Pagi ini muncul
cerita tentang penemuan kisah cinta yang ane sendiri tak tahu apa namanya.
Kisah ini berasal dari temen kontrakan ane yang penuh usaha atas nama cinta.
Dari sebuah kolaborasi usaha kewirausahaan mini, temen ane yang satu ini
akhirnya menemukan apa yang selama ini sering dipertanyakan. Sebut aja temen
ane namanya Nining dan temen kolaborasi wirausahanya Puput.
Usaha mereka
udah berlangsung beberapa bulan terakhir ini. Untuk memperlancar usaha
sekaligus pemasukan, si Puput mencari orang yang mau jadi partner di
bidang marketing via jejaring sosial yang paling banyak digunakan oleh
manusia di dunia termasuk di Indonesia yaitu pesbuk. Bahasa udah keren nih, marketing.
Tapi sebenernya ya dagang jajanan.
Hehehe... FYI, kedua temen ane ini
memproduksi sebuah jajanan yang cukup nyantol di lidah dan kantong mahasiswa,
terbuat dari kulit pangsit, pisang, dan coklat meses kemudian digoreng dengan
minyak panas yang banyak yang selanjutnya disebut pisang coklat. Menurut lidah
ane yang biasa beli sih enak. Dan ternyata itu dirasakan oleh para konsumen
lain yang juga menikmatinya.
Komen punya
komen akhirnya ada satu mahasiswa di kampus ane tapi beda jurusan yang berminat
dengan penawaran ini. Panggil aja dia dengan Ara. Sebelum ketemu dengan Ara, si
Nining udah pernah ketemu dengan makhluk yang satu jurusan dengan Ara. Dia
laki-laki yang pernah membuat Nining kelimpungan dibuatnya. Untuk makhluk yang
satu ini kita beri nama dia Al. Kenapa si Nining bisa kelimpungan? Karena si Al
bikin Nining kelimpungan, kelimpungan karena sikapnya.
Setelah
berpikir beberapa saat, kita –ane, Nining dan Puput– memutuskan untuk iseng
bertanya ke Ara perkara Al. Kita berspekulasi si Ara nggak kenal dengan Al.
Tapi di sisi lain otak kita memerintahkan untuk berkata bahwa Ara kenal dengan
Al. Atas dasar itu akhirnya kita bertanya. Kebetulan si Ara ini setingkat lebih
muda dari ane dan temen-temen.
“Dek, kamu
kenal sama mas Al nggak?” Nining mulai
bertanya menyelidik.
“Kenal, mbak.”
“Tuh kan,
kenal. Dia tu terkenal di sana. Hampir semua kenal sama dia”. Nining mulai
meyakinkan ane dan Puput.
“Tapi aku
musuhan, mbak, sama dia. Aku nggak suka, dari awal ketemu udah nggak suka”.
“Nggak suka?
Emang kenapa?” Ane ikut-ikutan kepo.
“Dia orangnya
sombong, belagu gitu.”
“Tuh kan,
bener.”
“Aku musuhan
sama dia gara-gara temenku sih. Dia ndeketin temenku gitu. Cuma kayak dimanfaatin
gitu. Aku nggak suka, mbak. Aku nggak terima dong temenku digituin.”
“Dimanfaatin
gimana?” Nining menyelidik makin dalam. Sedalam rasa penasarannya selama ini.
“Ya gitu, mbak.
Ngambil enaknya aja. Mas Al itu kayak ngasih perhatian lebih gitu ke temenku.
Dan aku tahu kalo temenku tu beneran suka sama mas Al. Cuma dia nggak ngaku.
Aku tahu dari gelagatnya.”
“Itu sama kayak
aku, Put”.
“Iya, kamu sih
dikasih tahu nggak percaya. Sekarang tahu sendiri kan?”
“Iya ya.”
“Mbak, kasusnya
kapan?”
“Baru-baru ini
kok.” Ane asal nyamber aja.
“Iya, baru
puasaan kemarin itu lho”. Nining nambahin.
“Lho, berarti
barengan sama temenku dong? Dia juga baru-baru ini”.
“Wah, Ning,
gawat deh ente. Berarti selama ente nggak di sini, dia sama korban yang lain”.
“Iya ya. Kok
bisa sih dia kayak gitu? Nggak nyangka aku”.
“Dia itu cowok
yang nggak modal, mbak. Apa-apa minta dimodalin. Nggak banget deh pokoknya.
Kamu juga gitu?”
“Iya, dek. Aku
juga digituin”.
“Wah, berarti
modusnya sama ke semua cewek. Parah pokoknya, mbak”.
Selaku sahabat
yang baik hati, tidak sombong dan jujur, si Puput memberi nasihat dan petuah ke
Nining. Sebenernya udah dari awal jaman Nining kelimpungan gara-gara mas Al,
kita –ane, Puput dan temen yang lain– ngasih petuah, tapi nggak digubris sama
Nining. Dan pagi ini semua terbongkar dan terpapar dengan jelas siapa
sebenernya mas Al itu.
“Iya, sakit
hati banget aku. Kalo dipkir-pikir emang aku sering modalin dia”.
“Udah, Ning,
tinggalin aja. Buang ke laut tuh. Masih mendingan Paijo –pacar si Nining
sebelumnya”.
“Masih mau
nggak ya Paijo sama aku?”
“Hyaaaaaaahh,
sekarang aja baru nggubris Paijo”. Ane nyletuk sekenanya.
“Iya, kemarin
ke mana aja, Ning”. Puput ikut nimpalin. “Kurang apalagi coba si Paijo. Dia itu
udah baik, tanggung jawab, dewasa, ngerti kamu, udah penghasilan sendiri, udah
enaklah pokoknya. Kamu malah milih yang nggak nggubris kamu”.
“Ya dulu kan,
aku sama mbak Elwhy pernah bilang, cuekin aja. Eh ente tetep nanggepin aja. Ya
udah, gini nih hasilnya”.
“Iya ya. Ya
udah, mulai sekarang aku nggak mau sama dia”.
Dan berakhirlah
cerita pagi ini karena ane buru-buru ngampus. Entahlah apa yang terjadi
selanjutnya, yang jelas temen ane udah mulai ngerti jalan yang bener. Tapi
entahlah, ane nggak tahu apa dia udah kembali ke jalan yang benar atau belum.
Yang jelas, jalan yang baik dan benar udah mulai terbuka untuknya.
Pagi itu, selama
perjalanan menuju tempat peraduan ilmu alias ngampus ane bikin sebuah kesimpulan
bahwa cinta itu ‘seringkali’ mengalahkan logika dan rasio. Tak heran jika
banyak orang yang mengatakan cinta itu buta. Tapi bukan itu makna sebenarnya.
Cinta itu tidak buta tapi ia membutakan orang yang tidak menggunakan akal sehat
dalam memaknai cinta –di samping menggunakan perasaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar