Tak biasa aku
menulis sebuah diary. Aku selalu merasa mampu menceritakan apa yang aku
alami tanpa sebuah diary. Aku menulisnya dalam sebuah cerita yang lain
tapi serupa. Tapi yang ini, aku belum memiliki ide untuk membuatnya menjadi
sebuah cerita. Dengan lugas, aku akan menuliskannya dalam bentuk rangkaian
kataku.
Aku masih
berada di tempat ini. Di tempat yang sama. Di waktu yang sama. Tapi pikiranku
mulai melayang, menjelajah dunia yang tak berada di sekitarku. Hanya dari
sebuah benda elektronik, wujud kemajuan teknologi, pikiranku telah terbawa
mengarungi tempat lain. Sebuah benda kecil yang orang menyebutnya sebagai handphone.
Tempat yang jauh.
Tempat yang tak berwujud nyata di sekitarku. Tempat yang
menyimpan ‘mata pisau’ bagiku.
Bagiku cinta
adalah mata pisau yang tajam. Tak tahu seberapa tajam ia. Menurutku, ia sangat
tajam. Lebih tajam dari pedang. Aku tahu jika di usiaku yang seperlima abad ini
aku merindukan keberadaan cinta itu. Tapi aku tak tahu apa yang membuatku
enggan untuk menyambutnya. Jelas, cinta itu telah datang. Ia membawa sesuatu
yang sama sekali baru –karena kau baru mengenalnya.
Di tempat ini
aku mengenal cinta. Sesuatu atau seseorang. Seharusnya aku sudah mengenal baik
dengannya sejak beberapa tahu lalu. Mungkin karena aku terlalu naif saat itu.
Kini aku yang terbiasa melakukan banyak hal sendiri, mengisi waktuku sendiri, dan
hidup dengan sebuah kesendirian, akhirnya mulai terusik dengan kehadiran dua
sosok yang membawa cinta itu. Aku memang tak begitu dekat dengan keduanya. Tapi
aku mengenalnya. Sesosok kaum adam yang baru kenal dan sesosok adam lain yang
telah aku kenal sejak lama, yang meskipun aku tak begitu kenal secara pribadi.
Namun seiring berlalunya waktu, aku mulai ‘benar-benar’ mengenal keduanya.
Sosok pertama
berada di dekatku, bahkan begitu dekat. Aku mampu menjangkaunya setiap saat,
kapan pun aku mau. Awalnya aku memang benar-benar tak peduli dan tak mau ambil
bagian untuk menganggapi keadaan itu. Setelah berjalan sekian waktu, ia berubah
seperti bom waktu yang mengintaiku setiap saat. Ia bisa mengunci dan memojokkan
dalam suatu keadaan hingga aku tak berkutik. Tanpa sebuah status, tanpa sebuah
komitmen, ia berhasil membuatku tak bisa apa-apa. Aku melihat sosok itu sebagai
mata pisau yang pertama. Tajam, bisa mematikanku seketika tanpa kompromi.
Strateginya yang kadang membuatku nyaman –lebih tepatnya berhutang budi–
menjadi mantra yang ampuh untuk menjeratku. Di sini terjadi sebuah kesalahan
yang berulang, aku yang selalu masuk ke dalam ‘jebakan batman’ berulang
kali dan terlalu lama untuk menyadarinya. Lagi-lagi aku terlalu naif.
Mata pisau yang
kedua sama tajam tapi menurutku tak berbahaya. Ia juga menawarkan cinta, sebuah
bentuk perasaan yang aku rindukan. Tak seperti bom waktu, ia memberiku
kebebasan. Bahkan aku bisa berteriak “aku bebas” kapan pun. Hanya saja aku
masih terikat oleh pasung kenaifan. Aku terlalu takut untuk memulai hal itu.
Ada semacam trauma yang –mungkin– berasal dari lingkunganku tentang suatu
hubungan. Aku tahu teori traumaku salah. Aku juga tahu bahwa tidak semua
hubungan akan memiliki sifat yang sama.
Aku mempelajari
ketakutan dan kekhawatiran apa yang selama ini terpendam dalam diriku. Tapi hasilnya
nihil! Aku tak pernah tahu pasti apa yang membuatku takut. Aku merasa bahwa aku
telah memberikan tong kosong yang sebenarnya kedua sisinya tertutup rapat dan tak
bisa diisi oleh apa pun. Omong kosong. Harapan kosong. Kesia-siaan.
Ketidakpastian. Semakin aku mengerti dampaknya, semakin tak berguna jika aku
meminta maaf. Lagi-lagi itu karena terikat tali kenaifan.
Aku telah
memberikan ketidakpastian bagi mata pisauku yang kedua. Di sisi inilah sebenarnya
aku lebih tertarik. Aku lebih percaya bahwa di sisi mata pisau yang ini aku
bisa menepis ketakutanku. Bahkan aku kehabisan kata untuk bercerita tentang
kedua mata pisau itu. Terlalu rumit. Tak tahu pangkalnya dan tak tahu di mana
ujungnya.
Kamu, sang mata
pisau kedua, jika memang ada yang lebih pasti aku rasa itu lebih baik. tak ada
gunanya menunggu ketidakpastian jika telah mendapati sesuatu lain yang lebih
pasti. Dan kamu, sang mata pisau pertama, bangkit dan lupakan semuanya. Aku
terlalu sakit untuk mendapatkan goresan dari sisimu yang tajam. Aku tak mampu
lagi bertahan. Bentengku telah runtuh oleh gempuranmu. Sederhana. Tapi benar-benar
meruntuhkanku. Membuatku terlihat semakin naif.
Mata pisau itu, TAJAM!
Mata pisau itu, TAJAM!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar