Melanjutkan
dari kisah ane bersama tugas-tugas kuliah sebelumnyaa.
Di semester
tiga ada dua mata kuliah yang akan ane ungkap. Sebut saja tata cahaya 01 dan
videografi yang merangkap editing. Kita mulai dengan kisah tugas videografi
yang merangkap juga sebagai tugas editing ini. Tugasnya adalah bikin video
adzan maghrib plus adzan shubuh dan bikin video klip. Untuk proses eksekusi
hingga final dari video adzan berjalan lancar. Sedangkan untuk eksekusi video
klip ane agak bingung dengan yang namanya talent. Ane butuh beberapa talent
cewek dan satu talent cowok sebagai tokoh utamanya. Setelah ane kerahkan
seluruh temen kontrakan ane sebagai talent cewek, satu masalah
terlewati. Tinggal masalah talent cowok. Ane butuh wajah yang pas-pasan
tapi masih bisa dipoles dikit biar cakep dan biar kelihatan perubahannya. FYI,
ane bikin video klip lagunya Element yang Pacar Tanpa Tandingan. Konsepnya
adalah pembuktian bahwa cowok yang serba pas-pasan juga bisa punya pacar.
Akhirnya ane
nemu korban sebagai talent cowok.
Dia temen lama ane yang baru ketemu
lagi di tempat rantau ini. Setelah bikin kesepakatan, dia mau jadi talent
ane. Ane anggap masalah talent udah kelar. Tapi saat eksekusi muncul
satu masalah yang amat sangat bahaya banget. Temen ane nggak bisa akting! Dengan
segala daya upaya dan kekuatan yang ane kerahkan, ane mencoba ngarahin itu bocah
biar bisa akting. Tapi hasilnya tetep nol besar. Setelah beberapa hari kemudian
ane baru inget kalau ada temennya temen kontrakan ane yang juga temen ane di
kampus tapi beda jurusan yang cukup bisa diajak kerja sama. Akhirnya ane ubah talent
utamanya dengan temen ane yang satu ini. Eksekusi lancar. Ane lega. Lanjut ke
proses paska produksi alias editing. Waktu mau ngedit laptop ane mendadak
ngambek nggak mau diajak ngedit. Ane pikir mungkin dia lelah. Setelah ane
istirahatkan dan ane bawa ke dokter komputer akhirnya itu laptop sembuh juga.
Nggak lama kemudian penyakitnya kambuh. Oke, ane mencoba tenang. Ane bawa itu
laptop ke dokter yang lebih ahli. Ternyata oh ternyata, RAMnya minta adek. Ane
langsung lemes.
Tugas tinggal
menghitung hari tapi laptop perlu rawat inap yang cukup lama gara-gara stok
RAMnya kosong dan harus nunggu kiriman. Akhirnya ane pake data cadangan yang
ada. Tapi formatnya udah ane ubah. Setelah sekian kali mencoba ngedit, ane
gagal terus. Ane mulai pusing. Ane minta tolong ke temen ane tetep aja nggak
bisa. Selanjutnya ane mulai mimisan. Di saat seperti ini, ane cuma bisa
merenung. Di saat ane sedang merenung, datanglah sebuah utusan dalam bentuk sms
dari talent utama ane.
“Bin, gimana
videonya? Udah jadi atau belum? Aku pengen tahu.”
“Maaf ya, belum
selesai. Dataku nggak bisa diedit. Data asliku ada di laptop tapi laptopku
rusak. Aku masih usahakan ambil datanya dari harddisknya.”
“Kan aku punya
salinannya.”
Bodohnya aku
saat itu. Talent ane yang cowok ini sempet nyalin data asli video klip
ane yang mau diedit. Kenapa ane nggak minta ke dia aja? Cerdas banget. Udah
bingung sana-sini, jungkir balik, gulung-gulung nggak jelas, akhirnya sebuah
bantuan datang.
“Eh bisa minta
tolong nggak anterin datanya ke kosnya temenku? Aku lagi di kosnya temenku. Aku
nggak ada sepeda buat ngambil.”
“Oke, aku
anterin.”
Kebetulan kos
temen ane dekat sama kos sang talent. Ane girang banget. Data udah di
tangan. Langsung ane rampas laptop temen ane buat ngedit. Nggak butuh waktu
lama akhirnya kelar juga. Meski hasilnya standar abiiiissssss tapi ane lega
karena ane udah berusaha sekuat tenaga di waktu yang sempit dan kejepit itu
untuk nyelesain tugas.
Lanjut. Tugas
di semester tiga yang menjadi kegilaan ane adalah tata cahaya 01. Sesuai dengan
namanya, mata kuliah ini mempelajari tentang karakter cahaya. Tugasnya adalah
memotret bayangan sebuah benda dari tiga arah: barat, timur dan utara atau
selatan. Satu arah dikerjakan dalam satu hari. Berarti minimal waktu pengerjaannya
selama tiga hari. Untuk satu arah di minta untuk memotret perkembangan
bayangannya setiap 30 atau 60 menit sekali.
Hal itu
dilakukan sejak terbit matahari, sekitar pukul 05.30 atau 06.00, hingga
matahari hampir tenggelam, sekitar pukul 17.00 atau 17.30. Berarti untuk satu
arah bayangan akan ada 10 hingga 12 foto. Masalah yang hadir adalah ketika
matahari redup dan sembunyi di balik awan maka nggak akan ada bayangan yang
bisa difoto. Dan jika dalam 60 menit ke depan kita nggak dapat satu foto maka
gagal sudah perjuangan nungguin bayangan selama satu hari itu dan harus ngulang
dari awal lagi.
Ane ngerjain
tugas ini awalnya cuma bertiga sama temen ane. Tapi ternyata di lokasi yang
sama ada rombongan temen ane yang lain yang juga sama-sama ngerjain tugas itu.
Akhirnya kita berkolaborasi dan terbentuk dalam tim mengejar matahari. Lokasi
yang ane pilih adalah lokasi yang strategis. Strategis untuk posisi matahari,
strategis untuk mencari makanan saat lapar, strategis untuk orang-orang lewat yang
akhirnya memperhatikan kita seperti sekelompok tuna wisma, dan strategis untuk
ditegur satpam. Lokasi itu berada di depan pos satpam di double way kampus.
Di situlah rasa
malu kita dipertaruhkan. Gimana nggak? Kita di depan pos satpam itu melebarkan
tikar –bukan sayap– di area pejalan kaki. Di lokasi itu pula kita nyiapin
alat-alat hiburan biar nggak bosan nungguin bayangan seharian dan kebutuhan
logistik. Setelah kita patungan maka terkumpullah barang-barang berikut: heater
untuk masak air (bikin kopi atau rebus mie instan), tikar untuk tiduran di
pinggir jalan, bantal untuk tiduran, seperangkat laptop dan stick untuk
main PS, dan seperangkat galon beserta piring dan gelas sebagai alat makan.
Dengan segala
keterbatasan yang ada akhirnya kita menyelesaikan tugas itu selama tiga hari.
Positifnya, tugas kita beres semua. Tapi negatifnya adalah adik angkatan ane
nggak boleh lagi ngerjain tugas yang sama di tempat itu gara-gara kisah ane dan
temen-temen yang kayak pindah rumah di depan pos satpam. Dan yang lebih parah,
rasa malu kita ketinggalan di sana. Makanya sekarang mukanya tebal-tebal alias
nggak punya malu. Hanya tersisa sedikit.
Terakhir di
semester empat tugas ane adalah bikin film bisu. Kenapa film bisu? Karena nggak
ada dialognya? Kenapa nggak ada dialognya? Karena di naskahnya nggak ada.
Kenapa di naskahnya nggak ada? Karena tugas dari dosen emang harus film bisu.
Hehe.. Sebenernya, kenapa di pilih film bisu? Karena kita diajak untuk flash
back, merasakan bagaimana permulaan film itu muncul. Sebuah film yang tidak
ada dialognya sama sekali.
Baiklah,
kembali ke cerita ane. Di kelompok ane, ane menjabat sebagai produser. Wuih,
keren ya? Nggak. Kenapa nggak? Karena pada kenyataannya ane merangkap juga
sebagai penulis naskah dan unit manager alias pembantu umum. Semua itu
berlaku sejak negara api menyerang sehingga anggota kelompok ane yang awalnya
terdiri dari lima orang akhirnya tetap terdiri dari lima orang. Setiap orang
merangkap job desknya. Dan ane paling banyak berperan sebagai unit
manager.
Tapi inti permasalahannya
bukan di situ. Kelompok ane itu anaknya ajaib-ajaib. Ada satu oknum yang kalau
ane ngasih saran itu nggak didengerin. Paling bagus adalah saran ane didengerin
dan ditolak mentah-mentah. Tapi ujung-ujungnya oknum itu pake saran ane juga.
Kalau kerja seenaknya sendiri. Serba ngerasa paling bener dan dianggap bisa-lah
pokoknya sama dia. Ane akui dia emang lebih ngerti dari ane. Tapi please
deh, nggak gitu juga kali caranya. Baiklah, lanjut. Sejak dari pra produksi
hingga paska produksi ane udah nggak sejalan sama dia. Akhirnya ane lepas dia.
Ane biarin dia berekspresi dengan idealisnya dia sendiri. Ane capek ngikutin
dia muter-muter koprol dengan idenya. Tapi berkat kemampuannya juga nilai ane
tertolong. Nilai ane hasil film bisu itu cukup lumayanlah.
Demikian tugas-tugas yang ane anggap ajaib karena ane bisa nglewatin
rintangan-rintangannya. Tapi yang paling berkesan adalah saat ngerjain tugas
tata cahaya 01. Sempet digusur sama satpam saat om rektor mau lewat karena
mengganggu keindahan double way kampus. Kesimpulannya, apapun wujud dan bentuk
tugas itu, entah itu paper, makalah, resume, atau bikin karya, yang penting
kerjain aja. Jangan berorientasi pada hasil dan lebih baik berorientasi pada
proses yang dikerjakan semaksimal mungkin. Alasannya simpel. Kalau berorientasi
pada hasil tapi hasilnya nggak sesuai ekspektasi maka kita akan kecewa
berkepanjangan. Tapi kalau berorientasi pada proses, seperti apapun hasilnya
pasti kita akan bisa menerima. Kalaupun kecewa, hal itu hanya sementara dan
tidak berkepanjangan. Seperti quote yang pernah ane baca: “Hasil tidak
akan pernah mengkhianati proses”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar