Senin, 08 September 2014

SEBUAH MISI TELAH DIMULAI: PATROL #2

Jreng, jrenngg... Ane kembali lagi nih dengan cerita baru untuk PATROL. Sebuah cerita yang masih berkaitan dengan tugas kuliah. Bosen ya dengan cerita tugas kuliah? Tapi sorry bro, ane masih belum dapat wangsit lagi buat bikin cerita karangan. Bisanya berbagi cerita masalah tugas kuliah khususnya tugas praktika ini –sekalian curhat sih.
Di semester dewasa ini, semester lima, ane ada tugas buat bikin produksi acara televisi. Yang pasti tugas ini dikerjain secara berkelompok dengan dana yang berkelompok juga yang didapat dari kantong anggota kelompok. Seperti yang udah pernah ane ceritakan, kelompok ane dapat tema budaya lokal. Dan untuk nama PATROL sendiri udah pernah ane ceritain di postingan sebelumnya. Singkatnya, setelah berdiskusi, kita sepakat untuk mengangkat tentang pelestarian permainan tradisional egrang dan batik khas Jember.
Setelah berbagi tugas, ane kedapatan peran sebagai pengarah acara saat produksi dan koordinator tim riset, yang sekaligus tim yang secara tidak langsung dinobatkan sebagai tim kreatif, di pra-produksi. Setelah ane ngobrol ngalur ngidul dikit sama tim riset, ane putuskan untuk menemui narasumber pertama yang menyandang nama Prof. Ayu, M. A, dan membuat janji untuk berkunjung ke rumahnya sekaligus mampir ke sanggar anak yang dibinanya yang dikenal sebagai Untukmu Si Kecil. FYI, narasumber ane yang pertama ini seorang profesor, dan budayawan. Salah satu dosen di fakultas ane, tepatnya dosen Sastra Inggris. Ada beberapa cerita yang muncul setelah penentuan narasumber ini.

Di hari yang udah ditentuin, waktu itu hari Sabtu sore, ane barengan sama anggota tim riset lainnya berangkat ke rumah Prof. Ayu. Kita janjian jam tiga berangkat ke sana. Tapi karena suatu hal kita telat berangkat setengah jam lebih yang otomatis kita juga ngaret janjiannya sama beliau. Kita langsung meluncur ke rumah beliau dan kita dapati istri beliau mengarahkan kami untuk langsung pergi ke perpustakaan yang sekaligus lokasi sanggar anak yang beliau bina. Dari awal ngelihat sanggarnya ane udah mulai ngerasa bakal ada yang beda. Dan nggak butuh waktu lama, dugaan itu terbukti benar.
Saat masuk wilayah sanggar anak beliau, yang diberi nama Untukmu Si Kecil (USK), kita ngelihat Prof. Ayu sedang mengajar anak-anak di lingkungan sana di sebuah ruangan kecil. Ruangan itu tidak terlalu besar tapi ane nggak bisa ngira-ngira ukurannya. Setelah selesai mengajar, Prof. Ayu menyambut ane dan temen-temen dengan tangan terbuka dan tanpa ba-bi-bu untuk basa-basi langsung mengajak kita ke perpustakaan. Di situlah ane mendapati sosok profesor yang berada di luar dugaan ane. Jujur, sebelum mengenal beliau, ane kira profesor yang satu ini sama dengan profesor-profesor lain yang kaku, formal, dan cenderung memberi jarak dengan orang lain. Tapi semua itu lenyap seketika saat ane ngobrol bareng beliau.
Dengan sikapnya yang rendah hati, romantis, memiliki jiwa sosial yang tinggi, santai, tidak sombong dan rajin menabung –yang terakhir ane nggak tahu bener atau nggak :D– beliau menanggapi obrolan kita seperti ngobrol dengan kawan lama yang sangat akrab. Sesaat sebelum terlibat obrolan, kami diajak untuk tur singkat dengan melihat-lihat ruang kelas yang sederhana tempat beliau mengajar, kafetaria kecil dan mushola yang baru selesai dibangun, koleksi piala dan penghargaan beliau dan anak-anak sanggar binaannya serta beberapa koleksi alat permainan tradisional.
Sekilas tentang awal mula berdirinya sanggar anak USK ini adalah pada tahun 1998 sepulang beliau dari Vietnam sebagai delegasi Indonesia untuk sebuah acara, beliau membangun ruangan kecil dan membuka kursus bahasa inggris untuk anak-anak di sekitar rumahnya. Namun lama-kelamaan tempat itu berubah menjadi sanggar anak yang diberi nama Untuk Si Kecil. Tanpa ane tanya, beliau menjelaskan nama tersebut. Nama tersebut didedikasikan untuk anak-anak kecil, anaknya orang kecil dengan penghasilan kecil, tetapi memiliki mimpi yang besar. Sebuah filosofi baru yang membuat ane mulai berekspresi dengan membuka mulut. USK sendiri memiliki motto: “Membangun Kerukunan, Membangun Kecerdasan, Membangun Keindonesiaan” dan memiliki prinsip “Ikhlas berbagi untuk bangsa dan negara”. Namun saat ini anak-anak yang datang bukan lagi dari golongan ‘kecil’ tetapi dari berbagai golongan. Tenaga pengajarnya merupakan volunteer  dari berbagai kalangan, termasuk kalangan mahasiswa dan orang pada umumnya yang ingin berbagi ilmu bersama. Dari situlah kita tahu bahwa Prof. Ayu merupakan sosok dengan jiwa sosial yang tinggi, yang mau dan mampu membantu sesama tanpa membedakannya.
Hal pertama yang ane lihat sewaktu masuk perpustakaan beliau adalah adanya banyak penghargaan berupa vandel yang seakan membingkai ruangan itu dari dalam. Vandel-vandel itu disusun rapi di atas lemari buku di pinggir ruangan. Tidak hanya itu saja. Piala-piala hasil lomba dan penampilan keterampilan bermain egrang yang diperoleh oleh anak binaannya juga tersusun rapi di ruang kelas. Itu masih belum cukup. Masih banyak penghargaan yang belum tersusun di luar dan masih disimpan beliau.
Sebuah prolog informasi riset yang membuat ane kagum. Di perpustakaan sederhananya itulah buku-buku dari berbagai disiplin ilmu disusun rapi dalam rak-rak buku dan almari. Dan dari perpustakaan sederhana itu telah lahir puluhan tugas akhir mulai dari skripsi, tesis hingga disertasi. Secara pribadi, Prof. Ayu pernah mengisi berbagai macam acara dan seminar mulai dari acara di dalam kota, luar kota, seminar nasional hingga diundang ke berbagai negara sebagai pembicara. Tak tanggung-tanggung, beliau yang pernah mengikuti acara kebudayaan di tingkat ASEAN juga pernah mengisi acara di negara-negara Eropa. Menurut beliau, yang paling berkesan adalah ketika beliau berada di Italia dan Perancis. Seiring dengan umur USK yang bertambah, yang kini berumur 16 tahun, banyak prestasi yang telah diraih anak-anak binaannya. Mereka sering diundang untuk mengisi acara maupun mengikuti lomba dan memenangkannya. Bahkan acara itu diadakan di luar kota. Sayangnya, pemerintah kabupaten belum melirik hal ini. Menurut keterangan beliau, pihak kabupaten baru satu sekali dalam 16 tahun beridirinya USK berkunjung ke sanggar itu. Sedangkan dari pihak provinsi telah dua kali melakukan kunjungannya.
Sanggar anak USK juga pernah mendapat bantuan dari semen Indonesia yang dimanfaatkan untuk membangun sarana di tempat itu. Tak tanggung-tanggung, bantuan yang diterima berupa semen sebanyak 200 kantong. Tak banyak yang mengetahui adanya sanggar anak ini. Menurut Prof. Ayu, jika kita berbagi tak perlu dipublikasikan atau digembor-gemborkan, yang penting ikhlas berbagi. Itulah yang menjadi prinsip Prof. Ayu selama ini. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul tapi semua itu dijawab dengan ringan oleh Prof. Ayu. Bahkan tak jarang beliau menjawab dengan sebuah pertanyaan, ”Apa itu masih perlu ditanyakan lagi, non?” selama obrolan kita berlangsung. Ane yang dari awal udah spechless cuma bisa menanggapi pernyataan-pernyataan dan cerita-cerita Prof. Ayu dengan bilang “Oh..”, “Ya..”, “Ha?”, “Iya”. Intinya, ane ngerasa jadi orang yang dengan pengetahuan dangkal banget dan itu terlihat jelas dari ekspresi ane yang ha-he-ho ketika ngobrol.
Awalnya yang ane udah nyiapin list  pertanyaan untuk diajuin ke Prof. Ayu, akhirnya ane tutup dengan memasukkannya kembali daftar pertanyaan itu ke dalam tas. Sudah cukup banyak informasi yang ane dapat bahkan tanpa menanyakannya sekalipun pertanyaan-pertanyaan yang ane susun telah terjawab. Dengan gelar profesor-nya, Prof. Ayu tetap menjadi sosok yang rendah hati dan tidak ingin memamerkan apa yang telah dilakukannya termasuk sanggar anak yang telah didirikannya.
Ketika ane tanya apa aja yang diajarkan di sanggar itu, beliau menjawab dengan enteng, “Ya apa aja yang bisa dipelajari, dipelajari di sini. Silahkan kalau mau belajar di sini. Asal jangan belajar apa yang tidak bisa dipelajari, di sini tidak ada”, beliau tersenyum. Tapi memang benar, di sanggar itu anak-anak belajar tentang semua hal yang bisa dipelajari. Tak hanya matematika, bahasa inggris atau sejenisnya, mereka juga belajar tentang kesenian seperti menari dan permainan tradisional yang dikemas secara modern. Salah satunya adalah permainan tradisional egrang yang dikombinasikan dengan permainan hula hoop yang diiringi musik-musik saat ini dan tari-tarian yang menarik. Meskipun mereka tinggal di pinggiran kali, mereka tetap mengerti kemajuan teknologi. Itulah sebabnya Prof. Ayu mengajarkan mereka hal-hal tradisional. Untuk hal-hal yang berbau modern mereka telah mampu dan mengerti dengan sendirinya, tidak kalah dengan anak-anak yang tinggal di kota. Tapi untuk hal tradisional, siapa lagi yang membuat mereka mengerti jika tidak diajarkan?

Bagi ane ini sebuah pengabdian masyarakat yang sangat mengagumkan. Secara tidak langsung ane telah menambahkan beliau ke dalam daftar sosok yang ane kagumi. Dan akhirnya, ane bener-bener spechless untuk semua hal yang ane temui sore itu dan untuk semua hal yang ane dapat dari sebuah sanggar sederhana dengan sosok pendidik yang sederhana pula.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar