Rabu, 03 September 2014

CERITA DI BALIK KEGILAAN TUGAS-TUGAS KULIAH #2

Melanjutkan dari kisah ane bersama tugas-tugas kuliah sebelumnyaa.
Di semester tiga ada dua mata kuliah yang akan ane ungkap. Sebut saja tata cahaya 01 dan videografi yang merangkap editing. Kita mulai dengan kisah tugas videografi yang merangkap juga sebagai tugas editing ini. Tugasnya adalah bikin video adzan maghrib plus adzan shubuh dan bikin video klip. Untuk proses eksekusi hingga final dari video adzan berjalan lancar. Sedangkan untuk eksekusi video klip ane agak bingung dengan yang namanya talent. Ane butuh beberapa talent cewek dan satu talent cowok sebagai tokoh utamanya. Setelah ane kerahkan seluruh temen kontrakan ane sebagai talent cewek, satu masalah terlewati. Tinggal masalah talent cowok. Ane butuh wajah yang pas-pasan tapi masih bisa dipoles dikit biar cakep dan biar kelihatan perubahannya. FYI, ane bikin video klip lagunya Element yang Pacar Tanpa Tandingan. Konsepnya adalah pembuktian bahwa cowok yang serba pas-pasan juga bisa punya pacar.
Akhirnya ane nemu korban sebagai talent cowok.
Dia temen lama ane yang baru ketemu lagi di tempat rantau ini. Setelah bikin kesepakatan, dia mau jadi talent ane. Ane anggap masalah talent udah kelar. Tapi saat eksekusi muncul satu masalah yang amat sangat bahaya banget. Temen ane nggak bisa akting! ­­Dengan segala daya upaya dan kekuatan yang ane kerahkan, ane mencoba ngarahin itu bocah biar bisa akting. Tapi hasilnya tetep nol besar. Setelah beberapa hari kemudian ane baru inget kalau ada temennya temen kontrakan ane yang juga temen ane di kampus tapi beda jurusan yang cukup bisa diajak kerja sama. Akhirnya ane ubah talent utamanya dengan temen ane yang satu ini. Eksekusi lancar. Ane lega. Lanjut ke proses paska produksi alias editing. Waktu mau ngedit laptop ane mendadak ngambek nggak mau diajak ngedit. Ane pikir mungkin dia lelah. Setelah ane istirahatkan dan ane bawa ke dokter komputer akhirnya itu laptop sembuh juga. Nggak lama kemudian penyakitnya kambuh. Oke, ane mencoba tenang. Ane bawa itu laptop ke dokter yang lebih ahli. Ternyata oh ternyata, RAMnya minta adek. Ane langsung lemes.
Tugas tinggal menghitung hari tapi laptop perlu rawat inap yang cukup lama gara-gara stok RAMnya kosong dan harus nunggu kiriman. Akhirnya ane pake data cadangan yang ada. Tapi formatnya udah ane ubah. Setelah sekian kali mencoba ngedit, ane gagal terus. Ane mulai pusing. Ane minta tolong ke temen ane tetep aja nggak bisa. Selanjutnya ane mulai mimisan. Di saat seperti ini, ane cuma bisa merenung. Di saat ane sedang merenung, datanglah sebuah utusan dalam bentuk sms dari talent utama ane.
“Bin, gimana videonya? Udah jadi atau belum? Aku pengen tahu.”
“Maaf ya, belum selesai. Dataku nggak bisa diedit. Data asliku ada di laptop tapi laptopku rusak. Aku masih usahakan ambil datanya dari harddisknya.”
“Kan aku punya salinannya.”
Bodohnya aku saat itu. Talent ane yang cowok ini sempet nyalin data asli video klip ane yang mau diedit. Kenapa ane nggak minta ke dia aja? Cerdas banget. Udah bingung sana-sini, jungkir balik, gulung-gulung nggak jelas, akhirnya sebuah bantuan datang.
“Eh bisa minta tolong nggak anterin datanya ke kosnya temenku? Aku lagi di kosnya temenku. Aku nggak ada sepeda buat ngambil.”
“Oke, aku anterin.”
Kebetulan kos temen ane dekat sama kos sang talent. Ane girang banget. Data udah di tangan. Langsung ane rampas laptop temen ane buat ngedit. Nggak butuh waktu lama akhirnya kelar juga. Meski hasilnya standar abiiiissssss tapi ane lega karena ane udah berusaha sekuat tenaga di waktu yang sempit dan kejepit itu untuk nyelesain tugas.
Lanjut. Tugas di semester tiga yang menjadi kegilaan ane adalah tata cahaya 01. Sesuai dengan namanya, mata kuliah ini mempelajari tentang karakter cahaya. Tugasnya adalah memotret bayangan sebuah benda dari tiga arah: barat, timur dan utara atau selatan. Satu arah dikerjakan dalam satu hari. Berarti minimal waktu pengerjaannya selama tiga hari. Untuk satu arah di minta untuk memotret perkembangan bayangannya setiap 30 atau 60 menit sekali.
Hal itu dilakukan sejak terbit matahari, sekitar pukul 05.30 atau 06.00, hingga matahari hampir tenggelam, sekitar pukul 17.00 atau 17.30. Berarti untuk satu arah bayangan akan ada 10 hingga 12 foto. Masalah yang hadir adalah ketika matahari redup dan sembunyi di balik awan maka nggak akan ada bayangan yang bisa difoto. Dan jika dalam 60 menit ke depan kita nggak dapat satu foto maka gagal sudah perjuangan nungguin bayangan selama satu hari itu dan harus ngulang dari awal lagi.
Ane ngerjain tugas ini awalnya cuma bertiga sama temen ane. Tapi ternyata di lokasi yang sama ada rombongan temen ane yang lain yang juga sama-sama ngerjain tugas itu. Akhirnya kita berkolaborasi dan terbentuk dalam tim mengejar matahari. Lokasi yang ane pilih adalah lokasi yang strategis. Strategis untuk posisi matahari, strategis untuk mencari makanan saat lapar, strategis untuk orang-orang lewat yang akhirnya memperhatikan kita seperti sekelompok tuna wisma, dan strategis untuk ditegur satpam. Lokasi itu berada di depan pos satpam di double way kampus.
Di situlah rasa malu kita dipertaruhkan. Gimana nggak? Kita di depan pos satpam itu melebarkan tikar –bukan sayap– di area pejalan kaki. Di lokasi itu pula kita nyiapin alat-alat hiburan biar nggak bosan nungguin bayangan seharian dan kebutuhan logistik. Setelah kita patungan maka terkumpullah barang-barang berikut: heater untuk masak air (bikin kopi atau rebus mie instan), tikar untuk tiduran di pinggir jalan, bantal untuk tiduran, seperangkat laptop dan stick untuk main PS, dan seperangkat galon beserta piring dan gelas sebagai alat makan.
Dengan segala keterbatasan yang ada akhirnya kita menyelesaikan tugas itu selama tiga hari. Positifnya, tugas kita beres semua. Tapi negatifnya adalah adik angkatan ane nggak boleh lagi ngerjain tugas yang sama di tempat itu gara-gara kisah ane dan temen-temen yang kayak pindah rumah di depan pos satpam. Dan yang lebih parah, rasa malu kita ketinggalan di sana. Makanya sekarang mukanya tebal-tebal alias nggak punya malu. Hanya tersisa sedikit.
Terakhir di semester empat tugas ane adalah bikin film bisu. Kenapa film bisu? Karena nggak ada dialognya? Kenapa nggak ada dialognya? Karena di naskahnya nggak ada. Kenapa di naskahnya nggak ada? Karena tugas dari dosen emang harus film bisu. Hehe.. Sebenernya, kenapa di pilih film bisu? Karena kita diajak untuk flash back, merasakan bagaimana permulaan film itu muncul. Sebuah film yang tidak ada dialognya sama sekali.
Baiklah, kembali ke cerita ane. Di kelompok ane, ane menjabat sebagai produser. Wuih, keren ya? Nggak. Kenapa nggak? Karena pada kenyataannya ane merangkap juga sebagai penulis naskah dan unit manager alias pembantu umum. Semua itu berlaku sejak negara api menyerang sehingga anggota kelompok ane yang awalnya terdiri dari lima orang akhirnya tetap terdiri dari lima orang. Setiap orang merangkap job desknya. Dan ane paling banyak berperan sebagai unit manager.
Tapi inti permasalahannya bukan di situ. Kelompok ane itu anaknya ajaib-ajaib. Ada satu oknum yang kalau ane ngasih saran itu nggak didengerin. Paling bagus adalah saran ane didengerin dan ditolak mentah-mentah. Tapi ujung-ujungnya oknum itu pake saran ane juga. Kalau kerja seenaknya sendiri. Serba ngerasa paling bener dan dianggap bisa-lah pokoknya sama dia. Ane akui dia emang lebih ngerti dari ane. Tapi please deh, nggak gitu juga kali caranya. Baiklah, lanjut. Sejak dari pra produksi hingga paska produksi ane udah nggak sejalan sama dia. Akhirnya ane lepas dia. Ane biarin dia berekspresi dengan idealisnya dia sendiri. Ane capek ngikutin dia muter-muter koprol dengan idenya. Tapi berkat kemampuannya juga nilai ane tertolong. Nilai ane hasil film bisu itu cukup lumayanlah.

Demikian tugas-tugas yang ane anggap ajaib karena ane bisa nglewatin rintangan-rintangannya. Tapi yang paling berkesan adalah saat ngerjain tugas tata cahaya 01. Sempet digusur sama satpam saat om rektor mau lewat karena mengganggu keindahan double way kampus. Kesimpulannya, apapun wujud dan bentuk tugas itu, entah itu paper, makalah, resume, atau bikin karya, yang penting kerjain aja. Jangan berorientasi pada hasil dan lebih baik berorientasi pada proses yang dikerjakan semaksimal mungkin. Alasannya simpel. Kalau berorientasi pada hasil tapi hasilnya nggak sesuai ekspektasi maka kita akan kecewa berkepanjangan. Tapi kalau berorientasi pada proses, seperti apapun hasilnya pasti kita akan bisa menerima. Kalaupun kecewa, hal itu hanya sementara dan tidak berkepanjangan. Seperti quote yang pernah ane baca: “Hasil tidak akan pernah mengkhianati proses”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar