Senin, 15 September 2014

MATA PISAU

Tak biasa aku menulis sebuah diary. Aku selalu merasa mampu menceritakan apa yang aku alami tanpa sebuah diary. Aku menulisnya dalam sebuah cerita yang lain tapi serupa. Tapi yang ini, aku belum memiliki ide untuk membuatnya menjadi sebuah cerita. Dengan lugas, aku akan menuliskannya dalam bentuk rangkaian kataku.
Aku masih berada di tempat ini. Di tempat yang sama. Di waktu yang sama. Tapi pikiranku mulai melayang, menjelajah dunia yang tak berada di sekitarku. Hanya dari sebuah benda elektronik, wujud kemajuan teknologi, pikiranku telah terbawa mengarungi tempat lain. Sebuah benda kecil yang orang menyebutnya sebagai handphone. Tempat yang jauh.
Tempat yang tak berwujud nyata di sekitarku. Tempat yang menyimpan ‘mata pisau’ bagiku.
Bagiku cinta adalah mata pisau yang tajam. Tak tahu seberapa tajam ia. Menurutku, ia sangat tajam. Lebih tajam dari pedang. Aku tahu jika di usiaku yang seperlima abad ini aku merindukan keberadaan cinta itu. Tapi aku tak tahu apa yang membuatku enggan untuk menyambutnya. Jelas, cinta itu telah datang. Ia membawa sesuatu yang sama sekali baru –karena kau baru mengenalnya.
Di tempat ini aku mengenal cinta. Sesuatu atau seseorang. Seharusnya aku sudah mengenal baik dengannya sejak beberapa tahu lalu. Mungkin karena aku terlalu naif saat itu. Kini aku yang terbiasa melakukan banyak hal sendiri, mengisi waktuku sendiri, dan hidup dengan sebuah kesendirian, akhirnya mulai terusik dengan kehadiran dua sosok yang membawa cinta itu. Aku memang tak begitu dekat dengan keduanya. Tapi aku mengenalnya. Sesosok kaum adam yang baru kenal dan sesosok adam lain yang telah aku kenal sejak lama, yang meskipun aku tak begitu kenal secara pribadi. Namun seiring berlalunya waktu, aku mulai ‘benar-benar’ mengenal keduanya.
Sosok pertama berada di dekatku, bahkan begitu dekat. Aku mampu menjangkaunya setiap saat, kapan pun aku mau. Awalnya aku memang benar-benar tak peduli dan tak mau ambil bagian untuk menganggapi keadaan itu. Setelah berjalan sekian waktu, ia berubah seperti bom waktu yang mengintaiku setiap saat. Ia bisa mengunci dan memojokkan dalam suatu keadaan hingga aku tak berkutik. Tanpa sebuah status, tanpa sebuah komitmen, ia berhasil membuatku tak bisa apa-apa. Aku melihat sosok itu sebagai mata pisau yang pertama. Tajam, bisa mematikanku seketika tanpa kompromi. Strateginya yang kadang membuatku nyaman –lebih tepatnya berhutang budi– menjadi mantra yang ampuh untuk menjeratku. Di sini terjadi sebuah kesalahan yang berulang, aku yang selalu masuk ke dalam ‘jebakan batman’ berulang kali dan terlalu lama untuk menyadarinya. Lagi-lagi aku terlalu naif.
Mata pisau yang kedua sama tajam tapi menurutku tak berbahaya. Ia juga menawarkan cinta, sebuah bentuk perasaan yang aku rindukan. Tak seperti bom waktu, ia memberiku kebebasan. Bahkan aku bisa berteriak “aku bebas” kapan pun. Hanya saja aku masih terikat oleh pasung kenaifan. Aku terlalu takut untuk memulai hal itu. Ada semacam trauma yang –mungkin– berasal dari lingkunganku tentang suatu hubungan. Aku tahu teori traumaku salah. Aku juga tahu bahwa tidak semua hubungan akan memiliki sifat yang sama.
Aku mempelajari ketakutan dan kekhawatiran apa yang selama ini terpendam dalam diriku. Tapi hasilnya nihil! Aku tak pernah tahu pasti apa yang membuatku takut. Aku merasa bahwa aku telah memberikan tong kosong yang sebenarnya kedua sisinya tertutup rapat dan tak bisa diisi oleh apa pun. Omong kosong. Harapan kosong. Kesia-siaan. Ketidakpastian. Semakin aku mengerti dampaknya, semakin tak berguna jika aku meminta maaf. Lagi-lagi itu karena terikat tali kenaifan.
Aku telah memberikan ketidakpastian bagi mata pisauku yang kedua. Di sisi inilah sebenarnya aku lebih tertarik. Aku lebih percaya bahwa di sisi mata pisau yang ini aku bisa menepis ketakutanku. Bahkan aku kehabisan kata untuk bercerita tentang kedua mata pisau itu. Terlalu rumit. Tak tahu pangkalnya dan tak tahu di mana ujungnya.

Kamu, sang mata pisau kedua, jika memang ada yang lebih pasti aku rasa itu lebih baik. tak ada gunanya menunggu ketidakpastian jika telah mendapati sesuatu lain yang lebih pasti. Dan kamu, sang mata pisau pertama, bangkit dan lupakan semuanya. Aku terlalu sakit untuk mendapatkan goresan dari sisimu yang tajam. Aku tak mampu lagi bertahan. Bentengku telah runtuh oleh gempuranmu. Sederhana. Tapi benar-benar meruntuhkanku. Membuatku terlihat semakin naif.

Mata pisau itu, TAJAM!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar