Cerita hari ini
adalah tentang saudara. Tadinya cuma ngobrol ngalor-ngidul nggak jelas
sambil bahas tugas-tugas kuliah di kampus. Ternyata ada yang unik tentang topik
yang kita bicarain. Setelah otak ane mencerna omongan temen-temen ane, ternyata
kita sama-sama lagi ngomongin pengalaman pertemuan saudara yang telah lama tak
diketahui. Sayangnya ane nggak inget gimana awal mula tercetusnya obrolan ini
tapi yang jelas ini menjadi hiburan tersendiri bagi otak kami yang sedang
dirundung tugas kuliah.
“Ternyata ane
punya saudara jauh di sini. Tapi ane nggak tahu orangnya kayak gimana. Yang ane
tahu rumahnya dekat sini, katanya sih dekatnya Linggarjati Baru situ”.
“Iya, ya
gara-gara saudara jauh itu tadi. Itu tu anaknya saudara tirinya bapaknya bapak
ane”.
Temen-temen ane
mulai garuk-garuk. Ada yang garuk-garuk lantai, garuk-garuk tembok bahkan ada
yang garuk-garuk meja buat mikir. Mereka berusaha mencerna kalimat yang barusan
loncat dari mulut ane.
“Bentar,
bentar, itu gimana ceritanya? Kok muter-muter gitu?”
“Entahlah, ane
juga nggak begitu paham. Gini nih kalo yang muda jarang ngumpul sama yang
tua-tua di keluarga. Jadi nggak paham sama silsilah keluarga gedenya”.
“Iya, ane juga
gitu. Jarang diajakin juga sama yang senior-senior buat ngumpul. Jadi ya nggak
paham gitu”.
“Ane juga punya
saudara di kampus tetangga. Itu anaknya keponakan bapak dari emak ane”.
Temen-temen ane
mulai mikir ala jempalitan koprol. Lagi-lagi gara-gara kata-kata yang meluncur
dari salah satu bagian tubuh ane yang ada di kepala, yaitu mulut.
“Tapi ane belum
pernah ketemu. Dulu pernah sih dia minta nomor handphone ane lewat
temennya temen kita. Sayangnya belum sempet dia menghubungi ane, handphonenya
udah berpindah tangan di bus. Handphonenya raib di tangan para penajarah
bus saat perjalanan pulang ke kota halaman”.
“Oo.. Kalo ane
juga punya cerita tentang saudara. Lucu waktu itu”.
Si Yanti mulai
ganti bercerita.
“Ane punya
saudara dan dia baru kenal sama cewek. Tapi udah sama-sama suka. Niatnya mau
pacaran. Pas main ke rumah dosennya, dia ditanya alamat rumahnya. Setelah
ditelusuri, ternyata itu dosen adalah budhenya sendiri. Fakta lain yang juga
mengejutkan saudara ane adalah cewek yang ia suka adalah saudaranya”.
Jeng, jengg..
“Ya akhirnya
mereka mengurungkan perasaan mereka dan membatalkan niat untuk pacaran”.
“Kasihan”.
Huahahahahaha...
Sontak ane dan temen-temen ane ketawa jungkir balik.
“Eh bro, ane
juga punya cerita masalah persaudaraan”. Temen ane yang lain, yang tadinya cuma
diam dan menyimak kini mulai membuka mulutnya dan bersuara. Sebut saja dia Jay.
“Waktu itu
saudara ane terlibat perkelahian hingga ditangani oleh pihak yang berwajib.
Saudara ane diangkut ke kantor polisi dan orang tuanya dihubungi untuk mengurus
kasusnya. Waktu di kantor polisi, bapak dari saudara ane ini ketemu sama
saudaranya. Mereka saling nanya, ngapain di kantor polisi. Keduanya memiliki
jawaban yang sama, sekalipun nggak nyontek. Mereka sama-sama menjawab kalau anak
mereka terlibat perkelahian”.
Ane dan
temen-temen ane masih menyimak cerita ini dan mulai menebak akhir ceritanya.
Jay melanjutkan
lagi, “Setelah masuk dan menemui om polisi yang ngurus kasus anak mereka,
ternyata diketahui bahwa kedua anak merekalah yang beradu kekuatan. Jadi
tersangka perkelahian ini baru tahu kalau mereka ini bersaudara. Akhirnya atas
nama keluarga dan keberlangsungan persaudaraan mereka sama-sama memilih pulang
dan menyelesaikan masalah secara kekeluargaan. Semua berakhir damai”.
Huahahahahaha...
Ketawa kita meledak lagi. Bahkan tanpa komando, tawa itu meledak secara
bersamaan.
“Eh tapi ane juga punya cerita lagi”. Yanti memecah
tawa kita.
“Dulu ane juga
baru ketemu saudara ane waktu ke rumah saudara ane. Ane diberi tahu kalau ane
punya saudara yang berada di bawah atap sekolah yang sama. Dan parahnya itu
adalah orang yang paling ane nggak suka di sekolah. Jadi ya ane bersaudara
dengan orang yang paling ane nggak suka”.
Tertawalah kami
berjama’ah. Tanpa perintah, tanpa kompromi, otak kami merefresh
mesin-mesinnya. Tak banyak yang tahu apa yang sedang di pikirkan oleh otak
masing-masing dari kami. Tapi yang jelas dan paling kentara adalah kami
memikirkan tugas kuliah yang entah bagaimana dahsyatnya bisa membuat kami mikir
selama tujuh hari dalam seminggu. Kalau dikejar petugas keamanan dan ketertiban
masih bisa lari –secara fisik. Tapi kalo udah dikejar tugas, apa yang bisa
dilakukan selain memikirkan penyelesaiannya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar