Selasa, 30 September 2014

CURHAT ala PISANG COKLAT

Pagi ini muncul cerita tentang penemuan kisah cinta yang ane sendiri tak tahu apa namanya. Kisah ini berasal dari temen kontrakan ane yang penuh usaha atas nama cinta. Dari sebuah kolaborasi usaha kewirausahaan mini, temen ane yang satu ini akhirnya menemukan apa yang selama ini sering dipertanyakan. Sebut aja temen ane namanya Nining dan temen kolaborasi wirausahanya Puput.
Usaha mereka udah berlangsung beberapa bulan terakhir ini. Untuk memperlancar usaha sekaligus pemasukan, si Puput mencari orang yang mau jadi partner di bidang marketing via jejaring sosial yang paling banyak digunakan oleh manusia di dunia termasuk di Indonesia yaitu pesbuk. Bahasa udah keren nih, marketing. Tapi sebenernya ya dagang jajanan.
Hehehe... FYI, kedua temen ane ini memproduksi sebuah jajanan yang cukup nyantol di lidah dan kantong mahasiswa, terbuat dari kulit pangsit, pisang, dan coklat meses kemudian digoreng dengan minyak panas yang banyak yang selanjutnya disebut pisang coklat. Menurut lidah ane yang biasa beli sih enak. Dan ternyata itu dirasakan oleh para konsumen lain yang juga menikmatinya.
Komen punya komen akhirnya ada satu mahasiswa di kampus ane tapi beda jurusan yang berminat dengan penawaran ini. Panggil aja dia dengan Ara. Sebelum ketemu dengan Ara, si Nining udah pernah ketemu dengan makhluk yang satu jurusan dengan Ara. Dia laki-laki yang pernah membuat Nining kelimpungan dibuatnya. Untuk makhluk yang satu ini kita beri nama dia Al. Kenapa si Nining bisa kelimpungan? Karena si Al bikin Nining kelimpungan, kelimpungan karena sikapnya.
Setelah berpikir beberapa saat, kita –ane, Nining dan Puput– memutuskan untuk iseng bertanya ke Ara perkara Al. Kita berspekulasi si Ara nggak kenal dengan Al. Tapi di sisi lain otak kita memerintahkan untuk berkata bahwa Ara kenal dengan Al. Atas dasar itu akhirnya kita bertanya. Kebetulan si Ara ini setingkat lebih muda dari ane dan temen-temen.
“Dek, kamu kenal sama mas Al nggak?”  Nining mulai bertanya menyelidik.
“Kenal, mbak.”
“Tuh kan, kenal. Dia tu terkenal di sana. Hampir semua kenal sama dia”. Nining mulai meyakinkan ane dan Puput.
“Tapi aku musuhan, mbak, sama dia. Aku nggak suka, dari awal ketemu udah nggak suka”.
“Nggak suka? Emang kenapa?” Ane ikut-ikutan kepo.
“Dia orangnya sombong, belagu gitu.”
“Tuh kan, bener.”
“Aku musuhan sama dia gara-gara temenku sih. Dia ndeketin temenku gitu. Cuma kayak dimanfaatin gitu. Aku nggak suka, mbak. Aku nggak terima dong temenku digituin.”
“Dimanfaatin gimana?” Nining menyelidik makin dalam. Sedalam rasa penasarannya selama ini.
“Ya gitu, mbak. Ngambil enaknya aja. Mas Al itu kayak ngasih perhatian lebih gitu ke temenku. Dan aku tahu kalo temenku tu beneran suka sama mas Al. Cuma dia nggak ngaku. Aku tahu dari gelagatnya.”
“Itu sama kayak aku, Put”.
“Iya, kamu sih dikasih tahu nggak percaya. Sekarang tahu sendiri kan?”
“Iya ya.”
“Mbak, kasusnya kapan?”
“Baru-baru ini kok.” Ane asal nyamber aja.
“Iya, baru puasaan kemarin itu lho”. Nining nambahin.
“Lho, berarti barengan sama temenku dong? Dia juga baru-baru ini”.
“Wah, Ning, gawat deh ente. Berarti selama ente nggak di sini, dia sama korban yang lain”.
“Iya ya. Kok bisa sih dia kayak gitu? Nggak nyangka aku”.
“Dia itu cowok yang nggak modal, mbak. Apa-apa minta dimodalin. Nggak banget deh pokoknya. Kamu juga gitu?”
“Iya, dek. Aku juga digituin”.
“Wah, berarti modusnya sama ke semua cewek. Parah pokoknya, mbak”.
Selaku sahabat yang baik hati, tidak sombong dan jujur, si Puput memberi nasihat dan petuah ke Nining. Sebenernya udah dari awal jaman Nining kelimpungan gara-gara mas Al, kita –ane, Puput dan temen yang lain– ngasih petuah, tapi nggak digubris sama Nining. Dan pagi ini semua terbongkar dan terpapar dengan jelas siapa sebenernya mas Al itu.
“Iya, sakit hati banget aku. Kalo dipkir-pikir emang aku sering modalin dia”.
“Udah, Ning, tinggalin aja. Buang ke laut tuh. Masih mendingan Paijo –pacar si Nining sebelumnya”.
“Masih mau nggak ya Paijo sama aku?”
“Hyaaaaaaahh, sekarang aja baru nggubris Paijo”. Ane nyletuk sekenanya.
“Iya, kemarin ke mana aja, Ning”. Puput ikut nimpalin. “Kurang apalagi coba si Paijo. Dia itu udah baik, tanggung jawab, dewasa, ngerti kamu, udah penghasilan sendiri, udah enaklah pokoknya. Kamu malah milih yang nggak nggubris kamu”.
“Ya dulu kan, aku sama mbak Elwhy pernah bilang, cuekin aja. Eh ente tetep nanggepin aja. Ya udah, gini nih hasilnya”.
“Iya ya. Ya udah, mulai sekarang aku nggak mau sama dia”.
Dan berakhirlah cerita pagi ini karena ane buru-buru ngampus. Entahlah apa yang terjadi selanjutnya, yang jelas temen ane udah mulai ngerti jalan yang bener. Tapi entahlah, ane nggak tahu apa dia udah kembali ke jalan yang benar atau belum. Yang jelas, jalan yang baik dan benar udah mulai terbuka untuknya.

Pagi itu, selama perjalanan menuju tempat peraduan ilmu alias ngampus ane bikin sebuah kesimpulan bahwa cinta itu ‘seringkali’ mengalahkan logika dan rasio. Tak heran jika banyak orang yang mengatakan cinta itu buta. Tapi bukan itu makna sebenarnya. Cinta itu tidak buta tapi ia membutakan orang yang tidak menggunakan akal sehat dalam memaknai cinta –di samping menggunakan perasaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar