Senin, 29 September 2014

INI SAUDARAKU, MANA SAUDARAMU?

Cerita hari ini adalah tentang saudara. Tadinya cuma ngobrol ngalor-ngidul nggak jelas sambil bahas tugas-tugas kuliah di kampus. Ternyata ada yang unik tentang topik yang kita bicarain. Setelah otak ane mencerna omongan temen-temen ane, ternyata kita sama-sama lagi ngomongin pengalaman pertemuan saudara yang telah lama tak diketahui. Sayangnya ane nggak inget gimana awal mula tercetusnya obrolan ini tapi yang jelas ini menjadi hiburan tersendiri bagi otak kami yang sedang dirundung tugas kuliah.
“Ternyata ane punya saudara jauh di sini. Tapi ane nggak tahu orangnya kayak gimana. Yang ane tahu rumahnya dekat sini, katanya sih dekatnya Linggarjati Baru situ”.
“Lhah, kok bisa nggak tahu?”.
Salah satu temen ane, panggil aja Yanti, mulai menanggapi.
“Iya, ya gara-gara saudara jauh itu tadi. Itu tu anaknya saudara tirinya bapaknya bapak ane”.
Temen-temen ane mulai garuk-garuk. Ada yang garuk-garuk lantai, garuk-garuk tembok bahkan ada yang garuk-garuk meja buat mikir. Mereka berusaha mencerna kalimat yang barusan loncat dari mulut ane.
“Bentar, bentar, itu gimana ceritanya? Kok muter-muter gitu?”
“Entahlah, ane juga nggak begitu paham. Gini nih kalo yang muda jarang ngumpul sama yang tua-tua di keluarga. Jadi nggak paham sama silsilah keluarga gedenya”.
“Iya, ane juga gitu. Jarang diajakin juga sama yang senior-senior buat ngumpul. Jadi ya nggak paham gitu”.
“Ane juga punya saudara di kampus tetangga. Itu anaknya keponakan bapak dari emak ane”.
Temen-temen ane mulai mikir ala jempalitan koprol. Lagi-lagi gara-gara kata-kata yang meluncur dari salah satu bagian tubuh ane yang ada di kepala, yaitu mulut.
“Tapi ane belum pernah ketemu. Dulu pernah sih dia minta nomor handphone ane lewat temennya temen kita. Sayangnya belum sempet dia menghubungi ane, handphonenya udah berpindah tangan di bus. Handphonenya raib di tangan para penajarah bus saat perjalanan pulang ke kota halaman”.
“Oo.. Kalo ane juga punya cerita tentang saudara. Lucu waktu itu”.
Si Yanti mulai ganti bercerita.
“Ane punya saudara dan dia baru kenal sama cewek. Tapi udah sama-sama suka. Niatnya mau pacaran. Pas main ke rumah dosennya, dia ditanya alamat rumahnya. Setelah ditelusuri, ternyata itu dosen adalah budhenya sendiri. Fakta lain yang juga mengejutkan saudara ane adalah cewek yang ia suka adalah saudaranya”.
Jeng, jengg..
“Ya akhirnya mereka mengurungkan perasaan mereka dan membatalkan niat untuk pacaran”.
“Kasihan”.
Huahahahahaha... Sontak ane dan temen-temen ane ketawa jungkir balik.
“Eh bro, ane juga punya cerita masalah persaudaraan”. Temen ane yang lain, yang tadinya cuma diam dan menyimak kini mulai membuka mulutnya dan bersuara. Sebut saja dia Jay.
“Waktu itu saudara ane terlibat perkelahian hingga ditangani oleh pihak yang berwajib. Saudara ane diangkut ke kantor polisi dan orang tuanya dihubungi untuk mengurus kasusnya. Waktu di kantor polisi, bapak dari saudara ane ini ketemu sama saudaranya. Mereka saling nanya, ngapain di kantor polisi. Keduanya memiliki jawaban yang sama, sekalipun nggak nyontek. Mereka sama-sama menjawab kalau anak mereka terlibat perkelahian”.
Ane dan temen-temen ane masih menyimak cerita ini dan mulai menebak akhir ceritanya.
Jay melanjutkan lagi, “Setelah masuk dan menemui om polisi yang ngurus kasus anak mereka, ternyata diketahui bahwa kedua anak merekalah yang beradu kekuatan. Jadi tersangka perkelahian ini baru tahu kalau mereka ini bersaudara. Akhirnya atas nama keluarga dan keberlangsungan persaudaraan mereka sama-sama memilih pulang dan menyelesaikan masalah secara kekeluargaan. Semua berakhir damai”.
Huahahahahaha... Ketawa kita meledak lagi. Bahkan tanpa komando, tawa itu meledak secara bersamaan.
“Eh tapi  ane juga punya cerita lagi”. Yanti memecah tawa kita.
“Dulu ane juga baru ketemu saudara ane waktu ke rumah saudara ane. Ane diberi tahu kalau ane punya saudara yang berada di bawah atap sekolah yang sama. Dan parahnya itu adalah orang yang paling ane nggak suka di sekolah. Jadi ya ane bersaudara dengan orang yang paling ane nggak suka”.

Tertawalah kami berjama’ah. Tanpa perintah, tanpa kompromi, otak kami merefresh mesin-mesinnya. Tak banyak yang tahu apa yang sedang di pikirkan oleh otak masing-masing dari kami. Tapi yang jelas dan paling kentara adalah kami memikirkan tugas kuliah yang entah bagaimana dahsyatnya bisa membuat kami mikir selama tujuh hari dalam seminggu. Kalau dikejar petugas keamanan dan ketertiban masih bisa lari –secara fisik. Tapi kalo udah dikejar tugas, apa yang bisa dilakukan selain memikirkan penyelesaiannya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar