Jreng,
jrenngg... Ane kembali lagi nih dengan cerita baru untuk PATROL. Sebuah cerita
yang masih berkaitan dengan tugas kuliah. Bosen ya dengan cerita tugas kuliah?
Tapi sorry bro, ane masih belum dapat wangsit lagi buat bikin cerita
karangan. Bisanya berbagi cerita masalah tugas kuliah khususnya tugas praktika
ini –sekalian curhat sih.
Di semester
dewasa ini, semester lima, ane ada tugas buat bikin produksi acara televisi.
Yang pasti tugas ini dikerjain secara berkelompok dengan dana yang berkelompok
juga yang didapat dari kantong anggota kelompok. Seperti yang udah pernah ane
ceritakan, kelompok ane dapat tema budaya lokal. Dan untuk nama PATROL sendiri
udah pernah ane ceritain di postingan sebelumnya. Singkatnya, setelah
berdiskusi, kita sepakat untuk mengangkat tentang pelestarian permainan
tradisional egrang dan batik khas Jember.
Setelah berbagi
tugas, ane kedapatan peran sebagai pengarah acara saat produksi dan koordinator
tim riset, yang sekaligus tim yang secara tidak langsung dinobatkan sebagai tim
kreatif, di pra-produksi. Setelah ane ngobrol ngalur ngidul dikit sama tim
riset, ane putuskan untuk menemui narasumber pertama yang menyandang nama Prof.
Ayu, M. A, dan membuat janji untuk berkunjung ke rumahnya sekaligus mampir ke
sanggar anak yang dibinanya yang dikenal sebagai Untukmu Si Kecil. FYI,
narasumber ane yang pertama ini seorang profesor, dan budayawan. Salah satu
dosen di fakultas ane, tepatnya dosen Sastra Inggris. Ada beberapa cerita yang
muncul setelah penentuan narasumber ini.
Di hari yang
udah ditentuin, waktu itu hari Sabtu sore, ane barengan sama anggota tim riset
lainnya berangkat ke rumah Prof. Ayu. Kita janjian jam tiga berangkat ke sana.
Tapi karena suatu hal kita telat berangkat setengah jam lebih yang otomatis
kita juga ngaret janjiannya sama beliau. Kita langsung meluncur ke rumah beliau
dan kita dapati istri beliau mengarahkan kami untuk langsung pergi ke
perpustakaan yang sekaligus lokasi sanggar anak yang beliau bina. Dari awal
ngelihat sanggarnya ane udah mulai ngerasa bakal ada yang beda. Dan nggak butuh
waktu lama, dugaan itu terbukti benar.
Saat masuk
wilayah sanggar anak beliau, yang diberi nama Untukmu Si Kecil (USK), kita
ngelihat Prof. Ayu sedang mengajar anak-anak di lingkungan sana di sebuah
ruangan kecil. Ruangan itu tidak terlalu besar tapi ane nggak bisa ngira-ngira
ukurannya. Setelah selesai mengajar, Prof. Ayu menyambut ane dan temen-temen
dengan tangan terbuka dan tanpa ba-bi-bu untuk basa-basi langsung mengajak kita
ke perpustakaan. Di situlah ane mendapati sosok profesor yang berada di luar
dugaan ane. Jujur, sebelum mengenal beliau, ane kira profesor yang satu ini
sama dengan profesor-profesor lain yang kaku, formal, dan cenderung memberi
jarak dengan orang lain. Tapi semua itu lenyap seketika saat ane ngobrol bareng
beliau.
Dengan sikapnya
yang rendah hati, romantis, memiliki jiwa sosial yang tinggi, santai, tidak
sombong dan rajin menabung –yang terakhir ane nggak tahu bener atau nggak :D–
beliau menanggapi obrolan kita seperti ngobrol dengan kawan lama yang sangat
akrab. Sesaat sebelum terlibat obrolan, kami diajak untuk tur singkat dengan
melihat-lihat ruang kelas yang sederhana tempat beliau mengajar, kafetaria
kecil dan mushola yang baru selesai dibangun, koleksi piala dan penghargaan
beliau dan anak-anak sanggar binaannya serta beberapa koleksi alat permainan
tradisional.
Sekilas tentang
awal mula berdirinya sanggar anak USK ini adalah pada tahun 1998 sepulang
beliau dari Vietnam sebagai delegasi Indonesia untuk sebuah acara, beliau
membangun ruangan kecil dan membuka kursus bahasa inggris untuk anak-anak di
sekitar rumahnya. Namun lama-kelamaan tempat itu berubah menjadi sanggar anak
yang diberi nama Untuk Si Kecil. Tanpa ane tanya, beliau menjelaskan nama
tersebut. Nama tersebut didedikasikan untuk anak-anak kecil, anaknya orang
kecil dengan penghasilan kecil, tetapi memiliki mimpi yang besar. Sebuah
filosofi baru yang membuat ane mulai berekspresi dengan membuka mulut. USK
sendiri memiliki motto: “Membangun Kerukunan, Membangun Kecerdasan, Membangun
Keindonesiaan” dan memiliki prinsip “Ikhlas berbagi untuk bangsa dan negara”.
Namun saat ini anak-anak yang datang bukan lagi dari golongan ‘kecil’ tetapi
dari berbagai golongan. Tenaga pengajarnya merupakan volunteer dari berbagai kalangan, termasuk kalangan
mahasiswa dan orang pada umumnya yang ingin berbagi ilmu bersama. Dari situlah
kita tahu bahwa Prof. Ayu merupakan sosok dengan jiwa sosial yang tinggi, yang
mau dan mampu membantu sesama tanpa membedakannya.
Hal pertama
yang ane lihat sewaktu masuk perpustakaan beliau adalah adanya banyak
penghargaan berupa vandel yang seakan membingkai ruangan itu dari dalam.
Vandel-vandel itu disusun rapi di atas lemari buku di pinggir ruangan. Tidak
hanya itu saja. Piala-piala hasil lomba dan penampilan keterampilan bermain
egrang yang diperoleh oleh anak binaannya juga tersusun rapi di ruang kelas.
Itu masih belum cukup. Masih banyak penghargaan yang belum tersusun di luar dan
masih disimpan beliau.
Sebuah prolog informasi
riset yang membuat ane kagum. Di perpustakaan sederhananya itulah buku-buku
dari berbagai disiplin ilmu disusun rapi dalam rak-rak buku dan almari. Dan
dari perpustakaan sederhana itu telah lahir puluhan tugas akhir mulai dari
skripsi, tesis hingga disertasi. Secara pribadi, Prof. Ayu pernah mengisi
berbagai macam acara dan seminar mulai dari acara di dalam kota, luar kota,
seminar nasional hingga diundang ke berbagai negara sebagai pembicara. Tak
tanggung-tanggung, beliau yang pernah mengikuti acara kebudayaan di tingkat
ASEAN juga pernah mengisi acara di negara-negara Eropa. Menurut beliau, yang
paling berkesan adalah ketika beliau berada di Italia dan Perancis. Seiring
dengan umur USK yang bertambah, yang kini berumur 16 tahun, banyak prestasi
yang telah diraih anak-anak binaannya. Mereka sering diundang untuk mengisi
acara maupun mengikuti lomba dan memenangkannya. Bahkan acara itu diadakan di
luar kota. Sayangnya, pemerintah kabupaten belum melirik hal ini. Menurut
keterangan beliau, pihak kabupaten baru satu sekali dalam 16 tahun beridirinya
USK berkunjung ke sanggar itu. Sedangkan dari pihak provinsi telah dua kali
melakukan kunjungannya.
Sanggar anak
USK juga pernah mendapat bantuan dari semen Indonesia yang dimanfaatkan untuk
membangun sarana di tempat itu. Tak tanggung-tanggung, bantuan yang diterima
berupa semen sebanyak 200 kantong. Tak banyak yang mengetahui adanya sanggar
anak ini. Menurut Prof. Ayu, jika kita berbagi tak perlu dipublikasikan atau
digembor-gemborkan, yang penting ikhlas berbagi. Itulah yang menjadi prinsip
Prof. Ayu selama ini. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul tapi semua itu
dijawab dengan ringan oleh Prof. Ayu. Bahkan tak jarang beliau menjawab dengan
sebuah pertanyaan, ”Apa itu masih perlu ditanyakan lagi, non?” selama
obrolan kita berlangsung. Ane yang dari awal udah spechless cuma bisa
menanggapi pernyataan-pernyataan dan cerita-cerita Prof. Ayu dengan bilang
“Oh..”, “Ya..”, “Ha?”, “Iya”. Intinya, ane ngerasa jadi orang yang dengan
pengetahuan dangkal banget dan itu terlihat jelas dari ekspresi ane yang
ha-he-ho ketika ngobrol.
Awalnya yang
ane udah nyiapin list pertanyaan
untuk diajuin ke Prof. Ayu, akhirnya ane tutup dengan memasukkannya kembali
daftar pertanyaan itu ke dalam tas. Sudah cukup banyak informasi yang ane dapat
bahkan tanpa menanyakannya sekalipun pertanyaan-pertanyaan yang ane susun telah
terjawab. Dengan gelar profesor-nya, Prof. Ayu tetap menjadi sosok yang rendah
hati dan tidak ingin memamerkan apa yang telah dilakukannya termasuk sanggar
anak yang telah didirikannya.
Ketika ane
tanya apa aja yang diajarkan di sanggar itu, beliau menjawab dengan enteng, “Ya
apa aja yang bisa dipelajari, dipelajari di sini. Silahkan kalau mau belajar di
sini. Asal jangan belajar apa yang tidak bisa dipelajari, di sini tidak ada”, beliau
tersenyum. Tapi memang benar, di sanggar itu anak-anak belajar tentang semua
hal yang bisa dipelajari. Tak hanya matematika, bahasa inggris atau sejenisnya,
mereka juga belajar tentang kesenian seperti menari dan permainan tradisional
yang dikemas secara modern. Salah satunya adalah permainan tradisional egrang
yang dikombinasikan dengan permainan hula hoop yang diiringi musik-musik
saat ini dan tari-tarian yang menarik. Meskipun mereka tinggal di pinggiran
kali, mereka tetap mengerti kemajuan teknologi. Itulah sebabnya Prof. Ayu mengajarkan
mereka hal-hal tradisional. Untuk hal-hal yang berbau modern mereka telah mampu
dan mengerti dengan sendirinya, tidak kalah dengan anak-anak yang tinggal di
kota. Tapi untuk hal tradisional, siapa lagi yang membuat mereka mengerti jika
tidak diajarkan?
Bagi ane ini
sebuah pengabdian masyarakat yang sangat mengagumkan. Secara tidak langsung ane
telah menambahkan beliau ke dalam daftar sosok yang ane kagumi. Dan akhirnya,
ane bener-bener spechless untuk semua hal yang ane temui sore itu dan
untuk semua hal yang ane dapat dari sebuah sanggar sederhana dengan sosok
pendidik yang sederhana pula.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar