, kecuali kayak sekolah atau tempat pendidikan
khusus cewek, misalnya pondok pesantren. Tapi secara umum dan keseluruhan ya
sama aja, kita dididik untuk mendapatkan ilmu dan menjadi generasi yang cerdas
di masa yang akan datang. Masalah untuk mempertahankan prinsip untuk terus
mengenyam bangku pendidikan baru muncul ketika melepas seragam putih – abu-abu
dan memasuki bangku perkuliahan.
Orang-orang
terdahulu, terutama wong ndeso, para sesepuh atau orang tua yang kita
hormati (baca: –maaf– kurang mengerti pendidikan), pasti akan memandang kita
berbeda. Rata-rata orang desa menginginkan anaknya untuk segera mengembangkan
layar dan mengarungi bahtera rumah tangga alias married bin nikah.
Mereka akan berkata, “Kenapa kok sekolah tinggi-tinggi? Nggak perlu itu. Toh
nanti juga bakal jadi ibu rumah tangga, ngurus anak sama suami.” Kalau masih
ada yang mengemban prinsip seperti itu ya monggo, memang kenyataannya
begitu. Setiap wanita akan berakhir menjadi seorang ibu rumah tangga.
Kalau dalam
ajaran agama ane ya –alhamdulillah, ane seorang muslim– seorang muslim atau
muslimah itu wajib nyari ilmu dari mulai terlahir sebagai bayi manusia hingga
meninggal. Itu WAJIB, harga mati. Tinggal bagaimana cara kita buat nyari itu
ilmu. Emang sih ilmu nggak mesti didapat dengan duduk di bangku sekolah, ngadep
buku, ngadep papan tulis, ngadepin guru killer, ngerjakan tugas yang
seambrek-ambrek atau pendidikan formal lainnya karena kehidupan sendiri memberikan
ilmu yang sangat banyak dan beragam. Bahkan kalau kita mau mempelajari ilmu di
kehidupan ini, maka nggak akan ada habisnya. Misalnya, pernahkah kalian mikir
kalau kalian ada masalah itu berarti kalian sedang belajar ilmu baru? Nggak??
Rata-rata sih kalau ada masalah, manusia itu akan mengeluh, marah bahkan
mengumpat masalah itu sendiri. Mengapa masalah selalu ada? Seakan-akan hanya
dia sendiri yang memiliki masalah. Kalau nggak mau punya masalah ya jangan
hidup karena hidup itu sendiri udah masalah. Masalah tentang bagaimana kita
mampu survive dengan persaingan hidup yang semakin ketat. Dari sebuah
masalah bro, kita bisa belajar bagaimana memecahkan suatu masalah dan melatih
kedewasaan kita.
Ukuran
kedewasaan bukan diukur melalui udah seberapa tua umur kita. Tapi masalah
kedewasaan itu diukur melalui seberapa bijak kita ngadepin masalah. Ingat bro,
orang tua belum tentu dewasa. Begitu sebaliknya, anak muda belum tentu nggak
ngerti apa-apa.
Kembali lagi ke
masalah cewek tadi. Biasanya di usia yang udah lumayan, cewek akan punya
pilihan sendiri: menjadi ibu rumah tangga atau menjadi wanita karir. Nggak ada
yang salah sih dengan kedua pilihan itu. Semua bermuara di ’ibu rumah tangga’.
Seorang wanita karir yang super sibuk bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik
jika ia bisa mengatur waktunya. Apalagi seorang ibu rumah tangga. Ia berpotensi
banget menjadi seorang ibu rumah tangga dan istri yang baik karena memiliki
banyak waktu untuk keluarganya. Tapi di sini yang membedakan adalah
kualitasnya, kualitas seorang ibu rumah tangga.
Kita sama-sama
tahu nih bro tugas seorang ibu rumah tangga itu ngurus rumah, ngurus suami sama
ngurus anak. Dengan kata lain, kualitas ibu rumah tangga mempengaruhi kualitas
keluarganya juga termasuk si anak. Contohnya gini nih. Seorang ibu rumah tangga
yang pendidikannya sarjana akan berbeda dengan ibu rumah tangga yang
pendidikannya –maaf– hanya sampai sekolah dasar atau sekolah menengah. Kita
melihat bahwa salah satu tugas ibu rumah tangga adalah ngurus anak, ngedidik
anak biar jadi anak yang ngerti. Itu udah tanggung jawab. Ane pernah baca
kutipan dialog di sebuah jejaring sosial, kurang lebihnya gini isinya:
A: Kamu
sekarang kerja dimana?
B: Aku kerja di
perusahaan X. Kamu?
A: Aku kerja di
rumah, jadi ibu rumah tangga.
B: Ah masa
sarjana dari universitas terkenal cuma jadi ibu rumah tangga?
A: Iya. Anakmu
kabarnya gimana? Siapa yang ngurus, kan kamu sibuk?
B: Alhamdulillah
anakku baik. Iya, anakku diurus sama pengasuhnya. Anakmu gimana?
A: Oo.. Alhamdulillah
anakku yang ngurus aku sendiri, langsung dididik lulusan dari universitas
terkenal. Kalau anakmu kan yang ngurus bukan lulusan sarjana.
B: .....
Sorry,
bukan maksud ane untuk mengejek kalian yang bukan sarjana. Tapi dari poin di
atas kita bisa simpulkan bahwa semakin tinggi pendidikan emaknya maka semakin
banyak ilmu yang diajarkan dan kemungkinan anaknya juga semakin pintar.
Akhirnya anak itu akan menjadi generasi masa depan yang cerdas dan berkualitas.
Kalo kata pepatah: buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Kalau pohonnya baik dan
berkualitas maka buahnya juga akan baik dan berkualitas –dengan syarat dirawat
dengan baik.
Jadi, meskipun
kodrat kita sebagai cewek adalah jadi ibu rumah tangga tapi kita harus jadi
cewek yang cerdas biar menghasilkan generasi yang cerdas. Semua yang telah kita
pelajari itu nggak ada yang sia-sia, pasti berguna. Tinggal waktunya aja kita
belum tahu, kapan dan di mana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar